Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 8 - Baby Oil


__ADS_3

"Hahaha, Kak Devin mau aja deh kena prank sama Yura" ucap Anyuna sambil terkikik geli.


Hanna pun ikut tertawa terbahak - bahak karena melihat Devin ketakutan karena menyangka Anyura adalah Hantu karena wajahnya yang berwarna hitam.


"Apa katamu? Prank?" jawab Devin dengan ekspresi terkejut.


"Iya, Yura ingin mengeprank Kak Devin tadi" ucap Anyura sembari tertawa jahat.


Bagaikan tersambar petir di siang hari. Kini Devin tertunduk lemas dengan wajah yang berwarna pucat pasi.


Karena tak tega dengan sahabatnya, Chalista mengampiri Devin untuk menenangkannya. Rupanya dia sangat syok dengan pengakuan Kedua Saudara Kembar tersebut.


"Kenapa wajah kamu pucat Vin?" tanya Chalista dengan nada khawatir.


"A aku nggak nyangka i ini hanya prank" ucap Devin dengan terbata - bata.


"Udahlah Vin, nggak usah di hiraukan" hibur Chalista dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Devin mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Chalista Indriana Safitri, sahabat yang sudah tidak terlihat semenjak seminggu yang lalu.


"Terima kasih Lista, kamu sahabat terbaik untukku dan Aurel" ucap Devin sembari memeluk Chalista di hadapan keluarganya.


Aurelia Kimmy Handoko adalah sahabat Chalista dan Devin. Aurelia merupakan gadis tercentil dan terganjen di kelas mereka.


"Hmm" Devan bergumam sebagai pertanda dia tidak menyukai pemandangan yang ada di depannya.


"Awas saja kamu Devin, berani - beraninya memeluk Calon Istriku" batin Devan yang merasa cemburu.


Chalista menjadi salah tingkah karena deheman Devan tadi. Berbeda jauh dengan Devin yang memunculkan ekspresi kekesalannya kepada sang Kakak.


"Eh" ucap Chalista sembari melepaskan pelukan persahabatannya.


Karena Chalista melepaskan pelukannya, Devin pun ikut melepaskan pelukan persahabatan mereka. Uh, rasanya sangatlah hangat. Hanya saja kurang personil, yaitu Aurel si gadis centil yang cantik membahana.


Devin tersenyum mengejek kepada Devan. Devin tahu kalau Kakaknya cemburu jika Calon Istrinya di peluk olehnya.


"Hahaha, dasar Kakak ini. Cemburu kok terang - terangan. Ketahuan sekali kalau Kakak sedang cemburu kepadaku" ucap Devin sembari terkikik geli.


Devan pun langsung terbakar api amarah karena ulah Adiknya yang mengatakan jika dirinya sedang cemburu kepada Adiknya sendiri.


"Apa benar aku sekarang sedang cemburu kepada Devin?" tanya Devan di dalam hatinya.


"Dasar Adik sialan, bisa - bisanya kamu mengejekku saat ini. Akan aku tarik semua fasilitas yang ada pada dirimu saat ini" ucap Devan dengan nada penuh ancaman.


"Lakukanlah, emangnya Kakak bisa apa? Papa masih memegang kendali perusahaan kan?" ucap Devin sembari tersenyum mengejek kepada Devan.


"Papa sudah tidak lagi memegang kendali di perusahaan. Kini Papa memberikan kendalinya kepadaku. Iya kan Pa?" ucap Devan sembari meminta persetujuan kepada sang Papa.


"Benar kata Devan. Papa memberikan kendali perusahaan kepada Devan karena nanti Devan akan mempunyai kewajiban menafkahi Istrinya. Walaupun Devan belum menikah, Papa akan menyerahkan perusahaan padanya sekarang" ucap Dylan sembari tersenyum senang.


"Apa?" ucap Devin yang terkejut.


"Kapan Papa mengatakan hal itu kepada Kakak?" tanya Devin masih dengan ekspresi terkejutannya.


"Sejak kedatangan Chalista ke rumah ini. Papa sempat berbicara dengan Devan secara pribadi di ruang kerja papa" ucap Dylan dengan santainya.

__ADS_1


"Sepertinya aku sangat sial hari ini" ucap Devin sembari mengacak - acak rambutnya dengan frustasi.


"Bagaimana Adikku, apa kamu masih mau menantang Kakak lagi?" tanya Devan dengan nada mengejek.


"Ah, sudahlah. Lupakan saja" ucap Devin dengan frustasi.


"Rasakan itu Adikku. Aku bisa mengobrak - abrik jiwamu dalam satu detik" batin Devan sembari tersenyum licik.


Adhitama menggeleng - gelengkan kepalanya sendiri melihat kedua Cucu laki - lakinya yang sangat mirip dengan Papanya. Bahkan sifat kedua Cucu laki - lakinya ini menurun dari Adhitama sendiri.


"Hahaha, lihatlah Dylan. Kedua Anakmu sangat mirip sifatnya denganmu" ucap Adhitama sembari tertawa kecil.


Dylan langsung menatap wajah sang Papa dengan tatapan penuh dengan amarah.


"Hei Papa, sifat kita itu sudah turun - menurun secara genetik. Itu semua di awali dengan Papa yang mempunyai sifat menyebalkan" ucap Dylan dengan penuh kekesalan.


"Oh iya? Jadi kamu mengaku kalau kamu memiliki sifat yang menyebalkan?" ucap Adhitama yang sengaja menggoda putra pertamanya.


"Tidak" jawab Dylan dengan santai.


"Dasar Anak durhaka" hardik Adhitama kepada putra pertamanya.


Dylan langsung membulatkan matanya ketika Adhitama mengatakan dirinya Anak durhaka.


"Ah Papa ini, cabutlah kata - katamu tadi Pa" rengek Dylan kepada sang Papa.


Devan tertawa terbahak - bahak mendengarkan rengekan sang Papa yang memohon agar Adhitama mencabut kembali kata - katanya.


"Hahaha, Papa terlihat sangat lucu. Lucu seperti Anak kucing yang sedang meminta makan" ucap Devan sembari tertawa terbahak - bahak.


Dylan membulatkan kedua matanya ketika mendengarkan penuturan Anak pertamanya yang sangat menyebalkan.


Hanna dan Serena menggelengkan kepalanya melihat Dylan yang sangat mudah tersulut oleh amarah. Sepertinya sifat Dylan dan Devan telah turun - temurun karena genetik.


"Suami kok hobby banget berantem sama Anaknya sendiri. Cemburu juga sama Anaknya sendiri karena mereka lebih menguasai diriku dari pada dirinya. Papa macam apa itu? Tidak malu sekali dengan Anak dan Calon Mantunya" gerutu Serena di dalam hatinya.


"Hei Dylan, berhentilah berantem dengan Anakmu sendiri. Kamu tidak mau kan Calon Mantumu pergi?" tanya Hanna yang di balas gelengan kepala oleh Dylan.


"Maka dari itu, berhentilah berantem dengan Anakmu sendiri. Kalau tidak, kamu akan merasakan akibatnya dari ulahmu nanti" ucap Hanna dengan nada penuh ancaman.


"Ampun Ma" rengek Dylan seperti Anak kecil yang meminta permen kepada orang tuanya.


Serena merasa tidak enak kepada Calon Menantunya karena kelakuan Dylan dan Devan yang seperti Tom and Jerry.


"Em Lista sayang, maafkan kelakuan Papa dan Devan ya" ucap Serena yang mengelus lembut puncak kepala Chalista.


"Iya Ma" ucap Chalista sembari tersenyum lembut kepada Calon Mama Mertuanya.


Devan menjadi cemburu kepada Mamanya karena dia bisa leluasa mengelus puncak kepala Chalista, Calon Istrinya.


"Ih Mama ini, enak sekali dia bisa leluasa mengelus puncak kepala Chalista" gerutu Devan di dalam hatinya.


Devin yang menyadari tingkah Kakaknya yang sedang cemburu kepada Mama mereka pun langsung menepuk lembut kedua bahu Devan.


"Kyaaaa, Kak Devan cemburu" teriak Anyuna dan Anyura dengan histeris.

__ADS_1


Devan langsung melirik kedua Sepupu Kembarnya itu dengan tatapan tajamnya. Sontak saja hal itu membuat nyali Anyuna dan Anyura ciut.


"Maaf Kak" cicit Anyuna dan Anyura dengan menunduk.


"Hahaha, Kakak harus bersabar ya. Nanti kalu udah halal kan bebas mau ngapain aja" ucap Devin sembari tertawa kecil.


"Iya Van, nanti kalau udah halal bebas ngapain aja. Jangan lupa gas polnya ya" ucap Dylan kepada Putra pertamanya sembari menepuk pelan kedua bahu Devan.


"Buatkan Mama Cucu yang banyak" teriak Serena dengan suaranya yang cetar membahana.


Devan hanya diam saja dengan memasang ekspresi wajahnya yang datar. Berbeda dengan Chalista yang wajahnya sudah bersemu merah karena malu.


"Sangat menggemaskan sekali jika kamu tersipu malu Chalista" batin Devan sembari tersenyum.


Hanna, Adhitama, Demian, dan Amanda tersenyum senang melihat keakraban keluarga Melviano yang sedang berkumpul. Mereka berharap suasana harmonis keluarga Melviano akan tercipta setiap saat.


Tiba - tiba, Anyura teringat tentang wajahnya yang berwarna hitam. Anyura merasa panik sendiri karena wajahnya yang belum di bersihkan.


"Aduh, bagaimana ini? Wajahku perlu di bersihkan sekarang juga. Namun Micellar Waterku sudah habis" teriak Anyura dengan histeris.


"Mama Rena, Mama punya Micellar Watter?" tanya Anyura dengan tatapan penuh harap.


"Emm, Micellar Water punya Mama sudah habis sayang" ucap Serena dengan hati - hati.


"Aaaa, bagaimana ini?" teriak Anyura dengan histeris.


"Kak Yuna, apakah Micellar Watermu masih ada?" tanya Anyura dengan mata puppy eyesnya.


"Sudah habis" jawab Anyuna dengan santai.


"Aaaaa, tidaaak" teriak Anyura dengan histerisnya.


"Namun Kakak masih mempunyai Baby Oil. Itu bisa di gunakan untuk membersihkan wajahmu. Baby Oilnya ada di kamar kita" ucap Anyuna sembari menatap Adiknya yang penampilannya persis seperti gembel.


"Aaaa, untung saja Kakak masih mempunyai Baby Oil" batin Anyura sembari menghembuskan nafas dengan lega.


"Kakak, tolong ambilkan Baby Oilnya" ucap Anyura dengan tatapan penuh harap.


"Suruh saja Kak Devan untuk menemani Kakak Ipar mengambilnya" ucap Anyuna dengan santainya.


"Ide bagus" ucap Anyura sembari tersenyum senang.


"Anak jenius. Kamu tahu sekali situasinya" puji Devan dalam hatinya.


"Ayo sayang" ucap Devan yang langsung menggenggam tangan Chalista.


"Hei tampan, kalian masih belum halal" teriak Hanna yang masih duduk di atas kursi rodanya.


Tanpa menghiraukan ucapan sang Oma, Devan malah semakin mengeratkan genggamannya. Seakan tak mau terpisah dengan Chalista.


Devan pun menemani Chalista untuk mengambil Baby Oil yang berada di kamar Anyuna dan Anyura.


Sesampainya di sana, tangan Chalista dan Devan tidak sengaja bersentuhan ketika akan mengambil Baby Oilnya.


"Ah, maafkan aku Kak" ucap Chalista sembari menarik tanganya yang berada di bawah tangan Devan.

__ADS_1


Belum sempat tangan Chalista tertarik sempurna, pintu kamar sudah di buka orang dari luar.


Krek


__ADS_2