
"Dasar anak kurang ajar, Papanya lagi di siksa bukannya malah tolongin tapi malah kasih dukungan ke Mamanya" batin Dylan sembari menatap tajam wajah Putra Keduanya.
Devin yang tahu sang Papa sedang mengumpati dirinya pun hanya tersenyum senang sembari sesekali memainkan kedua alisnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Papa, Devin tahu kok kalau Papa itu sedang mengumpati Devin. Orang tampan mah begini banyak yang ngumpatin. Apalagi ngomongin, iya kan? Devin kan laki - laki tertampan sejagad raya" batin Devin sembari menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan.
Aduh, babang gantengnya Author ini narsis banget sih. Udah tahu dirinya tampan, tapi jangan narsis kayak gitu banget. Nanti Authornya kepengen cowok tampan kayak babang - babang gantengnya Author. Huaaa, jiwa jombloku tersiksa.
Serena masih menjewer kedua telinga sang Suami tanpa ampun. Serena sudah di buat naik darah oleh sang Suami, kini giliran Serena yang membalaskan dendamnya kepada sang Suami.
"Aduh, udah deh Ma. Papa kesakitan" rengek Dylan sembari memasang ekspresi wajah memelas di wajahnya yang tampan.
Serena langsung membulatkan kedua bola matanya mendengar rengekan dari sang Suami. Serena semakin menguatkan jewerannya di kedua telinga sang Suami. Sontak saja hal ini semakin membuat Dylan, sang Suami mengaduh kesakitan.
"Aduh, Mama ini benar - benar galak banget ya" ringis Dylan sembari mencoba melepaskan kedua tangan sang Istri yang masih menempel di kedua telinganya.
Tanpa berkata - kata, Serena langsung melepaskan kedua tangannya yang tadinya sedang asyik menjewer kedua telinga sang Suami.
"Nah, gitu dong. Ini baru Mama yang baik" ucap Dylan sembari memberikan kedua jempolnya kepada sang Istri.
Serena membuang pandangannya ke segala arah. Rasanya saat ini Serena ingin muntah karena melihat wajah sang Suami yang di nilainya sangat menyebalkan itu.
"Nanti malam tidak ada jatah! Dan Papa harus tidur di luar" ucap Serena sembari berjalan menjauhi sang Suami yang kini hatinya sedang cenat - cenut.
Sebelum sang Mama pergi menjauh, Dylan sebenarnya sudah berusaha untuk mencegat sang Istri agar tidak menjauh darinya. Namun apalah daya, jika sang Istri di cegat olehnya maka sang Istri akan marah besar padanya nanti.
"Mama" panggil Devan kepada sang Mama yang sedang berjalan mendekati sang Oma yang sedang berada di depan kompor.
Karena panggilan Putra Pertamanya, sontak saja Serena langsung mendekati Devan, Putra Pertamanya.
"Ada apa sayang?" tanya Serena sembari berjalan mendekati Putra Pertamanya.
"Hari ini Devan dan Chalista akan fitting baju. Tapi Devan maunya pagi aja Ma. Devan mau mengerjakan pekerjaan Devan biar nantinya nggak menumpuk" ucap Devan sembari tersenyum lembut kepada sang Mama.
Kedua bola mata Serena langsung berbinar mendengarkan nama 'Chalista' yang tak lain adalah nama Calon Menantunya.
"Baiklah, nanti Mama akan menyusul kalian. Kalian fitiing bajunya di butik milik Aunty Mitha saja ya" ucap Serena sembari menyunggingkan senyuman gembira di wajahnya yang cantik.
Sasmitha Margareth adalah salah satu sahabat karib dari Serena. Kebetulan Sasmitha adalah pemilik butik paling terkenal dengan model dan kualitas pakaian yang ada di butiknya. Butik milik Sasmitha termasuk salah satu butik terbaik di Indonesia.
__ADS_1
"Baiklah Ma" jawab Devan dengan senyuman lembut di wajahnya yang tampan.
Baru saja Serena ingin melangkahkan kakinya, namun Serena teringat akan suatu hal yang harus di lakukan oleh Putra Pertamanya dan Calon Menantunya nanti.
Serena pun kembali melangkahkan kakinya mendekati Devan, yang tak lain adalah Putra Pertamanya.
"Nanti kamu sama Calon Mantu Mama fitting baju buat baju akad nanti, baju prewedding, sama sekalian baju buat resepsi pernikahan kalian nanti. Baju buat akad nikahnya satu, baju buat preweddingnya dua, baju buat resepsi pernikahan nanti dua. Jadi semuanya lima baju. Oke? " ucap Serena dengan senyuman dan juga binar di kedua matanya.
Devan mengerutkan dahinya mendengarkan penuturan dari sang Mama. Bisa di bayangkan betapa lamanya mencari lima baju sekaligus. Kalau perempuan memilih baju pasti akan plin - plan. Mereka sangat susah dalam hal memilih pakaian, apalagi gaun untuk akad nikah, prewedding, dan resepsi pernikahan ini yang di cari sebanyak lima buah gaun.
"Banyak banget Ma. Lama pasti nanti Chalista milihnya" gerutu Devan sembari memanyunkan bibirnya.
Sontak saja kelakuan Devan mengundang tawa orang - orang yang melihatnya. Serena, Dylan, dan Devin sampai tertawa terbahak - bahak karena kelakuan Devan yang seperti anak - anak. Bahkan Serena tidak tahan untuk tidak menggoda Putra Pertamanya itu.
Babang ganteng, awas nanti di godain sama Rena. Mending Author ngumpet di bawah kasur aja deh. Mama Rena pasti kalau udah menggoda Babang gantengnya Author ini gak akan ada habisnya.
"Kenapa, hmmm? Mau cepat - cepat nikah?" tanya Serena dengan nada menggodanya sembari mengedipkan sebelah matanya.
Mendengar perkataan sang Mama yang terlihat sangat menggodanya itu makin membuat Devan memanyunkan bibirnya. Mungkin sekarang bibir Devan sudah manyun lima centi meter.
"Bukan gitu Ma. Devan kan paham sama perempuan kalau milih baju itu lama banget. Mama aja satu gaun milihnya dua jam" ucap Devan sembari tersenyum getir menatap wajah cantik milik sang Mama.
Serena tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tertawa. Serena bahkan terus tertawa dengan terbahak - bahak karena ucapan Putra Pertamanya itu.
"Aduh, aduh" ringis Serena sembari memegang perutnya yang kesakitan karena kebanyakan tertawa tadi.
"Mama kenapa?" tanya Dylan dengan ekspresi wajahnya yang menyiratkan betapa besarnya kekhawatiran yang di berikan kepada Serena, sang Istri.
Serena langsung menatap wajah sang Suami dengan tatapan tajamnya. Entahlah, saat ini Serena sangat muak melihat wajah tampan mikik sang Suami yang di nilainya sangat menyebalkan.
"Diam!" ucap Serena dengan nada galaknya dan ekspresi wajahnya yang sangat menakutkan.
Seketika Dylan tak punya nyali untuk menatap apalagi sekedar berkata 'Sayang' kepada sang Istri. Di dalam hatinya, Dylan bergidik ngeri melihat sang Istri yang awalnya menggemaskan seperti anak kucing kini sudah berubah menjadi singa betina yang sedang bersiap untuk memakan mangsanya.
"Ya ampun, begini banget sih nasib ku. Niatnya mau membujuk tapi apalah dayaku. Bukannya mendapatkan maaf tapi malah mendapatkan omelan sebelum meminta maaf. Besar banget sih konsekuensinya kalau nyakitin hati perempuan, apalagi Istri sendiri" batin Dylan sembari menatap langit - langit rumah keluarga Melviano dengan senyuman getir yang tersungging di wajahnya.
Serena masih bisa melihat wajah sang Suami yang kini sedang menatap langit - langit rumah keluarga Melviano dengan senyuman getir yang tersungging di wajahnya.
"Rasakan itu Suamiku sayang. Kamu harus menerima konsekuensinya jika bermain - main dengan hati perempuan. Apalagi jika perempuan itu adalah Istrimu sendiri" batin Serena sembari tersenyum senang.
__ADS_1
Setelah puas melihat wajah sang Suami yang kini sedang menatap langit - langit rumah keluarga Melviano dengan senyuman getir yang tersungging di wajahnya yang tampan, kini Serena beralih untuk menatap wajah tampan milik Devan yang tak lain adalah Putra Pertamanya.
"Devan, dengarkan Mama. Sepertinya Chalista itu tidak seperti Mama yang susah untuk memilih beberapa gaun" ucap Serena sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Nanti kamu dan Calon Mantu Mama pilihlah gaun dan tuxedo yang mewah untuk resepsi pernikahan kalian nanti. Kalau untuk akad nikah boleh yang natural atau tidaj terlalu mewah. Kalau untuk prewedding cari gaun dan tuxedo yang agak mewah. Oke?" ucap Serena sembari tersenyum lembut menatap wajah tampan milik Putra Pertamanya.
"Oke" jawab Devan dengan santai sembari menatap lekat wajah cantik milik sang Mama.
"Nanti Mama akan telpon Aunty Mitha biar dia menyiapkan gaun dan tuxedo terbaik yang ada di butiknya" ucap Serena sembari tersenyum lembut menatap wajah tampan milik Putra Pertamanya.
Devan hanya menjawab perkataan sang Mama dengan anggukan kecil dari kepalanya.
"Ayo kita sarapan dahulu. Makanan yang Mama, Oma, dan Kedua Bibi masak sudah siap di atas meja makan" ajak Serena sembari berjalan mendahului Ketiga laki - laki yang sangat dia cintai di dalam hidupnya.
Dylan, Devan, Devin, menyusul langkah Serena yang sekarang telah duduk di kursi milinya.
Sesampainya di sana, Dylan langsung menduduki kursi miliknya yang berada di samping kursi milik sang Istri.
Begitu juga dengan Devan dan Devin yang langsung duduk di kursi milik mereka masing - masing yang terletak bersebelahan.
Serena membulatkan kedua bola matanya melihat sang Suami yang tiba - tiba saja duduk di kursi miliknya yang terletak di sebelah kursi milik Serena.
"Siapa yang menyuruh Papa duduk di situ? Sana pindah di kursinya Devan. Mama mau duduk sama Devan saja" ucap Serena sembari memberikan tatapan tajamnya kepada sang Suami.
Dengan terpaksa, Dylan pindah dari kursi miliknya ke kursi Putra Pertamanya. Dylan tidak ingin membuat permasalahannya dengan sang Istri bertambah rumit. Maka dari itu Dylan menurut saja dengan perkataan sang Istri.
Sama dengan sang Papa, Devan pun pindah dari kursi miliknya ke kursi milik sang Papa dengan terpaksa. Devan tahu kalau dirinya duduk di dekat sang Mama akan memudahkan untuk sang Mama menggoda dirinya.
Sesampainya di kursi milik Devan, Dylan langsung mendudukkan dirinya. Begitu juga dengan Devan yang langsung menduduki kursi milik sang Papa.
"Pa" panggil Devin ketika sang Papa telah duduk di kursi milik sang Kakak.
"Apa? " jawab Dylan dengan ketus.
"Papa sama laki - laki yang sudah beristri di luaran sana itu sama saja" ucap Devin dengan sedikit berbisik.
"Apanya yang sama? Perkasanya kan?" tanya Dylan masih dengan nada ketusnya.
"Bukan. Papa sama laki - laki yang sudah beristri di luaran sana itu sama - sama ISTI" ucap Devin dengan sedikit berbisik.
__ADS_1
"Apaan itu?" tanya Dylan masih dengan nada ketusnya.
"ISTI adalah singkatan dari Ikatan Suami Takut Istri" ucap Devin dengan sedikit berbisik sembari tertawa kecil.