
"Udah belum nih membuat kericuhannya?" sindir Devan kepada sang Aunty, sang Uncle, dan Kedua Sepupu Kembarnya.
Anyura langsung memalingkan tatapannya dari yang semula menatap wajah sang Mama, kini Anyura menatap wajah Kakak Sepupunya yang sangat menyebalkan.
"Ricuh, ricuh dari hongkong lah. Kalau nggak suka silahkan menyingkir" ucap Anyura sembari menatap wajah Kakak Sepupunya dengan tatapan jengah.
"Hahaha, oke oke, Kakak bakalan pergi kok. Soalnya udah ngantuk nih" ucap Devan sembari tertawa kecil.
Devan melangkahkan kakinya dari yang semula berada di ruang keluarga kini Devan berada di dekat tangga yang akan membawanya ke kamarnya.
Perlahan namun pasti, Devan melangkahkan kakinya menapaki satu per satu anak tangga yang akan membawanya ke kamarnya. Kini Devan telah sampai di depan pintu kamarnya.
Sesampainya di depan pintu kamarnya, Devan langsung membuka pintu kamarnya. Devan pun melangkahkan kakinya untuk memasuki kamarnya.
Sebelum menaiki kasur king size miliknya untuk beristirahat, Devan terlebih dahulu memasuki kamarnya untuk menyikat giginya serta mencuci tangannya terlebih dahulu.
Setelah menyikat giginya dan mencuci tangannya Devan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya.
Devan segera memposisikan guling di pelukannya. Devan juga menaikkan selimutnya setinggi dadanya. Tak lupa Devan berdoa terlebih dahulu sebelum berkelana memasuki alam mimpi.
"Hmm, lelahnya hari ini" batin Devan sembari memejamkan matanya dengan perlahan.
Tak butuh waktu lama untuk Devan berkelana memasuki alam mimpinya, kini Devan sudah terlelap dengan memeluk gulingnya dengan erat.
Devan terlihat sangat manis sekali saat tidur. Karena Devan tidak bergerak saat tidur, jadi Devan seperti bayi jika sedang tertidur.
Unyu - unyu, Authornya gemessh nih. Pengen cubit babang gantengnya Author. Ada yang punya stok babang ganteng semacam Devan nggak nih? Authornya jomblo genks. Hahaha.
Keesokan paginya
"Devaaan, bangun tampannya Mama. Udah pagi nih. Cepetan mandi sana. Nanti langsung ke ruang Shalat ya. Papa, Mama, sama Devin udah nungguin nih" teriak Serena sembari menggedor - gedor pintu kamar Putra Pertamanya.
Sontak saja Devan langsung membuka matanya mendengar teriakan Serena yang sangat cempreng sehingga mengakibatkan gendang telinga siapa pun yang mendengarkannya akan merasa kesakitan.
Dosa nggak nih kalau Authornya mau ketawa?
"Umm, sudah pagi rupanya" batin Devan sembari mengucek - ngucek kedua matanya.
Eitss, emangnya pakaian ya pakai di kucek - kucek segala? Hehehe.
"Devaaan, bangun nggak. Nanti kalau kamu nggak bangun nanti Mama bakalan sewa mobil penggusur buat meruntuhkan dinding kamarmu" teriak Serena dengan nada mengancam.
__ADS_1
"Mama ini bodoh apa bodoh sih? Masa Mama mau sewa mobil penggusur buat meruntuhkan dinding kamarku? Yang ada nanti nih rumah bakalan hancur duluan sebelum meruntuhkan dinding kamarku" batin Devan sembari tertawa geli.
Serena masih bisa mendengar suara tawa yang berasal dari Putra Pertamanya. Kamar Devan tidak memakai peredam suara ketika Devan sedang tidur.
"Hei bocah kecil, kenapa kamu malah tertawa seperti itu? Cepetan mandi dan segera menemui Mama, Papa, dan Adikmu di ruang Shalat" teriak Serena sembari menggedor - gedor pintu kamar Putra Pertamanya.
Tanpa berkata - kata, Devan langsung membuka pintu kamarnya untuk membuktikan bahwa dia telah bangun dari tidurnya.
Krek
Devan langsung memberikan senyuman yang membuat dirinya semakin tampan dan mempesona. Pastinya akan membuat para wanita meleleh karena senyuman yang memancarkan ketampanan dan betapa mempesonanya Devan.
"Ini udah bangun Devannya Ma" ucap Devan sembari memberikan senyuman yang memancarkan ketampanan dan betapa mempesonanya Devan.
Serena menyunggingkan senyuman kikuknya. Ah, rasanya Serena ingin meleleh sekarang karena senyuman Devan yang tak lain adalah Putra Pertamanya sendiri. Mana lemari pendinginnya? Rasanya Serena ingin membekukan dirinya di lemari pendingin setelah dirinya meleleh karena senyuman Devan, Putra Pertamanya sendiri.
"Nah, kalau begini kan kelihatan tampan banget. Cepetan mandi sana. Nanti segera ke ruang Shalat ya. Mama, Papa, sama Devin tunggu di sana ya" ucap Serena sembari tersenyum kikuk.
"Lah, kalau Mamanya masih di sini gimana Devan mau mandinya coba?" tanya Devan dengan senyuman mengejeknya.
"Ehe, kamu mengusir Mama ya. Baiklah, kamu segera mandi. Dan jangan lama - lama!" ucap Serena dengan nada galak dan mengancamnya.
"Baiklah" jawab Devan sembari melangkahkan kakinya memasuki kamarnya kembali.
Setelah kepergian sang Mama, Devan segera bergegas memasuki kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
Lima belas menit kemudian, keluarlah Devan dari kamar mandinya dengan mengenakan stelan baju koko dan juga sarung tentunya. Tak lupa Devan mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah Shalat Subuh secara berjamaah dengan Papa, Mama, dan Adiknya.
Devan segera mengambil peci miliknya yang masih berada di dalam lemari. Devan pun segera memakaikan peci miliknya di kepalanya.
Sebelum pergi dari kamarnya, Devan masih menyempatkan untuk melihat penampilannya di cermin. Kan malu pastinya kalau penampilan Devan acak - acakan.
"Tampannya diriku" gumam Devan ketika melihat pantulan dirinya di cermin yang ada di kamarnya.
Eitts, babang ganteng ini kok narsis amat ya? Apa Authornya yang salah membuat Devan menjadi sesosok yang tampan dan menjadi primadona bagi seluruh wanita di Indonesia ini. Haduh.
Devan segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya. Devan pun membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Setelah keluar dari kamarnya, tak lupa untuk Devan menutup pintu kamarnya kembali.
Devan berjalan menuruni satu per satu anak tangga yang akan membawanya ke lantai dasar dengan perlahan.
Sesampainya di lantai dasar, Devan segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang Shalat yang ada di dekat tangga.
__ADS_1
Terlihatlah di dalam sana Serena dan Hanna sudah siap dengan memakai mukenah berwarna putih di tubuhnya. Tak lupa dengan Dylan, Devin, dan Adhitama yang mengenakan stelan baju koko dan sarung. Tak ketinggalan dengan peci berwarna hitam yang bertengger manis di kepala Dylan, Devan, dan Adhitama.
Devan pun segera memasuki ruang Shalat karena semua orang sudah siap dengan perlengkapan Shalatnya masing - masing. Devan tidak ingin membuat sang Mama, sang Papa, sang Oma, sang Opa, dan tentu saja sang Adik menunggunya.
"Hei Kak, dari mana saja Kakak ini? Kakak terlihat seperti anak gadis tahu. Mandi saja lama sekali" sindir Devin dengan memberikan tatapan tajamnya kepada sang Kakak.
Sontak saja Devan yang mendengar perkataan sang Adik pun membuatnya naik darah dan tentu saja membulatkan kedua bola matanya. Tak lupa Devan membalas tatapan tajam yang di layangkan oleh sang Adik.
"Dalam mimpimu" ucap Devan sembari menatap sang Adik dengan tatapan tajamnya.
Rupanya tatapan Devan sukses membuat sang Adik ketakutan. Entahlah, tiba - tiba saja Devin kehilangan nyalinya karena melihat tatapan tajam yang di lontarkan oleh sang Kakak.
"Huhu, ampunilah Hamba Ya Allah. Hamba sangat takut dengan tatapan Kak Devan yang seperti ingin memangsaku dengan hidup - hidup" batin Devin yang meronta - ronta.
Devan menyunggingkan senyuman misterius di wajahnya. Devan tahu sang Adik sedang ketakutan. Dan bahkan batinnya sekarang sedang meronta - ronta.
"Hei bocah kecil, kamu tidak dapat membohongiku. Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Saat kamu mengetahui aku sudah mengetahui isi pikiran dan isi hatiku pasti kamu akan berkata 'Apakah kamu ini peramal atau dukun?' Tentu saja benar apa yang aku ketahui dari dirimu, bocah kecil" batin Devan sembari menyunggingkan senyuman misteriusnya.
Sementara itu Dylan yang sudah bersiap di posisi imam harus berdehem untuk membuat Kedua Putranya tersadar bahwa sekarang bukan saatnya untuk saling bertatapan tajam seperti itu. Sekarang ini saatnya untuk melaksanakan ibadah Shalat Subuh secara bersamaan.
"Ehem" deheman Dylan dengan suara yang agak keras.
Deheman dari Dylan dengan suara yang agak keras sontak saja membuat Devan dan Devin tersadar dari diamnya.
Devan dan Devin langsung menoleh ke arah sumber suara deheman tersebut yang tak lain adalah Dylan, Papa mereka sendiri.
"Ayo sekarang kita melakukan ibadah Shalat Subuh secara bersamaan" ajak Dylan dengan senyuman lembutnya kepada Kedua Putranya.
Tanpa berkata - kata, Devan dan Devin langsung mengambil posisi makmum laki - laki.
Setelah memastikan semuanya telah siap, Dylan akan memulai melakukan ibadah Shalat Subuh secara berjamaah dengan Mama, Papa, Istri, dan Kedua Putranya.
Baru saja Dylan akan memulai melakukan ibadah Shalat Subuh secara berjamaah dengan Mama, Papa, Istri, dan Kedua Putranya, sang Istri malah mengacaukannya dengan umpatan yang di lontarkan kepada Kedua Putranya.
"Kalian ini nggak di rumah, di mana aja pasti kerjaannya berantem mulu. Kalau mau berantem Mama beliin ring tinju buat kalian berantem. Jadi berantem - berantem bisa jadi bakat" ucap Serena dengan galak sembari menatap Kedua Putranya dengan tatapan tajamnya.
Devan dan Devin saling berpandangan sejenak. Kemudian Devan memberikan satu kode kepada sang Adik. Sepertinya Devan dan Devin akan memulai kejahilannya lagi.
Setelah memberikan dan menerima kode satu sama lain, Devan dan Devin langsung menatap wajah sang Mama yang ada di barisan makmum perempuan.
"Ma, Mama tahu nggak sifat Mama itu kayak gimana?" tanya Devin sembari menaik - turunkan alisnya. Rupanya Devin sangatlah ahli dalam hal merayu - rayu.
__ADS_1
"Apa" jawab Serena dengan ketus sembari mengalihkan pandangannya ke segala Arah.
"Mama itu galak" ucap Devan dan Devin sembari memasang ekspresi konyol di wajah tampan mereka.