Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 28 - Keluarga Gesrek


__ADS_3

"Heh, apa maksudmu itu bocah - bocah nakal?" tanya Serena dengan nada galaknya dan ekspresi wajahnya yang sangat menakutkan.


Sontak saja Devan dan Devin langsung bergidik ngeri karena melihat nada bicara dan ekspresi wajah sang Mama yang sangat galak dan menakutkan.


"Haish, Mama ini seperti Kak Ros saja. Kenapa Mama bisa jadi galak begitu?" batin Devin sembari bergidik ngeri melihat nada bicara dan ekspresi sang Mama yang sangat galak dan mengerikan.


Dasar babang ganteng, udah gede tontonannya masih Upin dan Ipin yang masih taman Kanak - Kanak dan nggak gede - gede.


Ada yang mau jadi pacarnya babang ganteng Devin ini kalau tontonannya Upin dan Ipin? Ganteng - ganteng tapi kalau tontonannya Upin dan Ipin kan namanya bocah. Iya kan?


"Satu, dua, dan tiga. Lihatlah Mama, dirimu terlihat seperti bom yang siap meledak kapan saja. Selain itu, Mama juga terlihat seperti singa betina yang akan memakan mangsanya" batin Devan sembari tersenyum getir karena melihat nada bicara dan ekspresi sang Mama yang terlihat galak dan menakutkan.


Serena yang tahu dirinya sedang di perhatikan oleh Kedua Putranya pun menaruh kedua tangannya di pinggangnya. Tak lupa Serena juga menghadiahi Kedua Putranya dengan tatapan tajamnya, serta membulatkan kedua bola matanya kepada Kedua Putranya yang terbilang sangat menyebalkan.


"Kenapa hah lihat - lihatin Mama kayak gitu" tanya Serena sembari membulatkan kedua bola matanya serta menaruh kedua tangannya di pinggang.


Lidah Devan dan Devin mendadak sangat kelu untuk menjawab pertanyaan sang Mama. Padahal di dalam hatinya Devan dan Devin sudah sangat ingin berteriak kegirangan karena berhasil membuat sang Mama ngambek seperti anak kecil yang tak di berikan permen oleh Ibunya.


Devan menatap wajah tampan milik sang Adik. Sesekali Devan memainkan kedua alisnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Devin, lihatlah. Kita berhasil membuat Mama ngambek Vin" batin Devan sembari memainkan kedua alisnya dengan menaik turunkan alisnya.


Devin pun ikut menatap wajah tampan milik sang Kakak. Sesekali Devin memberikan kode dengan kedipan salah satu matanya.


"Kakak, Devin tahu apa yang kita maksud. Kita berhasil Kak. Kita berhasil dalam misi yang sangat mulia ini" batin Devin sembari memberi kode kedipan salah satu matanya kepada sang Kakak.


Serena makin membulatkan matanya kepada Kedua Putranya. Posisi Serena masih sama, yaitu berkacak pinggang sembari menatap tajam Kedua Putranya yang di nilainya sangat menyebalkan.


"Apa hah? Kalian senang bisa buat Mama marah - marah gini" ucap Serena dengan nada galaknya dan tak lupa dengan ekspresi wajahnya yang menakutkan.


Walaupun di dalam hatinya Devan dan Devin bergidik ngeri melihat nada bicara dan ekspresi sang Mama yang terbilang galak dan menakutkan, namun Devan dan Devin tetap memasang ekspresi konyol di wajahnya.


"Mereka ini di gertak kok bukannya malah takut tapi malah semakin menjadi - jadi. Jadinya gini deh kalau punya anak yang nurunin sifat Papanya. Jadi ribet kan" gerutu Serena sembari menatap tajam Kedua Putranya yang tampan itu.


Devan dan Devin yang sadar di perhatikan oleh sang Mama pun semakin memulai aksi konyolnya. Bukannya merasa takut dengan tatapan tajam dari sang Mama, kini Devan dan Devin justru merasa sangat berani berkat tatapan tajam yang di berikan oleh sang Mama.


Eitts, ini bukannya merasa takut justru babang - babang gantengnya Author merasa berani karena tatapan tajam yang di berikan oleh Mama Rena, Mama cantiknya babang - babang gantengnya Author. Haduh, kasihan banget Mama Rena menghadapi babang - babang gantengnya Author yang super - super bandel ini.


"Oh Mama" ucap Devin sembari menari - nari dengan senangnya.

__ADS_1


"Apa" jawab Serena dengan ketus sembari mengalihkan pandangannya ke segala arah.


Menyadari sang Mama yang sudah ngambek seperti anak kecil yang tidak di beri permen oleh Ibunya, Devan dan Devin justru memberikan respon yang sangat mengejutkan, yaitu tertawa dengan terbahak - bahak.


"Hahaha" tawa Devan dan Devin yang menggelegar di ruang Shalat yang ada di rumah keluarga Melviano.


Sontak saja Dylan, Hanna, dan Adhitama saling bertatapan melihat Kedua Putra Dylan dan Serena yang sedang asyik tertawa dengan terbahak - bahak.


"Haish, kenapa pula itu Kakak ber Adik? Nggak biasanya ketawa bareng kayak gitu?" batin Dylan yang menerka - nerka sembari memijit lembut pelipisnya sendiri.


Jujur saja, Dylan merasa pusing sendiri dengan kelakuan Kedua Putranya yang mendadak tertawa dengan bersamaan.


Pasti ada saja yang membuat mereka tertawa secara bersamaan. Mungkin mereka merencanakan sesuatu yang membuat mereka senang.


"Dasar bocah, kalau musuhan ya musuhan, kalau lagi akur ya akur" gerutu Hanna melihat kelakuan Kedua Cucu laki - lakinya.


"Ada - ada saja mereka ini. Mengingatkanku pada kelakuan Dylan dan Demian waktu belum menikah dahulu" batin Adhitama sembari tersenyum senang melihat kelakuan Kedua Cucu laki - lakinya.


Sementara itu Serena malah memanyunkan bibirnya. Dengan tangan yang ada di depan dadanya, Serena pun memasang ekspresi yang menurut Dylan, sang Suami sangatlah menggemaskan.


"Huh, kalau bukan karena masih pagi udah aku terkam kamu" batin Dylan sembari meneguk salivanya dengan susah payah.


"Kenapa hah? Kenapa lihat - lihat kayak gitu?" tanya Serena dengan nada bicaranya yang galak dan ekspresi wajahnya yang sangat menakutkan.


Sontak saja melihat sang Istri yang membuat nada bicaranya menjadi galak dan ekspresi wajahnya yang sangat menakutkan membuat nyali Dylan menjadi ciut. Entah kemana perginya si nyali itu. Intinya kalau sudah dapat tatapan tajam dari sang Istri itu sudah cukup untuk membuat nyalinya terbang melayang.


"Haaa, sudah dua puluh lima tahun aku hidup bersamanya. Namun kenapa aku tidak bisa menjinakkannya? Kenapa Ya Allah?" teriak Dylan di dalam hatinya sembari tersenyum getir.


"Sayang, sudahlah ngambeknya. Kita Shalat dulu ya" bujuk Dylan dengan nada lembutnya.


Bukannya menjawab, Serena malah langsung memperbaiki posisinya untuk kembali ke posisinya semula.


Melihat sang Istri yang masih tidak mau berbicara kepadanya, Dylan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Dengan segera Dylan memperbaiki posisinya ke posisinya semula. Melihat Dylan yang sudah bersiap di posisinya semula, Devan, Devin, Adhitama, dan Hanna pun segera memperbaiki posisinya ke posisi mereka semula.


Dylan memulai ibadah Shalat Subuh dengan berjamaah bersama dengan Mama, Papa, Istri, dan Kedua Putranya.


Devan, Devin, Adhitama, Hanna, dan Serena pun mengikuti gerakan Dylan yang sudah terlebih dahulu memulai Shalatnya karena saat ini Dylan menjadi Imam bagi Devan, Devin, Adhitama, Hanna, dan juga Serena.

__ADS_1


Bacaan Shalat yang di lantunkan oleh Dylan sangatlah merdu. Hingga Devan, Devin, Adhitama, Hanna, dan Serena menjadi khusyuk dengan ibadah Shalat Subuh yang di laksanakan secara berjamaah ini.


Setelah lima belas menit kemudian, selesailah ibadah Shalat Subuh yang di lakukan oleh Dylan, Devan, Devin, Adhitama, Hanna, dan Serena.


Tak lupa bagi Dylan untuk memimpin doa yang di panjatkan kepada sang Pencipta alam semesta ini, yaitu adalah Allah Subahannahu Wa Ta'ala.


"Devan, nanti kamu mau ikut Papa nonton berita pagi nggak kayak kemarin pagi?" tanya Dylan sembari melipat sajadahnya.


Untuk sejenak Devan pun terdiam. Namun lama - kelamaan Devan menyunggingkan senyumannya. Senyuman Devan sangatlah misterius. Entah apa artinya, hanya Allah, Devan, dan Author yang tahu.


"Nggak ah Pa" jawab Devan sembari meletakkan sajadahnya yang sudah di lipat di lemari khusus perlengkapan Shalat.


"Terus kamu mau ngapain pagi ini?" tanya Dylan sembari meletakkan sajadahnya yang sudah di lipat di lemari khusus perlengkapan Shalat.


Devan langsung menatap wajah sang Adik yang sedang berdiri untuk menunggunya. Devan pun memberikan kode kepada sang Adik dengan kedipan salah satu matanya.


Dylan masih bisa melihat kode yang di berikan oleh Devan kepada Devin. Dylan pun mengerutkan dahinya melihat sesuatu yang sangat janggal menurutnya.


"Kalian ini ngapain sih" tanya Dylan sembari mengerutkan dahinya.


Karena ucapan sang Papa, Devan langsung menatap wajah sang Papa yang sedang mengerutkan dahinya karena masih merasa kebingungan.


"Nanti Papa juga tahu kok" ucap Devan sembari mengedipkan sebelah matanya yang berarti sebuah kode kepada sang Papa.


Devan dan Devin melangkahkan kakinya mendekati sang Mama yang sedang berbincang seputar masalah kecantikan dengan sang Oma.


Jangan salah sangka ya, Hanna walaupun usia sudah bisa di bilang tua namun penampilannya tetaplah modis. Kerutan di wajahnya juga tidak terlalu banyak berkat dari menggunakan skin care wajah.


Devan dan Devin berencana untuk menganggu sang Mama yang sedang asyik berbincang seputar masalah kecantikan dengan sang Oma.


Masih sama strateginya dengan kemarin Devan yang mengganggu obrolan Serena dengan Amanda, sang Aunty.


"Mama" rengek Devan dan Devin sembari memasang ekspresi memelas di wajahnya serta mata pupy eyesnya.


Serena langsung membulatkan matanya kepada Kedua Putranya. Serena menaruh kedua tangannya di pinggangnya sembari menatap Kedua Putranya dengan tajam.


"Pergi" ucap Serena dengan nada bicaranya yang terbilang galak dan ekspresi wajahnya yang sangat menakutkan.


Namun bukan Devan dan Devin namanya jika tidak bisa membuat sang Mama menjadi naik darah.

__ADS_1


"Keluarga gesrek" gumam Dylan agak keras yang tentunya masih bisa di dengar oleh Devan, Devin, Serena, Adhitama, dan juga Hanna tentunya.


__ADS_2