Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 16 - Surprise!


__ADS_3

"Aku memang lucu Devin. Hanya saja kamu baru mengakuinya kan?" ucap Aurel sembari tertawa kecil.


"Ih, gitu kan kamunya kegeeran aku bilang kalian lucu" ucap Devin sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Hahaha, kamunya yang sabar Vin. Kamu nggak ingat apa kalau Aurel itu ratunya kegeeran sama keganjenan kalau di kampus" ucap Chalista sembari tertawa geli.


"Iya ya, akunya lupa Calon Kakak Ipar" ucap Devin sembari tertawa kecil.


Aurel langsung memanyunkan bibirnya karena mendengarkan ucapan kedua sahabatnya yang sangat menancap di hatinya.


"Ih, kalian ini apa - apaan deh. Pakai di ingatkan segala kalau di kampus aku itu ratu kegeeran dan keganjenan" ucap Aurel sembari memanyunkan bibirnya.


"Emang beneran kok Rel" ucap Devin dan Chalista secara bersamaan.


"Ih, kalian ini gitu ya" ucap Aurel sembari memanyunkan bibirnya.


"Itu faktanya Aurel sayang. Hanya kamunya saja yang tidak mau mengakuinya" ucap Chalista sembari mencubit gemas pipi chubby milik Aurel.


"Listaaaa" teriak Aurel dengan geram.


Sementara itu yang di teriaki malah diam saja sembari memasang ekspresi wajah konyolnya.


Devin terdiam memperhatikan keadaan sekitar. Devin ingin mencari waktu yang tepat untuk datang membawa Chalista dan Aurel pergi ke sana.


Chalista memperhatikan kedua sahabatnya yang sama - sama terdiam. Aurel yang terdiam dengan bibirnya yang di manyunkan, serta Devin yang terdiam dengan memfokuskan pandangannya.


"Haduh, mereka ini kenapa sih? Apa mereka kesurupan ya? Biasanya kan mereka berisik. Sekarang kenapa mereka tiba - tiba diam? Ih, serem deh" batin Chalista yang menerka - nerka.


Kembali lagi kepada Devan


Kini Devan hanya duduk terdiam sembari memainkan ponselnya. Sesekali Devan membuka akun media sosialnya, seperti akun Instagram, Twitter, dan Facebook. Padahal Devan belum memosting apa pun di akun Instagramnya yang bernama @DevanMelviano kini sudah mencapai 5 juta pengikut. Rata - rata pengikutnya berasal dari kaum hawa. Duh, benar - benar idaman banget ya.


"Membosankan banget sih" gerutu Devan di dalam hatinya.


Karena merasa bosan, Devan kini membuka aplikasi Whatsappnya. Ponsel yang kini Devan gunakan ini adalah ponsel pribadi ya. Kalau ponsel untuk kepentingan bisnis juga ada.


Terlihat hanya ada 1 pesan Whatsapp yang masuk di ponsel Devan. Kenapa begitu? Karena yang memiliki nomor ponsel pribadi Devan saat ini hanyalah keluarganya. Entah nanti akan bertambah lagi orang yang akan menyimpan nomor ponsel pribadi Devan.


"Sangat membosankan. Apa yang bisa membuatku lebih baik? Di Instagram kebanjiran DM, di Facebook dan Twitter kebanjiran pesan, kenapa di Whatsappku rasanya sangat sepi seperti pemakaman?" gerutu Devan di dalam hatinya.


Kembali lagi bersama Devin


Karena melihat banyak tamu yang sedang menyantap hidangan yang telah di sediakan oleh perusahaan Melviano Corporation, Devin akhirnya mengajak kedua sahabatnya untuk pergi menemui anggota keluarga Melviano yang hadir di acara penyambutan CEO baru hari ini.


"Calon Kakak Ipar, Aurel, ayo kita menemui anggota keluargaku. Sekarang sudah saatnya. Go" ucap Devin dengan nada yang sedikit di pelankan.


"Go" ucap Aurel dan Chalista dengan nada yang sangat pelan.

__ADS_1


Devin segera berdiri dari duduknya. Di ikuti oleh berdirinya Aurel dan Chalista. Devin berjalan dengan sangat hati - hati tanpa menimbulkan suara. Aurel dan Chalista pun mengikuti langkah Devin yang terlihat sangat hati - hati.


"Pelan, pelan, pelan" ucap Chalista dengan lirih sembari melangkahkan kakinya.


Dengan berjalan mengendap - endap, tentunya memakan waktu yang sedikit lama. Karena jarak dari kursi karyawan yang paling belakang dengan kursi khusus sangatlah jauh. Bagaikan langit dan bumi.


Devin membalikkan tubuhnya untuk memberikan aba - aba kepada Aurel dan Chalista yang berjalan mengikutinya dari belakang.


"Calon Kakak Ipar, Aurel, kita jalannya pelan - pelan. Kalian tetap di belakang aku ya. Nanti kalau kita sudah sampai, kalian baru pindah posisi di sampingku. Nanti kita bersama - sama berteriak 'Surprise'. Oke?" ucap Devin yang menjelaskan strategi dalam rencananya kali ini.


"Oke" ucap Chalista dan Aurel sembari menunjukkan kedua jempolnya kepada Devin.


Kini Devin, Aurel, dan Chalista kembali melanjutkan jalannya untuk menuju ke kursi khusus keluarga Melviano.


Tinggal sedikit lagi langkah untuk mendekati kursi khusus keluarga Melviano. Chalista dan Aurel mengikuti instruksi Devin untuk tetap berada di belakangnya. Dengan formasi Devin yang berada di paling depan, Aurel yang berada di belakang Devin atau berada di tengah, serta Chalista yang berada di belakang Aurel atau berada di paling belakang.


"Surprise" teriak Devin, Aurel, dan Chalista ketika sudah sampai di kursi khusus keluarga Melviano.


Sebuah teriakan kencang yang sontak saja membuat Devan, Dylan, Serena, Demian, dan Amanda menoleh ke sumber teriakan tersebut.


Hal ini mengundang banyak tanda tanya di benak Devan, Dylan, Serena, Demian, dan Amanda. Karena tadi sangat jelas teriakan seorang pria dengan teriakan dua orang gadis.


"Kenapa hanya ada Devin di sini? Padahal kan tadi ada suara gadis juga. Bahkan seperti terdapat dua gadis yang ikut berteriak" batin Devan yang menerka - nerka.


Chalista dan Aurel langsung mengambil posisi di samping Devin. Dengan formasi Chalista di sebelah kanan Devin dan Aurel di sebelah kiri Devin.


"Gimana perasaannya Ma, Kak, Aunty, Uncle?" ucap Devin sembari tersenyum senang.


"Apakah ini semua benar Vin?" ucap Serena dengan nada lirih seakan tak percaya ini semua adalah nyata.


"Benar Ma" jawab Devin dengan nada yang sangat meyakinkan.


"Pa, coba cubit pipi Ma. Mama masih nggak percaya" ucap Serena masih dengan nada yang tak percaya.


Ciit


Dylan mencubit pipi sang Istri dengan gemas. Bagaimana tidak? sang Istri masih saja berkata tidak percaya dengan ini semua. Padahal ini semuanya nyata. Nyata lho.


"Aduh" rintih Serena ketika mendapatkan cubitan gemas dari sang Suami.


"Gimana Ma, sekarang udah percaya?" tanya Dylan dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Emm, Mama percaya pa" ucap Serena sembari tersenyum yang menampakkan gigi putihnya.


Karena sudah percaya dengan semua kenyataan ini, Serena langsung beranjak berdiri dari duduknya. Serena langsung menghampiri Putra Keduanya, Calon Menantunya, dan seorang gadis cantik yang ikut bersama mereka berdua.


"Halo sayang" ucap Serena sembari memeluk erat tubuh Chalista.

__ADS_1


"Halo Ma" ucap Chalista sembari membalas pelukan sang Calon Mama Mertua.


Setelah beberapa saat, Serena dan Chalista pun saling melepaskan pelukan mereka.


"Wah, kamu terlihat sangat cantik sayang" ucap Serena ketika melihat penampilan Chalista.


Benar saja apa yang di katakan oleh Serena. Hari ini Chalista mengenakan gaun dengan panjang di bawah lutut yang berwarna Navy, warna yang sama dengan warna gaun Aurel, Serena, dan Amanda. Serta warna yang sama dengan warna stelan jas Devan, Devin, Dylan, dan Demian.


"Ah Mama ini. Terima kasih Ma. Mama juga cantik kok" ucap Chalista sembari tersenyum malu.


"Terima kasih sayang" ucap Serena sembari tersenyum lembut.


Kini pandangan Serena beralih menuju ke arah seorang gadis yang berada di sebelah kiri Putra Keduanya.


"Devin, siapakah gadis cantik ini? Apakah hari ini kamu memberi Mama Calon Menantu?" tanya Serena sembari tertawa kecil.


"Bukan Ma. Perkenalkan dia Aurel, sahabatnya Devin dan Calon Kakak Ipar" ucap Devin dengan lembut.


"Kalau Calon Mantu nanti Devin berikan deh. Pacarku belum mau menikah sekarang" ucap Devin sembari tertawa kecil.


"Halo Aurel" ucap Serena dengan menyunggingkan sebuah senyuman di wajah cantiknya.


"Halo tante" ucap Aurel dengan menyalami tangan Serena.


"Emm, panggil saya Mama. Oke?" ucap Serena dengan ekspresi seperti perempuan yang sedang ngambek.


"Oke Mama" ucap Aurel dengan kikuk.


"Devin, Aurel, Lista, kalian duduk yuk. Lista nanti duduk di sebelah Devan. Devin dan Aurel duduk bersebelahan ya" ucap Serena sembari tersenyum senang.


Tanpa banyak berkata - kata, Devin, Aurel, dan Chalista langsung menuruti apa kata Serena tadi. Tentunya dengan formasi yang telah di tentukan oleh Serena.


"Lista terlihat sangat cantik hari ini. Walaupun dengan make up yang sangat natural. Eh tunggu dulu, kenapa Chalista mengenakan gaun yang warnanya sama dengan gaun Mama, dan Aunty? Warna gaunnya juga sama dengan warna stelan jas yang di gunakan olehku, Devin, Papa, dan Uncle. Sebenarnya ada apa di balik ini semua?" batin Devan yang menerka - nerka.


"Mama senang kan hari ini?" tanya Devin dengan senyuman yang tersungging di wajah tampannya.


"Mama sangat senang hari ini Vin" ucap Serena sembari tersenyum senang.


"Oh iya? Apakah Mama tahu siapa sutradara di balik semua ini?" tanya Devin sembari menaik turunkan alisnya.


"Mana Mama tahu lah" ucap Serena sembari mengangkat kedua bahunya.


"Apakah Mama ingin tahu siapa sutradara di balik semua ini?" tanya Devin yang di jawab sebuah anggukan kecil dari sang Mama.


"Jawabnnya adalah aku. Aku sutradaranya" ucap Devin sembari menepuk lembut dadanya.


"Oh iya? Apakah kamu juga yang menyamakan warna gaun yang di kenakan oleh Aurel dan Chalista?" tanya Serena yang di jawab oleh sebuah anggukan kecil dari Devin.

__ADS_1


"Bagaimana Ma? Mama suka dengan ideku? Jawablah Ma, Oke? Apakah aku ini termasuk anak yang berbakti atau anak yang durhaka kepada Mama karena membuat kejutan ini?" tanya Devin sembari menaik turunkan alisnya.


__ADS_2