Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 13 - Rencana Devin


__ADS_3

"Puas kamu menggoda Kakak, Vin" sindir Devan kepada sang Adik yang masih asyik menggoda dirinya.


"Belum Kak. Devin masih belum puas" ucao Devin sembari tertawa kecil.


"Adik yang sangat menyebalkan" gerutu Devan di dalam hatinya.


Terlihatlah dari kejauhan bayangan tubuh Serena dan Amanda yang sedang membawa nampan berisi beberapa gelas teh hangat dan beberapa macam camilan.


"Halo" ucap Serena dengan hebohnya.


"Halo juga sayang" jawab Hanna dengan senyuman hangat yang tersungging di wajahnya yang sudah menua.


"Halo my Wife" goda Dylan sembari mengedipkan kedua matanya secara bergantian.


Blush


Wajah Serena langsung memerah karena mendengar perkataan dari sang Suami yang terbilang sangat romantis.


"Apaan sih" ucap Serena dengan wajahnya yang memerah.


Amanda hanya tersenyum saja melihat Kakak Iparnya yang sedang tersipu malu. Amanda sangat hafal dengan kebiasaan keluarga ini yang suka menggoda. Apalagi jika yang di goda sudah tersipu malu, maka yang menggoda akan semakin bersemangat untuk menggoda kembali.


"Ayo di minum tehnya, masih hangat lho. Nanti kalau nggak hangat lagi kan nggak enak" ucap Amanda sembari tersenyum lembut.


"Ah, benar katamu Manda" ucap Dylan dengan kikuk.


Devan, Devin, Dylan, Hanna, dan Adhitama langsung meminum teh milik mereka. Nanti kalau tidak hangat lagi kan tidak enak.


Terlihat dari arah dapur sana ada bayangan dua orang gadis dan satu pria dewasa. Mereka adalah Si Kembar Anyuna dan Anyura berserta Papa mereka, Demian.


"Teh punya Papa mana Ma?" tanya Demian sembari memeluk sang Istri dari belakang.


"Ehem, kalau pagi - pagi tuh jangan mengumbar kemesraan di depan yang masih jomblo" sindir Devan dengan tatapan sinis kepada sang Uncle.


Demian pun membalas tatapan sinis sang Keponakan.


"Kasihan banget ya, punya tunangan tapi belum halal" ledek Demian dengan nada yang sangat mengejek.


"Nanti kalau kamu sudah halal, kamu akan merasakan seperti apa yang kami rasakan" ucap Demian sembari mengeratkan pelukannya kepada sang Istri.


Amanda langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat sang Suami yang sedang memeluknya dari belakang.


"Emmm, Mama belum buatin tadi. Mama buatkan sekarang ya Pa" ucap Amanda sembari menurunkan tangan sang Suami yang masih memeluknya dari belakang.


Demian langsung menahan tangan sang Istri agar tidak melepaskan pelukannya.


"Nggak usah di buatin teh Ma. Kalau ada yang manis di sini kenapa harus cari yang lain? Iya kan" bisik Demian yang sukses membuat wajah Amanda memerah.


Sontak saja Amanda langsung mencubit gemas perut Suaminya yang sixpack.


"Aduh" rintih Demian ketika mendapatkan cubitan gemas dari sang Istri.


"Rasakan itu" bisik Amanda kepada sang Suami dengan ekspresi wajah yang sangat mengerikan.

__ADS_1


Amanda langsung melepaskan tangan sang Suami yang masih memeluknya. Lalu Amanda langsung menarik pergelangan tangan Serena agar ikut duduk bersamanya.


"Ayo Kak, kita duduk" ajak Amanda sembari menarik pergelangan tangan Serena.


"Iya Manda" jawab Serena dengan lembut.


Serena dan Amanda pun duduk tepat di sebelah Devan. Sedangkan Demian, Anyuna, dan Anyura lebih memilih duduk tepat di sebelah Devin.


Semuanya nampak menyimak informasi dari berita pagi tersebut. Mungkin ada beberapa yang menyimak informasi dengan melihat liputan yang telah di sampaikan oleh tim di tayangan berita tersebut.


Sisanya malah ada yang memperhatikan orang yang sedang memperagakan bahasa isyarat. Seperti Devan, Devin, Anyuna, dan Anyura.


Hayo readers, kalian ada nggak nih yang sama kayak Devan, Devin, Anyuna, dan Anyura kalau lagi menonton berita? Kalau Author sih jujur suka memperhatikan orang yang lagi memperagakan bahasa isyarat.


Di tengah - tengah menonton berita pagi, datanglah Bi Diah dan Bi Nura, Asisten Rumah Tangga yang di pekerjakan di rumah keluarga Melviano.


"Permisi Tuan, Nyonya, Tuan Muda dan Nona Muda. Sarapannya sudah siap" ucap Bi Nura sembari tersenyum lembut.


Serena langsung menoleh ke arah Bi Diah dan Bi Nura berada. Serena pun langsung membalas senyuman kepada bi Diah dan Bi Nura.


"Baiklah Bi Nura, kami akan segera ke dapur" ucap Serena sembari tersenyum lembut kepada Bi Diah dan Bi Nura.


Bi Diah dan Bi Nura melenggang pergi meninggalkan keluarga Melviano yang sedang menonton berita pagi di ruang keluarga.


Selepas kepergian Bi Diah dan Bi Nura, Serena langsung mengajak seluruh anggota keluarga Melviano untuk sarapan bersama.


"Ayo kita sarapan bersama" ucap Serena dengan senyuman hangat yang tersungging di wajah cantiknya.


Tanpa berkata - kata, Devan, Devin, Dylan, Demian, Adhitama, Hanna, Amanda, Anyuna, dan Anyura langsung mengikuti langkah Serena menuju ke arah dapur.


Semua anggota keluarga Melviano langsung menduduki kursinya masing - masing. Dengan formasi bersebelahan, seperti Hanna dan Adhitama, Serena dan Dylan, Amanda dan Demian, Devan dan Devin, Anyuna dan Anyura. Tak lupa mereka mengajak Bi Diah dan Bi Nura untuk bergabung sarapan bersama.


Semuanya pun langsung menyantap hidangan sarapannya masing - masing.


Suasana di meja makan sangatlah hening. Karena peraturan di rumah keluarga Melviano ini tidak boleh ada yang berbicara ketika makan. Hal ini juga di jelaskan dalam Hadist Nabi Muhammad SAW.


Setelah selesai menyantap hidangan sarapan masing - masing, kini seluruh anggota keluarga Melviano tengah bersenda gurau dengan keadaan yang masih di meja makan.


"Papa" panggil Serena kepada sang Suami.


"Iya Ma" jawab Dylan sembari menatap wajah cantik milik sang Istri.


"Menurut Papa nanti bagaimana tentang gadis - gadis yang mengejar - ngejar Devan ketika mengetahui Devan akan segera menikah?" tanya Serena kepada sang Suami.


"Patah hati berjamaah Ma. Putra kita ini nanti akan berhasil menggemparkan seluruh Indonesia ketika ada berita Devan akan segera menikah" ucap Dylan sembari terkekeh kecil.


"Ah, benar yang di katakan oleh Suamimu sayang" ucap Hanna yang membenarkan.


"Apa kamu masih ingat Rena? Dulu ketika kalian akan menikah, Indonesia ini di gemparkan dengan kabar Suamimu yang akan segera menikah denganmu" ucap Adhitama sembari tertawa pelan.


Serena hanya membalas ucapan sang Mama Mertua dan sang Papa Mertua dengan sebuah senyuman yang terhias di wajahnyaa yang cantik.


Sementara itu, Devan hanya terdiam mendengarkan obrolan keluarga Melviano. Sebenarnya, Devan sedang menerka - nerka di dalam pikirannya sendiri. Apakah benar yang di katakan oleh sang Papa?

__ADS_1


"Apakah benar yang di katakan oleh Papa? Mungkinkah aku menggemparkan seluruh Indonesia dengan kabar aku akan segera menikah?" batin Devan yang menerka - nerka.


Sama seperti Devan, Devin juga sedang bermain dengan fikirannya sendiri.


"Wow, kalau Kakak berhasil menggemparkan seluruh Indonesia itu baru hebat. Namun bagaimana jika kabar aku yang akan segera menikah? Apakah sama nantinya dengan respon kabar Kakak yang akan segera menikah?" batin Devin sembari tersenyum geli.


Kalau Devan dan Devin sedang bermain dengan fikirannya, malah Anyuna dan Anyura fokus melihat Kedua Kakak Sepupunya yang terdiam. Anyuna dan Anyura bergidik ngeri melihat Devin yang tiba - tiba tersenyum.


"Kak" panggil Anyuna sembari menggoyangkan tubuh sang Kakak Sepupunya.


Devin masih tak bergeming. Padahal Anyuna sudah menggoyangkan tubuhnya dengan keras. Apakah Devin sudah menjadi patung yang tidak peka terhadap rangsangan?


"Kakak" teriak Anyura yang nyaris saja memecahkan setiap gendang telinga yang mendengar teriakannya.


"Apa" jawab Devin sembari menatap Si Kembar dengan tatapan jengah.


"Apa Kakak sudah gila? Kakak tadi senyum - senyum sendiri" ucap Anyuna sembari bergidik ngeri ketika membayangkannya.


Sontak saja Devin langsung memberikan tatapan tajamnya kepada Anyuna dan Anyura. Tiba - tiba saja nyali Anyuna dan Anyura serasa terbang melayang melihat tatapan tajam yang di lontarkan oleh Kakak Sepupunya.


"Ah, maafkan kami Kak" cicit Anyura sembari menundukkan kepalanya.


Devin hanya terdiam saja sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Melihat semuanya sudah selesai menyantap sarapannya masing - masing, Serena dan Amanda langsung membereskan piring - piring kotor yang masih berada di meja makan.


Melihat ada peluang untuk melakukan rencana, Devin langsung berfikir keras saat ini juga.


"Umm, apa yang akan aku rencanakan ya" batin Devin sembari berfikir keras.


"Aha, aku tahu sekarang" batin Devin sembari tersenyum senang.


Devin langsung beranjak dari kursinya. Kini Devin menduduki kursi sang Mama yang tepat berada di sebelah kursi sang Papa. Sontak saja hal ini membuat Devan mengerutkan keningnya.


"Ada apa dengan bocah itu? Kenapa dia mendekati Papa dan duduk di kursi Mama?" batin Devan yang menerka - nerka.


"Papa" bisik Devin.


"Iya, ada apa" jawab Dylan dengan bisikan kepada Putra Keduanya.


"Aku punya rencana yang brilian Pa" bisik Devin sembari tersenyum senang.


"Rencana apa?" jawab Dylan masih dengan bisikan.


"Hari ini ada acara penyambutan CEO baru kan Pa di perusahaan kita?" tanya Devin dengan berbisik.


"Iya" jawab Dylan dengan berbisik.


"Aku ingin mengundang Chalista dan Aurel untuk datang ke acara tersebut. Kedatangan Chalista akan kita rahasiakan dari Mama dan Kak Devan. Biarkan ini menjadi kejutan untuk mereka berdua" bisik Devan sembari tersenyum senang.


"Apa Chalista hari ini tidak ada jadwal kuliah?" bisik Dylan yang merasa ragu.


"Nggak ada Pa" bisik Devin sembari mengedipkan kedua matanya.

__ADS_1


"Baiklah, Papa setuju dengan rencanamu. Kita akan mendatangkan Chalista sebagai kejutan untuk Devan dan Mama" bisik Dylan sembari tersenyum senang.


__ADS_2