
"Oh iya?" ucap Devan sembari menatap ke arah langit yang sekarang sedang bersinar karena adanya Bulan dan Bintang.
"Iya kak. Bunda itu seperti segalanya untuk aku Kak. Jadi aku merasa kehilangan sesosok figur Bunda yang sangat berarti buat aku. Bunda itu seperti Bulan dan Bintang yang selalu menyinari di dalam kegelapan" ucap Chalista sembari perlahan memejamkan matanya.
Devan terdiam sejenak karena mendengar ucapan Chalista yang sangat menancap di hatinya. Sejenak Devan dapat membayangkan apa yang di rasakan oleh Chalista ketika kehilangan sang Bunda tercinta. Apa lagi Chalista saat itu masih berusia sepuluh tahun. Chalista masih terlalu kecil untuk kehilangan kasih sayang dari sesosok figur Bunda.
"Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan Lista. Aku tahu kamu pasti merasa sangat hancur dan merasa tidak berguna pada saat itu. Tapi kamu masih bisa bertahan hingga saat ini. Sudah sepuluh tahun lamanya. Kamu gadis yang sangat kuat Lista" batin Devan sembari perlahan meneteskan air matanya.
Dengan segera Devan menghapus air mata yang sudah berada di pipinya. Devan tidak ingin terlihat lemah di hadapan Chalista, Calon Istrinya sendiri. Chalista saja masih kuat di tinggal selamanya oleh Bundanya, dan itu sudah sepuluh tahun lamanya. Di tambah dengan mempunyai ibu tiri seperti Dewi yang sangat jahat. Wah, Chalista benar - benar gadis yang hebat.
"Emm Lista, apakah kamu pernah menyatakan kata 'Aku sayang Ayah dan Bunda' kepada Ayah dan Bundamu?" ucap Devan sembari menatap lembut wajah Chalista yang terlihat cantik dengan sedikit polesan Make Up yang sangat natural.
"Kak Devan, aku bukanlah orang yang pandai mengungkapkan kata - kata seperti yang di sebutkan oleh kak Devan tadi. Aku hanya menunjukkan rasa sayangku dengan perbuatan" ucap Chalista sembari menarik nafas dengan panjang.
"Dan satu lagi yang harus Kak Devin tahu. Aku adalah orang berkepribadian Introvert. Aku hanya menceritakan perasaan bahagiaku saja. Selebihnya seperti perasaan marah, sedih, dan kecewa itu aku simpan sendiri. Dengan menulis novel itu bisa membantuku untuk meredakan perasaan yang aku simpan sendiri. Terkadang aku ingin bercerita dengan orang lain. Namun lidah ini terasa kelu untuk mengucapkannya. Kata - katanya akan tertelan kembali sebelum aku mengucapkannya" ucap Chalista sembari perlahan menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi taman.
"Lista, kamu juga harus tahu kalau aku ini juga orang yang berkepribadian Introvert. Namun aku lebih jarang untuk menceritakan perasaan bahagiaku, Lista. Kalau bersama keluarga aku akan menjadi pribadi yang terkenal hangat dan menyebalkan. Sedangkan jika bersama orang lain aku akan terlihat dingin dan cuek" ucap Devan sembari menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi taman.
"Oh iya? Berarti kepribadian kita sama Kak" ucap Chalista sembari tersenyum lembut menatap wajah Devan, Calon Suaminya.
"Benar. Kepribadian kita sama Lista" ucap Devan sembari tersenyum lembut menatap wajah Chalista, Calon Istrinya.
"Emm Lista, apakah kehilangan Bunda yang menyebabkan kamu menjadi pribadi yang introvert?" tanya Devan dengan hati - hati sembari menatap lembut wajah Chalista, Calon Istrinya.
"Sebenarnya kepribadianku memanglah Introvert sejak lahir. Namun sebelum kehilangan Bunda untuk selama - lamanya, aku saat itu masih sangat aktif dan terbilang nakal. Tak jarang aku mendobrak pintu kamar Ayah dan Bunda. Namun setelah aku kehilangan Bunda untuk selama - lamanya, aku tidak lagi mendobrak pintu kamar Ayah dan Bunda. Aku menjadi lebih diam dan tidak nakal lagi" ucap Chalista sembari tersenyum seperti kuda.
"Benarkah? Kebiasaanmu itu sangatlah lucu. Anak perempuan kok sukanya mendobrak pintu kamar Ayah dan Bundanya" ucap Devan sembari tertawa keras.
Chalista langsung memanyunkan bibirnya karena ucapan Devan, Calon Suaminya yang membuat dirinya sangat kesal.
"Apaan sih Kak" ucap Chalista sembari mencubit gemas paha Devan.
Karena mendapatkan cubitan gemas dari Chalista, Calon Istrinya di bagian paha membuat Devan berteriak kesakitan.
__ADS_1
"Aaa. Sakit sekali Lista" teriak Devan sembari memegang pahanya yang di berikan cubitan gemas oleh Chalista, Calon Istrinya.
"Rasakan itu Kak Devan" ucap Chalista yang langsung beranjak dari kursi taman yang di dudukinya.
Chalista merubah posisi tubuhnya yang semula duduk di kursi taman sekarang Chalista tengah berdiri di atas rumput - rumput yang sengaja di tanami di area taman di belakang rumah keluarga Chalista.
Chalista segera berjalan meninggalkan Devan yang masih merintih kesakitan dengan memegang pahanya yang di berikan cubitan gemas dari Chalista.
"Lista, tunggu Kakak" ucap Devan yang langsung berlari mengejar Chalista dengan sesekali memegang paha yang tadi di berikan cubitan gemas oleh Chalista, Calon Istrinya.
Sedangkan Chalista hanya terdiam sembari sesekali berlari kecil karena ingin menghindari kejaran Devan.
Kini Chalista telah sampai di ruang tamu. Chalista mengatur nafasnya dengan perlahan karena Chalista tidak bisa mengatur nafasnya dengan benar ketika sedang berlari.
Hosh
Hosh
Chalista mencoba mengatur nafasnya dengan benar. Beberapa kali Chalista melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya Devan masuk ke ruang tamu dan mengagetkan Chalista yang sedang mencoba mengatur nafasnya.
Sontak saja Chalista langsung menoleh ke arah datangnya sumber suara, yang tak lain menoleh ke arah Devan, Calon Suaminya.
"Haduh, Kak Devan ini mengejutkanku saja" gerutu Chalista di dalam hatinya.
"Iya Kak Devan. Kamu menangkapku" ucap Chalista dengan memberikan tatapan jengahnya kepada Devan, Calon Suaminya.
Dylan dan Chandra tersenyum senang melihat interaksi antara Putra dan Putrinya yang nantinya akan resmi menjadi pasangan Suami Istri.
"Lista, Devan, ayo duduklah. Kalian pasti lelah berlarian dari taman belakang" ucap Chandra dengan nada lembut kepada Putri dan Calon Menantunya.
Chalista menyunggingkan senyuman bahagianya ketika mendengarkan perkataan sang Ayah. Chalista segera berlari menuju sang Ayah dan memeluknya dengan erat.
"Ayah memang yang terbaik" ucap Chalista sembari memeluk erat tubuh sang Ayah.
__ADS_1
Chandra tertawa kecil karena mendengar perkataan dari Putri Tunggalnya yang saat ini sedang memeluk tubuhnya dengan erat.
"Sudahlah Lista. Putri Ayah ini di mata Ayah tidak akan pernah berubah menjadi dewasa. Chalista Indriana Safitri tetaplah menjadi Putri kecil Ayah yang lucu dan nakal" ucap Chandra sembari mengelus lembut puncak kepala Chalista yang terbalut dengan hijab syar'i berwarna hitam.
"Ayah" rengek Chalista sembari memanyunkan bibirnya.
Sontak saja kelakuan Chalista membuat Devan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan.
"Kamu terlihat lucu ketika merengek seperti anak kecil seperti ini" batin Devan sembari menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
Serena tersenyum bahagia melihat kelakuan Chalista yang sekarang sangat lucu ketika sedang merengek seperti anak kecil.
"Kamu lucu sekali Chalista sayang. Devina sayang, apakah kamu akan merengek seperti ini jika masih ada kesempatan untuk hidup di dunia bersama Mama, Papa, dan Kedua Kakak laki - lakimu?" batin Serena sembari tersenyum getir ketika mengingat Devina, Adik Kembar Devin yang sudah meninggal.
Devan kembali menduduki kursi yang semula di duduki oleh Devan. Kini Devan tersenyum lembut ketika melihat Chalista yang sedang duduk dengan tenang di samping sang Ayah.
"Kak Devan kenapa sih? Kok malah tersenyum ketika melihatku? Apa jangan - jangan dia melihat hantu yang berada di dekatku?" batin Chalista sembari bergidik ngeri ketika membayangkan ada hantu di dekatnya.
"Tuan, Nyonya, Tuan Muda, dan Nona Muda, ayo kita menyantap hidangan makan malam dahulu. Setelah menyantap hidangan makan malam, barulah nanti kita akan membahas tentang tanggal pernikahan dan tanggal resepsi pernikahan" ucap Chandra sembari tersenyum lembut.
"Ah, Tuan Chandra dan Nyonya Dewi ini repot - repot sekali. Saya dan keluarga kan jadi tidak enak" ucap Dylan sembari memberikan senyuman hangat kepada Kedua Calon Besannya.
"Ayolah Tuan, Nyonya, Tuan Muda, dan Nona Muda. Apakah kalian sudah menyantap hidangan makan malam sebelum berangkat ke rumah kami?" tanya Chandra sembari memberikan senyuman hangat kepada seluruh anggota keluarga Melviano.
"Kami sudah makan malam Tuan Chandra. Jadi Tuan Chandra tidak usah repot - repot untuk memberikan kami hidangan makan malam" ucap Dylan sembari tersenyum lembut kepada Calon Besannya.
"Baiklah kalau begitu Tuan Dylan. Mari kita membahas tanggal pernikahan dan tanggal resepsi" ucap Chandra sembari memberikan senyuman lembut kepada keluarga Melviano.
"Emm, bagaimana kalau akad nikah sekaligus resepsi di laksanakan satu bulan dari sekarang?" tanya Dylan kepada Calon Besannya.
"No no no, Devan nggak mau lama - lama Pa. Akadnya satu minggu dari sekarang, sedangkan resepsinya satu bulan dari akad nikah" ucap Devan dengan tegas.
"Wah, Putranya Papa udah kebelet nikah nih" ucap Dylan sembari tertawa geli.
__ADS_1
"Baiklah, sesuai dengan perkataan Devan akad nikah akan di selenggarakan satu minggu setelah acara lamaran. Sedangkan acara resepsinya akan di laksanakan satu bulan setelah akad nikah" ucap Chandra sembari tersenyum lembut.