
"Sudahlah kalian ini" ucap Devan dengan dingin dan ekspresi datarnya.
Setelah lima belas menit menempuh perjalanan, kini mobil yang di kemudikan oleh Dylan sudah sampai di rumah keluarga Melviano.
Serena, Devan, Devin, Dylan, Anyuna, dan Anyura pun segera turun dari mobil yang di kemudikan oleh Dylan.
Berselang beberapa menit kemudian, datanglah mobil yang di kemudikan oleh Pak Joko. Adhitama dan Hanna pun segera turun dan menghampiri Serena, Devan, Devin, Dylan, Anyuna, dan juga Anyura yang telah lebih dahulu sampai di rumah keluarga Melviano.
"Hei kalian, apakah Demian dan Manda sudah sampai di sini?" tanya Hanna sembari berjalan mendekati Serena, Devan, Devin, Dylan, Anyuna, dan juga Anyura.
"Mungkin mereka sudah sampai di rumahnya Ma" ucap Dylan sembari menatap wajah renta sang Mama.
"Aku heran sama Demian itu. Kenapa dia membeli rumah di sebelah rumah ini? Ada - ada saja anak itu" ucap Hanna sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Benar dengan apa yang di katakan oleh Hanna. Dari awal menikah, Demian langsung memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang terbilang mewah. Rumah Demian terletak bersebelahan dengan rumah keluarga Melviano. Kalau rumahnya sebelahan sama bukan pindah ke rumah sendiri. Iya kan?
"Entahlah Ma. Demian itu memang aneh" ucap Dylan sembari tertawa kecil.
Dan booom, yang sedang di bicarakan pun datang. Demian datang bersama Amanda dengan berjalan kaki. Orang rumahnya juga sebelahan sama rumah keluarga Melviano kok.
Demian dan Amanda langsung berjalan menghampiri Serena, Devan, Devin, Dylan, Anyuna, dan juga Anyura.
"Gadis kembarnya Mama, ayo kita pulang" ucap Amanda sembari mendekatkan dirinya kepada Kedua Putri Kembarnya.
"Demian, lain kali kalau beli rumah tuh jangan dekat - dekat. Sama aja bukan pindahan ke rumah sendiri" ucap Dylan sembari tertawa renyah.
"Nggak tahu nih Kak. Orang dianya yang ngotot mau beli rumah itu" ucap Amanda sembari menunjuk sang Suami dengan jari telunjuknya.
Merasa tak terima di salahkan oleh sang Istri, Demian pun melontarkan beberapa kalimat - kalimat protes kepada sang Istri.
"Lho, kenapa aku? Aku kan nggak salah apa - apa" ucap Demian dengan mengerutkan dahinya sembari menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Ya emang kamu kan. Terus aku mau nyalahin siapa? Pak satpam gitu" ucap Amanda sembari memalingkan pandangannya ke segala arah.
"Ah, terima saja lah kalau apa yang perempuan bicarakan. Kalau nggak di terima pasti nggak bakalan di kasih jatah selama sebulan. Haish" gerutu Demian di dalam hatinya.
Serena tersenyum geli melihat interaksi antara kedua Adik Iparnya. Demian dan Amanda lebih terlihat seperti musuh dari pada pasangan Suami Istri.
"Manda, Demian, ayo masuk dulu. Kalau mau berantem silahkan di lanjutkan di dalam saja" ucap Serena sembari tertawa kecil.
Hanna pun ikut tertawa karena perkataan Menantunya. Inilah poin plus dari sesosok Serena yang Hanna sukai sejak pertama kali bertemu dengan Serena.
__ADS_1
"Rena rena, inilah yang Mama suka dari dirimu. Mama merasa muda terus kalau di dekat kamu. Karena kamu itu sangat pandai membuat lelucon" ucap Hanna sembari mengelus lembut puncak kepala Serena yang tertutup oleh hijab syar'i yang berwarna hitam.
Sontak saja Serena tersipu malu karena ucapan Mama Mertuanya itu. Rasanya Serena ingin menenggelamkan dirinya ke dasar bumi atau ke dasar laut yang paling dalam.
"Ah, Mama ini paling bisa membuatku ingin terbang ke atas langit saja" ucap Serena sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Hahaha, Mama malu nih" ucap Devan sembari tertawa renyah.
"Hahaha. Itu namanya baru Mama, Rena" ucap Hanna sembari tertawa kecil.
"Ya sudah, ayo masuk" ucap Hanna sembari berjalan memasuki rumah keluarga Melviano.
Serena, Devan, Devin, Dylan, Anyuna, Anyura, Amanda, Demian, dan Adhitama pun mengikuti langkah Hanna untuk memasuki rumah keluarga Melviano.
Sesampainya di dalam rumah keluarga Melviano, Serena dan Dylan langsung menuju ke kamar mereka untuk membersihkan diri. Devan, Devin, Amanda, Demian, Anyuna, Anyura, Hanna, dan Adhitama juga melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan oleh Serena dan Dylan.
Tak berselang lama, kini Serena, Dylan, Devan, Devin, Amanda, Demian, Anyuna, Anyura, Hanna, dan Adhitama kembali lagi bertemu di lantai bawah setelah selesai membersihkan tubuh masing - masing.
"Ayo kita Shalat Isya berjamaah" ajak Dylan sembari melangkahkan kakinya ke ruang Shalat.
Serena, Devan, Devin, Anyuna, Anyura, Amanda, Demian, Hanna, dan Adhitama langsung mengikuti langkah Dylan menuju ke ruang Shalat. Karena Serena, Dylan, Devan, Devin, Anyuna, Anyura, Amanda, Demian, Hanna, dan Adhitama sebelumnya telah mengambil air wudhu, jadi langsung saja memulai ibadah Shalat Isya yang di imami oleh Dylan.
Bacaan Shalat yang di bacakan oleh Dylan sangatlah merdu. Membuat Serena, Devan, Devin, Anyuna, Anyura, Amanda, Demian, Hanna, dan juga Adhitama semakin khusyuk dalam melaksanakan ibadah Shalat Isya.
"Manda, nanti kamu mau langsung pulang?" tanya Serena kepada Adik Iparnya sembari melipat mukenahnya.
Amanda sejenak memperhatikan wajah sang Kakak Ipar yang sedang melipat mukenahnya yang berwarna putih.
"Mungkin langsung pulang aja Kak. Soalnya kan rumahnya kami di sebelah rumah Kakak" ucap Amanda sembari tertawa kecil.
Serena tertawa kecil sembari meletakkan mukenah miliknya yang sudah di lipat ke dalam lemari khusus perlengkapan Shalat yang ada di ruang Shalat.
"Oh iya? Kakak pikir kamu akan menginap lagi di sini seperti semalalam" ucap Serena sembari tertawa kecil.
Devan yang melihat sang Mama yang sedang asyik mengobrol bersama sang Aunty pun berusaha untuk mengacaukan obrolan mereka. Jahil banget sih kamu tuh Devan.
"Mama" ucap Devan sembari berjalan mendekati sang Mama.
Serena menatap wajah Putra Pertamanya dengan jengah. Pasti ada saja cara untuk Devan mengacaukan apa yang sedang di lakukan oleh orang - orang tersayangnya. Iya, orang - orang yang Devan sayangi.
"Apa" ucap Serena dengan nada malas sembari menatap wajah Putra Pertamanya dengan tatapan jengah.
__ADS_1
Devan memasang ekspresi seperti orang yang sedang berfikir di wajahnya yang tampan. Sebenarnya Devan hanya bermaksud untuk mengacaukan obrolan asyik sang Mama dengan sang Aunty. Haduh, jadi orang kok jahil banget sih Devan.
"Emmm, nggak ada" jawab Devan sembari tersenyum seperti kuda.
Serena buru - buru menarik pergelangan tangan Adik Iparnya yang tak lain adalah Amanda. Serena meninggalkan Devan sendirian di ruang Shalat karena Dylan, Devin, Demian, Anyuna, Anyura, Hanna, dan juga Adhitama telah keluar dari ruang Shalat terlebih dahulu.
Serena terus menggerutu dengan tidak jelas sepanjang jalan menuju ke ruang keluarga. Serena memberikan kata - kata umpatan yang pedas untuk Devan, Putra Pertamanya.
"Dasar anak nakal. Sukanya kok gangguin orang tua. Awas saja kamu Devan. Nanti Mama bakalan gagalin malam pertama kamu" gerutu Serena dengan sedikit berteriak.
Devan masih bisa mendengar gerutuan dari sang Mama. Devan pun segera menghampiri sang Mama yang sudah duduk di karpet tebal yang ada di ruang keluarga bersama dengan sang Papa, sang Aunty, sang Uncle, sang Oma, sang Opa, sang Adik, dan juga sang Adik Sepupu dari Devan.
Sesampainya di ruang keluarga, Devan langsung menduduki karpet tebal yang ada di ruang keluarga.
"Mama, kalau Mama mau mengagalkan malam pertama Devan dan Chalista nanti Mama nggak bisa punya Cucu. Kan Cucu juga mau di buat Ma" ucap Devan dengan mengedipkan sebelah matanya.
Sontak saja Serena langsung menepuk dahinya karena menyadari kebodohannya yang terlalu besar.
"Iya ya, kenapa aku bisa lupa? Aku nggak mau lalau nggak punya Cucu. Yaudah, nanti kalau malam pertama kamu sama Chalista Mama nggak bakalan gangguin deh" ucap Serena sembari menatap wajah Putra Pertamanya yang sedang menyunggingkan senyuman bahagianya.
"Nah, gitu dong Ma" jawab Devan sembari tersenyum senang.
Karena hari sudah malam, Amanda memutuskan untuk mengajak Suami dan Kedua Putri Kembarnya untuk segera pulang ke rumah mereka yang ada di sebelah rumah keluarga Melviano.
"Gadis kembarnya Mama, ayo kita pulang" ajak Amanda kepada Kedua Putri Kembarnya.
Anyura langsung memanyunkan bibirnya mendengarkan ucapan sang Mama yang mengajaknya pulang ke rumahnya.
"Ih, Mama. Yura sama Kak Yuna masih mau menginap di sini" ucap Anyura sembari memanyunkan bibirnya.
Mendengar perkataan dari Putri bungsunya membuat Demian menyunggingkan senyuman licik di wajahnya.
"Pulang nggak" ucap Amanda dengan sedikit memaksa.
"Nggak mau" rengek Anyura dengan memasang ekspresi memelas di wajahnya.
"Sudahlah Ma, biarkan mereka menginap di sini. Kita saja yang pulang ke rumah" ucap Demian sembari mengedipkan sebelah matanya.
Sontak saja Amanda langsung membulatkan kedua matanya karena mendengarkan ucapan sang Suami. Amanda sangat paham maksud dari ucapan sang Suami
"Nggak bisa" jawab Amanda sembari membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
"Gadis kembarnya Mama, kalau kalian masih kangen sama Oma dan Opa kan bisa sepulang sekolah main ke rumah Papa Dylan" bujuk Amanda sembari memegang pergelangan tangan Anyuna dan Anyura.
"Nggak bisa Ma" jawab Anyuna dan Anyura sedikit berteriak sembari melepaskan tangan sang Mama yang masih memegang tangannya.