Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 11 - Heboh


__ADS_3

"Ah sudahlah Ma, Devan mau tidur saja" ucap Devan sembari meninggalkan meja makan.


Devin tertawa geli melihat sikap sang Kakak yang sangat kekanak - kanakan dan seperti cewek yang sedang ngambek.


"Hahaha, Kakak ini kekanak - kanakan sekali. Lihatlah, Kakak sekarang seperti cewek yang sedang ngambek" ucap Devin sembari tertawa geli.


Devan langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat sang Adik yang mengatakan hal yang membuat tingkat amarahnya memuncak.


Devan menatap Devin dengan tatapan tajamnya. Devan terlihat seperti singa yang akan menerkam mangsanya. Siapa pun yang melihatnya akan otomatis membuat nyalinya menciut, seperti Si Kembar Anyuna dan Anyura.


"Kak Devan terlihat sangat menyeramkan sekali. Kenapa bisa Kakak Ipar terpincut dengan cinta Kak Devan" batin Anyura yang bergidik ngeri.


"Bagaimana nanti jika Kak Devan dan Kakak Ipar telah menikah? Huh, aku tak bisa membayangkannya" batin Anyuna sembari mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Kamu bilang kekanak - kanakan? Seperti cewek yang sedang ngambek? Hah, dalam mimpimu saja" gerutu Devan sembari berjalan ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Tak jauh dari anak tangga yang paling atas, terdapatlah sebuah kamar dengan pintu berwarna putih. Kamar tersebut adalah kamar Devan. Tidak sembarangan orang bisa memasuki kamarnya. Mamanya pun harus meminta izin untuk memasuki kamar Devan. Karena Devan selalu mengutamakan privasinya.


Krek


Devan membuka pintu kamarnya yang berwarna putih. Di pintu kamar tersebut tertulis kata 'Muhammad Devan Melviano' yang merupakan nama lengkap Devan.


Devan berjalan memasuki kamarnya yang bernuansa abu - abu, warna yang sangat bagus di kalangan para cowok - cowok.


Devan memasuki kamar mandinya untuk mengambil air wudhu. Devan akan melaksanakan Shalat Isya secara sendirian. Di karenakan anggota keluarga yang lain masih menyantap hidangan makan malamnya.


Setelah selesai mengambil air wudhu, Devan langsung menyiapkan sajadah dan peci miliknya. Devan memakaikan peci miliknya di kepalanya, dan juga Devan menggelar sajadahnya dengan mengikuti arah kiblat.


Devan pun memulai melaksanakan ibadah Shalat Isyanya.


Setelah melaksanakan ibadah Shalat Isya, Devan tak lupa untuk berdoa kepada Sang Pencipta alam semesta. Memohon keselamatan, keberkahan rezeki, kelancaran rezeki, dan juga memohon agar di berikan kesehatan oleh Sang Pencipta alam semesta.


Setelah selesai berdoa, Devan langsung merapikan sajadahnya serta menaruh sajadah dan peci miliknya di tempatnya semula.


"Hoam, rasanya aku sangat lelah hari ini" gumam Devan sembari mengucek matanya.


Karena kelelahan, Devan langsung menuju ke arah kasur king size miliknya yang di lapisi oleh bed cover berwarna abu - abu.


Sebelum tidur, tak lupa Devan untuk membaca doa agar tidurnya nyenyak dan bisa menjadi amal ibadah.


Tak butuh waktu lama untuk Devan terlelap di alam mimpi. Kini Devan sudah berkelana di alam mimpi. Namun tetap saja, kadar ketampanannya tidak akan berkurang walau pun Devan sedang tidur sekali pun.


Pagi harinya


"Allahu akbar allahu akbar" suara adzan Subuh pun berkumandang.


Karena terdengar suara adzan Subuh yang menandakan hari telah pagi, Devan pun terbangun dari tidurnya.


"Ah, rupanya sudah pagi" gumam Devan sembari mengucek matanya.


Devan pun mendudukkan tubuhnya terlebih dahulu. Devan membaca doa setelah bangun tidur. Lalu Devan berdiri untuk membersihkan tubuhnya sekaligus mengambil air wudhu.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Devan sayang, ayo bangun. Bersihkan tubuhmu dan jangan lupa mengambil air wudhunya. Mama dan yang lainnya akan menunggu di ruang Shalat. Kita akan melaksanakan Shalat berjamaah" teriak Serena dari balik pintu kamar Devan.


Karena terdengar teriakan sang Mama, Devan menghentikan langkahnya yang akan memasuki kamar mandi. Devan pun membukakan pintu kamarnya dan menjawab ucapan sang Mama dengan sebuah senyuman yang tersungging di wajah tampannya.


Krek


Devan menyambut sang Mama dengan sebuah senyuman yang tersungging di wajah tampannya.


"Iya Mama. Devan baru saja bangun tidur. Devan ingin membersihkan tubuh dan sekaligus mengambil air wudhu. Namun karena Devan mendengar suara teriakan Mama, Devan membukakan pintu dahulu" ucap Devan dengan senyuman hangat yang tersungging di wajah tampannya.


"Ah, baiklah. Nah, kalau Mama membangunkan kamu kalau di sambut dengan senyuman hangat Mama mau membangunkan kamu setiap hari. Senyuman kamu itu sama persis dengan senyuman Papa kamu" ucap Serena sembari tersenyum senang.


"Baiklah Ma. Devan mandi dulu ya" ucap Devan yang langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Baiklah" ucap Serena dengan pelan sembari menutup pintu kamar Putra pertamanya.


Sementara Serena melenggang pergi dari kamar Putra pertamanya, Devan langsung memasuki kamar mandinya untuk membersihkan dirinya sekaligus mengambil air wudhu.


Setelah selesai membersihkan dirinya sekaligus mengambil air wudhu, Devan keluar dari kamar mandinya dengan stelan baju koko yang melekat di tubuhnya yang kekar.


Devan pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang Shalat. Letak ruang Shalat sendiri terletak tepat di samping anak tangga di lantai pertama.


Samar - samar terdengar suara teriakan yang sangat cempereng. Pastinya suara tersebut adalah suara teriakan seorang gadis. Devan sudah tahu kalau suara teriakan tersebut berasal dari suara teriakan Si Kembar, yang tak lain adalah Anyuna dan Anyura.


"Haaa, Mamaaa. Yura nggak mau ah. Masih dingin" teriak Anyura dengan histeris.


"Nggak, bangun nggak sekarang. Kalau kamu nggak bangun - bangun nanti Mama siram kamu pakai air" gertak Amanda dengan wajah mengerikan.


"Ah, Mama ini tidak mengerti. Kembalikan selimutnya. Ini dingin sekali Ma" teriak Anyuna dengan setengah sadar.


"Tidak akan. Bangun atau kalian Mama siram pakai air" gertak Amanda dengan nada tinggi.


Sontak saja Anyuna dan Anyura terbangun karena Mama mereka sudah marah besar kepada mereka berdua.


"Ah, baiklah Mama. Kami akan mandi" ucap Anyura yang berjalan dengan sempoyongan.


"Yuna juga akan mandi Ma" ucap Anyuna sembari berjalan ke arah kamar mandi yang kedua.


Kamar Anyuna dan Anyura memiliki dua kamar mandi. Letaknya juga bersebelahan. Tentu saja kamar mandinya di lengkapi dengan bathup dan shower.


Saat Amanda melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kedua Putri Kembarnya, Amanda terkejut karena mendapati Devan sedang berdiri di depab ruang Shalat.


"Eh, ada Devan" ucap Amanda dengan kikuk.


"Devan sudah melihat kehebohan yang ada di kamar Yuna dan Yura, Aunty" ucap Devan sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Sementara itu, Amanda hanya menjawab perkataan sang Keponakan dengan senyuman kikuk.


"Duh duh duh, Si Kembar ini" gerutu Amanda di dalam hatinya.


Devan tersenyum lembut menatap wajah sang Aunty. Devan tahu kalau Autynya merasa sangat canggung karena Devan melihat kehebohan yang berasal dari kamar Kedua Saudara Kembar tersebut.


"Ayo Aunty, kita masuk" ucap Devan sembari melangkahkan kakinya memasuki ruang Shalat.


Devan dan Amanda berjalan beriringan memasuki ruang Shalat. Terlihat di sana ada Hanna dan Adhitama yang berdiri tegak tanpa membutuhkan tongkat atau kursi roda. Serta Dylan dan Devin yang sedang menyiapkan sajadah. Dan Serena yang sedang menemani Hanna dan Adhitama.


"Hei Oma, apakah kamu masih kuat melaksanakan Shalat dengan berdiri?" tanya Devan dengan nada yang terdengar mengejek.


Tingkat amarah Hanna langsung naik ke tingkat yang paling tinggi. Hanna langsung menatap Cucu Pertamanya dengan tatapan penuh dengan kemarahan.


"Hei Cucu sialan, kenapa kamu mengejekku. Aku masih kuat untuk melaksanakan Shalat dengan berdiri" ucap Hanna dengan nada dan tatapan matanya yang penuh dengan kemarahan.


"Oh iya?" tanya Devan dengan nada mengejek.


Adhitama dan Serena menggelengkan kepalanya mendengar interaksi antara Cucu dan Oma ini.


"Sudahlah, kalian ini suka sekali bertengkar" ucap Adhitama dengan senyuman hangat yang tersungging di wajahnya.


"Eh Devan, kenapa tadi ada kehebohan di kamar Si Kembar?" tanya Serena yang tiba - tiba teringat akan hal ini.


"Biasalah Ma, tadi ada sedikit drama tentang kedua gadis kembar yang susah di bangunkan" sindir Devan sembari melirik Anyuna dan Anyura yang baru memasuki ruang Shalat.


"Hei Kakak, kenapa kamu ini" ucap Anyura dengan nada yang penuh amarah.


"Drama, drama, memangnya kami ini Aktrisnya?" tanya Anyuna sembari menatap sinis wajah Kakak Sepupunya.


"Kalau iya kenapa?" tanya Devan sembari menaik turunkan alisnya.


"Kakaaaak" teriak Anyuna dan Anyura yang menggelegar ke seluruh penjuru rumah keluarga Melviano.


"Ah sudahlah, ayo kita mulai Shalatnya" ucao Dylan yang menengahi adu mulut antara Putra dan Dua Keponakan Kembarnya.


"Oke" ucap Devan dengan santai.


"Halo Pak CEO muda" ucap Devin sembari tertawa geli.


"Deeeviiiin" ucap Devan dengan geram.


"Devan, kali ini kamu yang jadi imamnya" ucap Adhitama yang menengahi adu mulut kedua Cucu laki - lakinya.


"Ah, baiklah" ucap Devan yang langsung menuju ke tempat imam.


Devan dan seluruh anggota keluarga Melviano pun memulai ibadah Shalat Subuhnya.


Devan menjadi imam pada Shalat kali ini. Terdengar bacaan - bacaan Shalat yang sangat merdu yang di lantunkan oleh Devan.


Devan memang sudah biasa menjadi imam di Keluarganya. Terkadang Papa akan memintanya untuk menjadi imam. Ini semua demi melatih Devan untuk menjadi imam di keluarga kecilnya nanti.

__ADS_1


__ADS_2