
Ting
Ponsel pribadi Devan berbunyi menandakan ada pesan yang masuk dari aplikasi Whatsapp.
Devan menaruh penanya di atas berkas yang sedang dia pelajari. Kini Devan mengambil ponsel pribadinya yang ada di saku celananya.
Setelah mengambil ponsel pribadinya yang berada di saku celananya, Devan segera menghidupkan ponselnya.
Terlihat ada notifikasi dari Whatsapp. Di sana terdapat 2 pesan dari 1 chat. Yang mengirimkan pesan tersebut adalah Serena, sang Mama.
Devan mengerenyitkan dahinya melihat kelakuan sang Mama yang mengirimkan pesan padanya di saat jam kerja seperti ini.
"Mama, kenapa Mama mengirim pesan padaku di saat jam kerja seperti ini?" batin Devan yang menerka - nerka sembari mengerenyitkan dahinya.
Karena penasaran dengan isi pesan yang di kirimkan oleh sang Mama, Devan langsung membuka aplikasi Whatsappnya dan mencari chat yang di kirimkan oleh sang Mama.
Devan terlihat menyunggingkan senyuman liciknya. Bagaimana tidak? sang Mama memintanya bermain drama keluarga bersama Serena, Anyuna, Anyura, dan Devin.
"Ini akan menjadi drama keluarga terbaik di dunia ini" batin Devan sembari tersenyum licik.
Isi pesan yang di kirimkan oleh Serena kepada Devan adalah.
"Assalamualaikum Devan sayangnya Mama" pesan pertama dari Serena.
"Nanti kita buat drama keluarga yuk. Setelah kamu pulang ke rumah, nanti kita bisa memulainya. Kita mendiamkan Papa. Jangan menjawab apa pun yang dia katakan. Mama akan pura - pura marah sama Papamu. Kita akan bermain drama keluarga bersama Yuna, Yura, dan Devin juga. Oke? Ini akan menjadi drama keluarga terbaik di dunia ini. Karena kolaborasi kita bersama Yuna, Yura, dan Devin yang sangat pandai berakting. Hahaha. Mama menantimu pulang sayang" pesan kedua dari Serena.
Devan segera mengetikkan balasan kepada sang Mama.
"Tenang saja Mama. Semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana dan harapanmu. Kita akan membuat Papa terkagum - kagum dengan drama keluarga yang kita mainkan bersama Yuna, Yura, dan Devin" pesan balasan yang di kirimkan oleh Devan kepada sang Mama.
Devan segera memasukkan ponsel pribadinya kembali ke dalam saku celananya. Setelah memasukkan ponsel pribadinya ke dalam saku celananya, Devan segera beralih kepada berkas - berkas yang sedang ia pelajari.
"Ah, ternyata menjadi CEO itu lebih sulit dari yang ku bayangkan. Menjadi direktur saja tidak sesulit ini. Ternyata sangatlah berat menjadi petinggi sekaligus pemimpin perusahaan" batin Devan sembari membuka lembaran - lembaran berkas - berkas yang sedang dia pelajari.
Devan pun terus mempelajari setumpukan berkas - berkas yang ada di meja kerjanya. Sampai Devan tak sadar jika dia belum makan siang.
Sangkin sibuknya, Devan juga hampir tak menjadari bahwa sekarang matahari sudah mulai menenggelamkan dirinya.
Gawat banget nih kalau orang yang lagi fokus - fokusnya kerja sampai lupa waktu. Apakah kalian juga pernah kerja, belajar, atau bermain sampai lupa waktu? Kalau Author sih kalau sudah buka aplikasi MangaToon pasti lupa waktu. Ya ampun.
Tak terasa sekarang sudah waktunya pulang menuju ke rumah. Devan sekarang tengah membereskan berkas - berkas yang tadi dia pelajari. Devan menyusunnya dengan rapi di meja kerjanya.
Setelah membereskan berkas - berkas yang tadi Devan pelajari, sekarang Devan berjalan keluar dari ruangan khusus CEO nya.
__ADS_1
Terlihatlah di depan ruangan khusus CEO ada seorang gadis yang mengenakan rok di atas lutut dan baju yang rendah sehingga memperlihatkan sedikit kedua gunung kembarnya.
Gadis tersebut adalah Audy Bethricia, Sekertaris Devan yang di berikan gelar Sekertaris Ganjen oleh Devan, bosnya sendiri.
"Selamat sore Tuan Muda Devan" ucap Audy dengan nada yang sangat menggoda.
"Sore" jawab Devan dengan ekspresi datarnya dan nada dinginnya.
"Tuan Muda Devan sangatlah menantang. Tunggu aku Tuan Muda Devan. Aku akan mencarikan hati dan ragamu yang sudah seperti es balok. Aku akan mewarnai hari - harimu sehingga tampaklah sebuah senyuman di wajah tampanmu Tuan Muda Devan. Jangan panggil aku Audy Bethricia jika aku tidak bisa menaklukkan hatimu, Tuan Muda Devan" batin Audy sembari tersenyum senang.
Devan hanya berjalan saja tanpa menghiraukan Audy yang berjalan di sebelahnya.
Sesampainya di depan lift khusus petinggi perusahaan, Devan langsung memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
Sebelum pintu lift di tutup, Audy segera menyelinap masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan tersebut. Tujuannya agar bisa satu lift dengan bos tampan yang menjadi idolanya, yaitu Devan.
Devan tak mempermasalahkan Audy yang sedari tadi menempel padanya bagaikan kertas dan perangko. Namun Devan hanya menganggap Audy sebagai lalat atau nyamuk yang ada di dekatnya. Huhu, kasihan banget sih kamu Audy.
Ting
Lift sekarang telah sampai di lantai gedung perusahaan Melviano Corporation yang paling bawah.
Devan segera keluar dari lift dan langsung menuju ke arah parkiran di mana supirnya sudah menunggunya.
Sesampainya di parkiran, Devan langsung memasuki mobilnya yang akan di kemudikan oleh pak Joko, supir pribadi Devan.
"Sore pak" jawan Devan dengan singkat.
Pak Joko pun melajukan mobil milik Devan dengan kecepatan sedang. Jalanan sekarang sedang senggang, sehingga Devan bisa cepat tiba di rumahnya.
Seletah lima belas menit perjalanan, kini Devan dan pak Joko telah sampai di halaman rumah keluarga Melviano.
Devan segera berjalan memasuki rumah keluarga Melviano. Terlihatlah di sana sudah ada Serena, Anyuna, Anyura, dan Devin yang menunggu kedatangan Devan.
"Bersihkanlah tubuhmu. Lalu kita akan memulai drama keluarga ini" bisik Serena dengan senyuman licik yang tersungging di wajahnya.
Devan hanya membalas perkataan sang Mama dengan anggukan kepalanya.
Sesuai dengan perkataan sang Mama, Devan segera menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
Sesampainya di depan pintu kamar Devan, Devan langsung membuka pintu kamarnya. Setelah itu Devan bergegas memasuki kamarnya.
"Ah, kamarku. Lelahnya hari ini" batin Devan sembari menarik nafas dengan panjang.
__ADS_1
Devan segera memasuki kamar mandinya. Devan pun memulai ritual membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, kini Devan sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian santai yang berupa kaos lengan pendek dan celana pendek selutut.
"Segarnya setelah mandi. Ayo Devan, kita bersiap - siap untuk memulai drama keluarga ini" batin Devan sembari tersenyum licik.
Devan segera berjalan keluar dari kamarnya. Perlahan namun pasti, Devan menapaki anak tangga satu per satu dengan perlahan.
Ketika sampai di lantai bawah, terlihatlah sang Mama yang sedang duduk menonton televisi di ruang keluarga.
Di sana juga terdapat Serena, Anyuna, Anyura, Devin, dan juga Dylan. Terlihat Dylan meminta untuk sang Istri membalas ucapannya.
Devan pun segera berjalan mendekati Anyuna, Anyuna, Serena, Devin, dan tentunya Dylan sebagai target mereka pada hari ini.
Setelah sampai di sana, Devan langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelah kanan Serena, sang Mama.
"Devan, lihatlah Mamamu ini. Dia tidak mau berbicara dengan Papa sedari di perusahaan tadi" ucap Dylan dengan nada frustasi.
Terlihat di sana Serena menyunggingkan senyuman liciknya. Karena sekarang posisi Serena yang sedang membelakangi Dylan, jadi Dylan tidak melihat Serena yang sedang menyunggingkan senyuman liciknya.
Devan hanya diam saja tidak menjawab perkataan sang Papa. Sesuai dengan perintah Serena yang memintanya terdiam ketika Sang Papa mengajaknya berbicara.
"Ah Devin, lihatlah Mamamu ini. Dia tidak ingin berbicara sedari di perusahaan tadi. Apakah kamu tidak mau membantu Papa untuk membuat Mamamu berbicara kepada Papa?" ucap Dylan dengan nada frustasinya kepada Putra Keduanya.
Devin hanya diam saja mendengar perkataan sang Papa yang meminta bantuannya. Rupanya Serena mengajak seluruh rekannya yang bermain drama keluarga pada hari ini untuk terdiam ketika Dylan mengajaknya berbicara.
"Yuna, Yura, apakah kalian tidak mau membantu Papa Dylan untuk membuat Mama Rena berbicara kepada Papa Dylan?" tanya Dylan dengan nada yang sangat frustasi kepada Kedua Keponakan kembarnya.
Anyuna dan Anyura hanya terdiam mendengar perkataan sang Uncle. Namun di dalam hatinya, Anyuna dan Anyura berteriak kegirangan karena berhasil membuat drama keluarga yang paling bagus di dunia ini.
"Rencana kita akan berhasil Mama Rena, Kak Devan, Kak Devin, dan Kak Yuna" batin Anyura di dalam hatinya.
"Aaaaaa, aku bisa gila kalau kamu tidak mau berbicara padaku sayang" teriak Dylan dengan histeris.
Pada akhirnya Serena membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah sang Suami sekaligus berkata kepada sang Suami.
"Pokoknya malam ini Papa tidur di luar. Dan malam ini juga Mama tidak akan kasih Papa jatah. Titik" ucap Serena dengan ekspresi yang menyiratkan kekesalan.
Jeder
Bagaikan tersambar petir di siang hari. Kini Dylan tertunduk lemas ketika mendengarkan perkataan sang Istri. Perkataan yang di lontarkan dari Istrinya ini merupakan perkataan yang sangat tidak ingin Dylan dengar sepanjang hidupnya.
"Apa! Apa katamu Ma? Kamu bercanda kan?" ucap Dylan sembari menggoyangkan tubuh sang Istri.
Serena hanya membalas perkataan sang Suami dengan gelengan kepalanya. Satu gelengan yang sukses membuat dunia Dylan berputar tiga ratus enam puluh derajat.
__ADS_1
"Rasakan. Emangnya enak gitu Pa? Inilah ancaman yang paling ampuh Mama gunakan untuk mengancam papa" batin Serena sembari tersenyum senang.
"Mama, ini adalah drama keluarga yang terbaik di dunia. Aku juga tak menyangkanya Ma" batin Devan sembari tersenyum senang.