
Dalam perjalanan menuju ke rumah nya , Vano terkena macet dan Kania belum juga menjawab telepon dari Vano , Vano semangkin khawatir bagaimana jika Rehan dan Cici sampai lebih dulu dari pada ia , bisa bisa semua yang mereka sembunyikan akan terbongkar sia sia .
Kania yang sedang siap siap untuk ke rumah sakit , dia sedang merapikan barang barang nya , mempersiapkan diri nya , dengan baju di atas lutut dan rambut tergerai Kania kelihatan sangat rapi , ia keluar dari kamar nya dan membuka pintu lalu ia melihat Rehan dan Cici " astaga apa yang sedang mereka lakukan di sini , kalau pak Vano melihat ini apa yang akan terjadi ? " dengan cepat Kania kembali ke kamar nya Menganti pakaian nya dan mengacak-acak rambut nya supaya kelihatan seperti bagun tidur , ia juga membawa plastik asoy yang berisi sampah untuk ia buang , membuka pintu apartemen nya " huwaa aku sangat lelah dan mengantuk " ucap Kania seolah dia tidak tau kalau Rehan dan Cici ada di hadapan nya , ia tetap berjalan menuju tempat pembuangan sampah .
Cici yang melihat Kania berjalan langsung menatap dengan seksama " apakah itu Kania ? " ucap nya dalam hati setelah beberapa menit akhir nya dia sadar kalau itu benar Kania " Kania , Kania " teriak nya beberapa kali kepada sahabat nya itu
Kania membalikkan badannya lalu melihat Cici " Cici Rehan , kalian sedang apa ? apakah kalian ingin menyewa kamar di sini ? " melihat sekelilingnya
Saling bertatapan " kami ? " menunjuk diri nya dan Rehan , Kania langsung mengangguk " tidak kami ke sini untuk bertemu dengan mu , kenapa kau tidak masuk kampus ? apakah kau sakit ? kenapa Kania ? " ucap Cici sambil memegang pipi Kania lalu di bulak balik kan
Kania melihat sekeliling nya , menarik tangan Cici dan Rehan " apakah kalian lapar ? bagaimana kalau kita makan ? di dekat sini ada restauran sangat enak mereka baru buka apakah kalian mau ? " ucap Kania kepada ke dua sahabat nya agar mereka tidak banyak tanya karena Kania masi bigung untuk memberikan jawaban nya .
__ADS_1
Kania membawa ke dua sahabat nya itu masuk ke rumah nya " kalian duduk lah dulu , aku akan ganti baju lalu kita pergi makan , ingat jangan sentuh apa pun " Kania langsung naik ke atas dan menuju kamar nya untuk mengganti pakaian nya .
Varo yang masi terjebak di jalan raya dan kebingungan bagaimana jika semua nya terungkap , Kania yang sibuk siap siap untuk pergi bersama sahabatnya karena dia juga tidak ingin sahabat nya itu tau semua nya , di sisi lain Rehan dan Cici yang merasa sangat aneh karena Kania bukan tipe orang yang tapi tapi ? rumah nya sangat tapi dan tertata dengan baik .
Cici beranjak dari duduk nya dan melihat sekeliling lalu ia melihat ada sebuah foto dengan wajah yang tidak asing lagi , Cici mengambil foto tersebut dan melihat nya dengan seksama " aku seperti mengenal orang di dalam foto ini , Rehan kau juga tau kan dia siapa ? " ucap Kania yang membalik kan badan nya dan menatap Rehan yang sedang duduk diam.
Rehan langsung mengambil bingkai foto itu dan melihat foto tersebut dengan raut wajah yang kaget mereka saling bertatapan dengan mata yang membesar " pak .. pak.. pak Vano ? " ucap mereka ber dua gugup dan kaget , Kania yang melihat mereka dari kejauhan langsung berlari menuruni tangga , hingga tanpa sadar ia berlari dengan laju dan terjatuh
Rehan dan Cici langsung menghampiri Kania " Kania apakah kau tidak apa apa , kenapa kau berlari lihat lah kau sampai terjatuh , ada apa sebenarnya ? " Menatap Kania yang sedang terduduk di lantai " apa ini Kania ? apa ? " menunjukan foto Vano ke hadapan Kania
Saat Cici sudah mau membantu Kania tiba tiba Vano datang dengan wajah panik dan langsung membuka pintu " Kania apakah semua nya baik baik saja ? " ucap Varo spontan karena dia sudah merasa sangat khawatir
__ADS_1
Cici menatap Varo dalam " jadi ini dosen yang menikahi siswa nya , apakah bapak tidak punya fikiran kenapa bapak melakukan ini , dia menyembunyikan semua nya dari kami dan bapak juga tidak mengatakan apa apa " ucap Cici dengan nada membentak dan air mata yang membahasi pipi nya
Varo hanya terdiam dan melihat kaki Kania yang sudah terluka " Kania ? apakah kau baik baik saja kau terluka apakah sakit ? " ucap Vano berjalan melewati Cici dan langsung memegang bahu Kania " Rehan ayo kita bawa dia ke rumah sakit ini bisa parah jika di biarkan " ucap Varo sambil mengambil tangan Kania dan meletakan nya di bahu nya .
Cici langsung mendorong Vano hingga Kania yang di samping nya ikut terjatuh " sebaiknya bapak tidak usah menyentuh sahabat saya , bapak tau bagaimana perasaan saya melihat semua kebohongan ini , bapak tau ? " Cici kembali membentak Vano
Vano yang tetap diam dan dia melihat Kania tanpa mempedulikan omongan Cici , dia mengambil Kania mengendong nya " ini yang kau sebut persahabatan ? apakah kau tidak melihat dia sedang terluka jika terjadi apa apa dengan nya apakah kau tidak mau menyebut diri mu sahabat ? ini yang di sebut saja at ? " bentak Vano kembali ke Cici .
Cici tidak diam saja karna memang dia merasa sangat kecewa kepada sahabat nya itu , sahabatan yang selama ini selalu bersama dan tidak saling menyembunyikan apa apa dan sekrang sahabatnya itu membohongi diri nya " bapak yang tidak tau apa itu sahabat dan kau Kania ? apakah kau tidak merasa bersalah ? kau menyembunyikan hal sebesar ini dan kau diam saja ? " Cici menatap Kania dengan air mata yang membasahi pipinya
Kania menatap Cici " Cici bisakah kau mengerti saat kau berada di posisi ku , apakah kau akan paham jika aku menceritakan semua nya , apakah kau tau apa yang aku rasakan ? " ucap Kania dengan nada yang lembut , darah di kepala Kania terus mengalir dan membuatnya jatuh pingsan
__ADS_1
Varo merasa khawatir " kau lihat karna ke egoisan mu sahabat mu menjadi korban nya " membawa Kania keluar " Kania sadar lah , tunggu sebentar Kania saya akan membawa kamu ke rumah sakit " ucap Vano yang berlari sambil menggendong Kania
Cici yang juga merasa khawatir ikut berlari menuju parkiran bersama Rehan , saat Vano ingin membuka pintu mobil nya dia merasa kesusahan dan tiba tiba Cici datang dan membukanya pintu mobil Vano untuk Kania " mau bagaimana pun Kania tetap sahabat saya , saya tidak akan pernah membencinya " ucap Cici dengan raut wajah sedih nya