Istri Kontrak Ku

Istri Kontrak Ku
05


__ADS_3

" Akhir nya aku bisa juga membeli rumah sendiri, kak Amanda pasti senang " mengambil ponsel nya dan menelepon Amanda


Di telpon


" Iya kenapa Kania ? "


" Rumah yang kita beli sudah bisa di tempati dan sekarang aku berada di rumah itu "


" Benar kah, bisakah kita mengalihkan panggilan nya Kakak juga ingin melihat rumah baru kita "


Mendengar suara bel " seperti nya tidak sekarang " mematikan telpon nya


Berjalan ke arah pintu lalu membuka nya


" siapa ? "


Saat ini Kania sedang bertatapan dengan seorang laki laki yang ia rasa wajah nya tidak asing lagi


" sedang apa kamu di rumah saya ? " tanya pria yang berdiri di depan Kania


Sangking merasa kaget nya Kania hanya diam saja sambil membesarkan bola mata nya " kamu lagi, ngapain di rumah saya ? " ucap pria itu sekali lagi


Setelah beberapa menit baru Kania sadar " ini .. rumah saya bukan rumah bapak ? " ucap Kania kepada pak Vano , pria tersebut adalah pak Vano


Menatap heran Kania " siapa bilang ini rumah kamu, kamu bisa tanya sama orang orang di sini . Meraka akan menjawab kalau ini memang rumah saya " membuka sepatu nya lalu menutup pintu


Melihat kalau Devano masuk begitu saja, membuat Kania tidak tinggal diam " ehh apa apaan si pak, kok main masuk masuk aja ke rumah orang bapak gimana sih ? " sedikit membentak


Masuk dan meletakkan tas serta membuka tas nya " keluar sebelum saya seret kamu " menatap sinis Kania


Merasa sedikit takut dengan tatapan Vano tapi Kania tidak pergi karena dia merasa kalau ini memang rumah nya


" bapak jangan asal ngomong ya, ini rumah saya, saya udah beli rumah ini dan saya juga punya kunci nya " menunjukkan kunci yang ia bawa


Merasa kesal karena Kania tidak mau keluar dari rumah nya , mengambil kunci dari tangga Kania yang sebelum nya ia pegang dan pamer kan " ini kunci kamu, lihat saya baik baik " pergi ke kamar nya


Menatap Vano " ehh bapak kenapa sih, itu kan kunci saya kenapa main ambil aja ? " mengikuti Devano


Menatap sabar Kania sambil menarik panjang nafas nya, memasuk kan kunci ke pintu kamar nya dan hasil nya pintu nya bisa di kunci dan di buka " lihat " menatap Kania

__ADS_1


Heran karena Reza memberikan kunci itu untuk pintu utama bukan pintu kamar " ohh jadi itu kunci kamar nya " ucap Kania mengelak


Manarik nafas nya lagi " kamu ngak paham juga, sini " menarik tangan Kania menuju pintu gudang rumah nya


" Lihat saya baik baik, pakai tu mata kamu " menatap Kania tajam


Memasuk kan lagi kunci nya ke dalam lubang kunci pintu gudang dan hasil nya kunci itu bisa membuka pintu gudang " paham kamu sekarang ? "


Dengan wajah polos nya Kania hanya diam saja


" saya ngak paham apa maksud bapak, intinya ini rumah saya dan " mengambil kunci dari Vano " ini kunci saya " kembali duduk di sofa


" Kok kamu malah duduk sih, kan saya sudah bilang keluar atau saya tarik kamu " menatap Kania lalu mengambil tangan nya


Kania langsung nangis " saya mau tinggal dimana ? kalau ini memang rumah bapak, terus rumah saya yang mana ? " menangis


Vano merasa tidak tega melihat Kania yang menangis , duduk di samping Kania " kamu punya sertifikat rumah ini ? lagian saya tidak pernah menjual rumah ini ke siapa pun "


Meletakkan kepala nya di bahu Vano " saya tidak punya sertifikat nya pak, Reza mengatakan dia akan memberinya besok maka nya saya datang cuma ambil kunci nya saja pak " menangis


Sedikit kaget karena tiba tiba Kania meletakkan kepala nya " mungkin kamu sedang di tipu "


Membalas pelukan Kania hanya sekedar untuk menenangkan nya " saya akan membantu kamu untuk mencari dimana dia sekarang " menepuk pundak Kania


Menghapus air mata nya " tapi saya mau tinggal dimana pak ? masak saya harus tinggal di rumah sakit lagi " melepas pelukan nya


Berdiri dan mengambil air untuk Kania " saya ada kenalan dan dia punya rumah kontrakan, kamu bisa tinggal di sana nanti saya yang mengantar kamu "


Menatap Vano dengan rasa percaya kepada nya " bapak yakin mau bantuin saya ? "


Memberikan air untuk Kania " iya saya akan bantu , tapi sebelum kita pergi, saya siap siap dulu kamu tunggu saya " pergi masuk ke kamar nya


Menatap Vano sampai masuk kamar " ternyata dia bukan orang yang jahat "


Sambil menunggu Kania ketiduran, dia tidak tau kalau kakak nya mengirim nya pesan " Kania aku sedang di Jakarta sekarang kita bisa tinggal di rumah baru kita " isi pesan nya


Mengancing lengan baju nya " Kania kita jalan sekarang dan jangan lupa bawa barang... " melihat Kania tertidur sangat pulas


Menggoyangkan tubuh Kania " Kania kita bisa berangkat sekarang ? " menatap wajah Kania yang lagi tertidur pulas

__ADS_1


Membuka mata nya dan melihat Devano sedang menatap dia " iya pak kita berangkat sekarang saja " mengedipkan mata nya beberapa kali


Menjauhkan wajah nya " ayo " mengambil koper Kania dan membantu membawa nya


...****************...


Saat di dalam lift Kania membaca pesan nya dan merasa khawatir namun dia pura pura tenang karena sekarang mereka sedang menuju rumah Kania yang sebenarnya, kalau soal uang nanti Kania bisa kerja


Saat di parkiran Kania menatap sekeliling untuk memastikan kalau kakak nya tidak ada " aku yakin dia belum sampai ? "


Menatap heran Kania " kamu sedang apa ? lihat siapa ? tidak ada orang yang kenal kamu tenang saja "


Saat sedang memantau sekitar ternyata Kania melihat kakak nya. dia langsung menggandeng tangan Devano " kak, aku tidak menyangka kau akan datang lebih cepat " senyum


Menatap mereka berdua " iya aku sengaja tidak mengabari mu, siapa dia ? " menunjuk Vano


Menatap Vano " dia " menunjuk Vano " dia pacar ku " senyum


Merasa kaget namun Vano hanya bisa diam saja dan mengikuti apa yang Kania katakan " saya Devano, pacar nya Kania " mengulur kan tangan nya


Saat sedang ingin berjabat tangan tiba tiba kakak Kania tiba tiba mendapat telpon dari perusahaannya , dia langsung mengambil ponsel nya dan menjawab nya terlebih dahulu


Melihat kakak nya menjauh karena sedang menelpon , Kania mengambil koper nya lalu menyembunyikan nya " aman " kembali ke samping Vano


Menatap heran Kania " siapa dia ? " memberikan tangan nya untuk di gandeng lagi


Menggandeng tangan Vano " dia adalah kakak saya pak, saya takut nanti kalau dia tanya soal rumah saya harus jawab apa? kan kata bapak saya di tipu " menguat kan gandengan nya


Merasa ingin membantu Kania tapi masih ragu " saya ngak tau harus ngapain sekarang ? " bingung


Menatap Vano " kok bapak yang bingung kan dia kakak saya "


Setelah selesai menelpon Kakak Kania kembali dan menatap mereka " ayo kita masuk, aku akan nginap satu malam dan kembali besok pagi " menggandeng Kania


" Adek ipar bisa tolong bawa kan koper " menatap Vano yang berdiri diam


" Kenapa cepat sekali pulang nya kau bisa tinggal selama yang kau mau kak "


Membawa kakak nya untuk masuk ke rumah Vano , Vano diam saja karena ini merupakan bentuk terimakasih nya karena sudah membuat kakek merasa lebih baikan

__ADS_1


__ADS_2