
Pagi ini Kania akan berangkat ke Bandung, Cici dan Rehan yang mengantar nya ke bandara, Kania tidak mengabari Vano karena dia tidak mau kalau Vano datang dan mengehentikan dia
" Hati-hati di jalan Kania, ingat kalau udah sampai kabarin kita ya " ucap Cici sambil melambaikan tangan kepada sahabat nya itu
" Ayo ci kita pulang, kita juga harus makan dan beres-beres rumah " ucap Rehan lalu merangkul Cici
" Apa yang kau lakukan, kalau mau beresin rumah, beresin sendiri ga usa ngajak-ngajak " melepaskan rangkulan Rehan
Sementara di rumah Vano semua orang sedang sibuk mencari dimana Kania berada, karena kemaren malam dia masi di sini tetapi pagi ini dia juga belum muncul sama sekali
Kakek Vano terlihat cemas dan sibuk ke sana ke mari untuk mencari Kania " Vano apakah kau sudah menelpon Kania ? apakah sudah ada jawaban dari nya "
Vano yang hanya berpura-pura menghubungi Kania " iya kakek aku sudah mencoba menelpon nya, sepertinya dia sedang sibuk, sebaik nya kakek minum obat dulu " membawa obat ke arah kakek nya
Mengambil obat yang di bawa Vano " tolong hubungi dia terus, aku tidak mau dia pergi jauh dari sini, dia adalah istri mu sebaik nya kau jaga dia " meminum obat nya lalu pergi
__ADS_1
Vano mencoba menghubungi Cici tapi tidak ada jawaban dari Cici, hingga dia memutuskan untuk mencari Kania sendirian
Menunjukan foto Kania " Ini Kania, dia adalah istri ku tolong bantu aku mencarinya, aku akan membayar dengan harga yang tinggi jika kau menemukan dia " ucap Vano kepada tiga orang suruhannya
Tepat pukul satu siang Kania sudah sampai di Bandung dan dia menyalakan ponsel nya untuk menelpon kakak nya dan ternyata keberadaan nya terditeksi oleh orang suruhan Vano
" Apa ? Bandung ? apakah kalian yakin itu dia ? "
" Iya pak kami yakin sekali itu nyonya Kania "
" Baiklah, terimakasih untuk kerja keras kalian dan segera kirim nomor rekening kalian " menutup ponselnya
Kania masi di bandara karena dia sedang menunggu jemputan dari kakak nya " kenapa lama sekali apakah ada masalah ? " dia pergi untuk mencari tempat duduk untuk istirahat
Tak lama kemudian pesawat yang dinaiki Vano melandas, Kania masih menunggu sang kakak untuk menjemput nya
__ADS_1
" Kenapa lama sekali " melihat jam tangannya
Kania masi sabar menunggu, sementara Vano bertanya kepada orang yang ada tentang Kania, sambil memperlihatkan foto Kania " apakah kau melihat nya ? dia adalah istri ku " ucap Vano gelisah
Sampai dimana Vano merasa lelah " apakah dia sudah kembali ke rumah nya ? tapi ini Bandung aku tidak tau dimana dia tinggal "
Kania bediri dengan koper di samping nya lalu Vano melihat Kania yang berada sebrang jalan " itu ? Kania aku harus ke sana sebelum dia pergi lebih jauh "
Vano berlari untuk menghampiri Kania " Kania apa yang kau lakukan kenapa kau ke sini ? apakah kau tau betapa sulit nya aku datang ke sini ? "
Kania tersenyum melihat Vano yang sedang mengoceh di depan nya " kenapa bapak datang ke sini ? apakah bapak merindukan ku ? "
Vano memeluk Kania " apakah itu terlihat jelas ? aku tidak ingin kau pergi jauh dari ku " mengelus kepala Kania
Kania membalas pelukan Vano " ternyata benar apa yang orang-orang katakan " senyum di dalam pelukan Vano
__ADS_1
" Apa yang mereka katakan ? "
" Sejauh apa pun kita menghindar kalau emang jodoh itu pasti ketemu "