
"Apa!! darimana kalian mengetahui semuanya"
"Kami mengikuti tuan Fedo secara diam-diam bos, dan ternyata gadis yang dimaksud tuan Fedo tersebut adalah Viana, anak dari nona Riana, masa lalu bos, namun sekarang gadis tersebut telah menikah dengan tuan Randy" ucap salah satu pria berjas hitam
"Ja-jadi, Riana benar-benar menikah dengan Dian, bahkan memiliki anak" ucap Landrio tak percaya
"Benar bos, nona Riana mempunyai 2 orang anak, dan Viana adalah anak bungsunya"
"Kurang ajar" geram Landrio
"Siapkan penerbangan ku ke kota xx sekarang juga" lanjutnya memberi perintah
"Baik bos"
......................
Di sisi lain
"Apakah putra putri kita aman" ucap seorang wanita yang rentan
"Mereka aman dan baik-baik saja, tidak perlu ada yang di khawatir kan" balas seorang pria
"Aku rindu mereka, sudah belasan tahun aku tidak melihat mereka hiks...hiks.. aku ingin memeluk mereka" ucap nya di sela tangisannya
Lalu pria tersebut merangkulnya dan memeluk nya
"Kita akan menemui mereka setelah waktu yang tepat"
Di kota xx Dian dan Riana menetap, mereka beda negara dari putra putri mereka.
Karna suatu alasan yang kuat mereka rela berpisah jauh. Ancaman demi ancaman mereka selesaikan secara perlahan.
Mereka memang keluarga yang sangat terpandang dan penuh kebangsawanan, namun mereka hanya lah manusia biasa yang tak bisa menyelesaikan masalah secara instan, perjuangan demi perjuangan kedua nya lakukan demi melindungi putra putri mereka
"Minggu depan kita akan menemui tuan Berto, seperti nya tuan Berto sudah tau jika Viana adalah anak kita" ucap Dian
"Bagaimana dengan Vande" tanya Riana mengenai putra nya
"Mereka tidak tau apa-apa soal Vande" jawab Dian
"Tidak usah bersedih dan menangis, apa kau tidak bahagia sebentar lagi kita akan menimang cucu kembar" lanjutnya
__ADS_1
"Tentu saja aku bahagia, namun rasa rindu juga harus terobati"balas Riana
"Bersabarlah, rasa rindu mu akan terobati" ucap Dian lalu mengecup istrinya
......................
Keesokan hari nya
"Ayah!! Ayah kapan datang?kenapa tidak menghubungi Teo " ucap Teo menghampiri Landrio yang baru datang
"Ayah sengaja tidak memberitahu, biarlah jadi kejutan"
"Dimana kakak mu Fedo" tanya Landrio
"Kak Fedo lagi ada urusan di luar yah" ucap Teo membantu Landrio membereskan barang-barang nya
"Ayah mau minum apa atau makan apa" tanya Teo
"Apa saja" ucap Landrio dan di angguki oleh Teo. Lalu Teo bergegas membuat kan minuman untuk Landrio
"Sayang, itu buat siapa" tanya helin
"Ayah?"
"Iya, ayah baru saja datang" ucap Teo
"Siapa perempuan ini Teo" tanya Landrio yang datang tiba-tiba
"Oh ini, anu, dia calon istri ku yah" ucap Teo
"Calon istri? kenapa perut nya membesar" tanya Landrio curiga
"Di-dia hamil yah"
"Apaa?? laki-laki macam apa kamu Teo, kenapa bisa-bisa nya kamu menghamili perempuan yang belum menjadi istri mu?"
"Ayah dengar dulu penjelasan ku" ucap Teo menenangkan Landrio
"Kamu! dasar wanita murahan, berani-beraninya kamu menggoda anak ku" bentak Landrio pada helin
"Cukup ayah, ini bukan salah helin" ujar Teo
__ADS_1
"Lalu salah siapa? salah dirimu hah? ayah tidak pernah mengajarkan kamu hal seperti ini Teo! perbuatan mu sungguh tidak terdidik" amarah landrio
"Dasar wanita ******"
Plakk
Landrio menampar keras pipi helin.
"Ayahhh!! cukup ayah" teriak Teo dan memeluk helin
"Dasar anak sialan, kenapa kau malah membela nya hah" teriak Landrio
"Ayah lah yang tidak terdidik, ayah menyakiti perempuan ku dan ayah tidak punya perasaan sama sekali, sudah cukup kesalahan ayah pada nyonya Riana tapi jangan pada calon istriku" geram Teo namun ia masih memikirkan batasan nya.
Setelah mengatakan itu Teo membawa helin masuk ke dalam kamar nya.
Teo merasa bersalah pada helin.
Helin menangis dalam diam akan perkataan calon mertua nya
"Maafin ayah yah" ucap Teo lembut dan di balas anggukan oleh helin
Lalu Teo berjongkok dan mengelus perut buncit helin
"Maafin papa yah nak, maafin opa kamu juga ya" ucap nya mengecup perut calon istri
"Papa memang papa yang kurang ajar, bukan orang yang tepat untuk bertanggung jawab, gara-gara papa bunda mu kesakitan. Maaf yah" ucap nya dengan lembut. Air mata nya membasahi perut buncit calon istrinya
Ia menangis, menangis bukan karena ia cengeng, namun karena ia merasa gagal untuk menjadi seorang ayah dan suami yang baik dan bertanggung jawab.
Helin menjadi luluh atas perkataan Teo.
Ia ikut menangis, ia merasa bersalah atas perbuatannya.
"Kenapa nangis sayang, hmm? Apa yang sakit" tanya Teo
"Ini yang sakit" ucap helin menaruh telapak tangan Teo di dada nya
"Maafin aku ya" ucap helin jatuh dalam pelukan Teo, ia menangis sesenggukan disana
"Ga papa sayang, lupain semua nya, kamu ga salah aku yang salah" ucap Teo memeluk erat wanita nya.
__ADS_1