
Siang hari....
Tok tok tok tok tok...
"Tiara...."
Tok tok tok tok tok...
"Tiara...."
"Kemana nih orang," grutu Alex.
Alex pun mengulangi untuk memanggil Tiara sekali lagi.
"Hei Tiara, kamu ada di dalam tidak," kata Alex sedikit berteriak sebab sedari tadi bosan mengetuk pintu kamar namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Maaf tuan, nona Tiara sedang berada di taman samping rumah," kata salah satu art yang menghampiri Alex.
"Hmmm...."
Dengan cepat Alex pun berjalan di sertai berlari kecil menuju ke taman di mana Tiara berada.
Entahlah tiba-tiba dia merasa takut kalau Tiara melarikan diri dari nya saat ini.
"Semoga saja benar dia berada di sana," guman Alex.
Hos hos hos hos hos....
Sesampainya di taman itu, Alex sedikit berjongkok mengatur nafasnya.
"Akhirnya aku menemukan mu," lirih Alex dengan suara terputus-putus karena kelelahan.
"Kenapa pak? Sedari tadi aku di sini tidak kemana-mana," jelas Tiara memperlihatkan secangkir teh dan cemilan di meja.
"Ck aku sudah panik mencari kamu, ternyata kamu enak-enakan di sini minum teh sambil menikmati pemandangan," grutu Alex.
Alex pun langsung mendudukkan dirinya di atas bangku taman itu.
"Oh ya apa kamu sudah menghubungi kedua orang tua mu?" Tanya Alex memastikan.
"Ha, buat apa bos?" Tanya Tiara binggung.
Cup....
Tanpa di duga Alex mendaratkan bibirnya di pipi Tiara membuat Tiara terdiam kaku, dia begitu kaget melihat aksi bos nya itu.
Deg deg deg deg deg deg....
__ADS_1
Jantung Tiara seperti lari maraton di buat nya.
Wajah Tiara pun berubah merona saat ini, harusnya Tiara marah namun justru dia merasa senang. Tiara di buat binggung oleh perasaannya sendiri.
"Itu hukuman mu, karena kamu berkali-kali panggil saya pak bos, harusnya sih di bibir akan lebih nikmat namun aku takut kebablasan jadi aku ingin menahannya sampai kita benar-benar halal," jelas Alex membuat Tiara tertegun sejenak.
"Bilang ke orang tua kamu, mungkin dalam Minggu ini aku akan melamar mu," kata Alex tanpa rasa bersalah.
Dengan cepat Alex pergi dari sana, jujur setelah mencium pipi Tiara tadi membuat Alex sedikit canggung. Maka dari itu dia memilih pergi menghindari Tiara sejenak.
Sedangkan di kamar mewah...
"Mami benar mau menikahkan mereka berdua?" Tanya Papi Rendra.
"Ya itu sih keinginan mami,memang kenapa? Papi keberatan?" Tanya mami menatap tajam papi Rendra.
G L E E K....
"He he he he he, bukan begitu," kata papi berusaha mendekati mami dan memeluk nya.
"Oh kirain papi keberatan. Menurutku tuh perempuan sepertinya baik dan apa adanya bukan seperti ulat bulu," jelas mami membuat papi menganga di buatnya.
"Duh mami tahu banget sih jenis-jenis ulat bulu," kata papi mengelengkan kepalanya.
"Ya tentu secara dari dulu kan mami yang sudah membasmi semua ulat bulu yang berusaha mendekati papi jadi mami tahu bagaimana tingkah laku mereka. Mami juga sudah selidiki latar belakang tuh perempuan, meskipun dari keluarga kampung dan tidak sekaya kita sih tetapi mami setuju kok, jujur mami dah suka dengan pilihan Alex kali ini," jelas mami panjang lebar.
Plakk....
"Auhhh sakit mi...." Teriak papi Rendra saat sang istri memukul pundak nya karena kesal.
"Mami suka banget sih pukul papi, nih sudah kdrt loh mi," kata papi Rendra mendrama tak jelas membuat mami memutar bola matanya dengan malas.
"Ck dasar papi lebay, ya sudah sana keluar dan nanti malam tidur saja di depan pintu," ancam mami kepada suami tercinta nya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, jangan dong mi. Nanti papi kedinginan tidak ada yang di peluk," papi memohon kepada istrinya dengan wajah memelas.
"Ya sudah. Pijitin kaki mami dong Pi, capek," pinta mami.
"Baik nyonya besar," jawab papi.
"Ck dasar lebay," kata mami melirik ke arah sang suami.
''Teserah mami bilang apa," jawab papi lesu.
"Oh ya Pi kapan kita belanja, sudah satu Minggu nih mami bosan di rumah. Bagaimana kalau kita ke negara tetangga berburu sepatu dan tas buat mami arisan nanti," kata mami dengan tatapan mata berbinar.
"Terserah mami, kan nyonya besar yang berkuasa di rumah ini," kata papi pasrah, dia tak ingin salah berbicara dan berakhir tidur di luar lagi.
__ADS_1
"Aduh manis banget sih suami ku kalau begini," kata mami mencubit pipi papi Rendra dengan gemas.
"Aduh lupa, papi sih ngajak mami ngobrol terus dari tadi. Mami jadi lupa belanja kebutuhan dapur karena banyak yang sudah habis," jelas mami menepuk keningnya pelan.
"Awas Pi, mami mau keluar," kata mami menurunkan kakinya dari ranjang.
Setelah itu mami bergegas menuju ke dapur, menemui kepala pelayan.
"Ck padahal mau merayu biar di kasih jatah, duh apes..." Grutu papi Rendra dengan kesal karena niatnya gagal sebelum terucap.
Sedangkan Tiara....
Tiara masih memegang pipinya yang tadi di kecup oleh bos nya itu.
"Apa kah ini mimpi, pak Alex tadi bilang mau melamar ku dan meminta ku menghubungi kedua orang tua ku," lirih Tiara memegang dadanya yang masih berdebat kencang.
Dengan cepat Tiara tersadar. Dia pun mengambil ponsel dan menghubungi kedua orang tuanya di kampung.
Tut....
"Assalamualaikum pak, ini tiara," kata Tiara saat sambungan telephon itu terhubung.
"Anakku Tiara, piye ndok kabar mu?" Tanya bapak dengan berkaca-kaca karena senang putri pertamanya menghubungi nya.
"Alhamdulillah pak, apik," jawab Tiara dengan begitu bahagia bisa mendengar suara cinta pertama nya itu, ya cinta pertama anak perempuan yang tak lain adalah Bapak nya.
"Ibu mana pak?" Tanya Tiara.
"Ibu mu sek nang pasar, Alhamdulillah panen tomat bapak lumayan," jelas bapak melalui sambungan telepon.
"Oh Alhamdulillah ngeh pak,"
"Ono opo nduk, kok telephon bapak?" Tanya bapak di sebrang sana.
"Pak seandainya ada yang mau melamar Tiara apakah bapak setuju," kata Tiara dengan ragu-ragu, takut bapak nya itu kaget ataupun menolak.
"Alhamdulillah ndok, bapak sih setuju ae asal lelaki iku baik lan sayang karo awak mu," jelas bapak di sebrang sana.
"Nanti Tiara kabari lagi, ngeh pak. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,"
"Iya nduk, seng hati-hati jaga diri ya Ojo lali kabari bapak maneh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu," jawab bapak.
"Engge pak," jawab Tiara dengan sopan.
Tiara langsung mematikan sambungan telepon, dia bernafas lega karena bapak sepertinya setuju.
Bersambung...
__ADS_1