
"Terimakasih berkat pak Beni tuh wanita jadi-jadian langsung pergi," jelas wanita bernama Rina itu dengan berbinar menatap ke arah Beni dengan riang.
"Kamu, kalau begini saja bawel terus tadi diam saja saat menghadapi tuh perempuan," kata Beni menatap sinis ke arah Rina.
"He he he he he he he, bapak bisa saja," kata Rina cengengesan.
"Untung kamu teman saya, kalau tidak sudah ku pecat kamu dari sini," kata Beni menatap tajam ke arah Rina saat ini.
"Jangan dong pak, nanti anak saya makan apa?" Pinta Rina memelas.
"Makan nasi lah masa makan batu. Salah sendiri kecil-kecil dah nikah," kata Beni menjawab ucapan dari temannya itu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, pak Beni pokoknya pak Beni tidak boleh pecat saya, bapak tahu sendiri kan saya tuh singel parents terus kalau saya di pecat nanti anak saya bisa kelaparan karena mama mereka tidak punya uang buat beli susu sama makanan," kata Rina panjang lebar menjelaskan ke Beni kesulitan yang akan dia alami kalau sampai dia tidak bekerja.
"Huuu saya lama-lama bisa stress kalau dengar kamu dari tadi nyerocos berbicara terus," grutu Beni.
"Cepat kerja atau beneran saya pecat kamu," bentak Beni karena tak ingin mendengarkan perempuan bawel itu mengoceh untuk kesekian kalinya.
Beni langsung meninggalkan tempat itu dan menuju ruangannya.
"Untung ya Bu Rina selamat tidak jadi di pecat," kata Pak satpam.
"He he he he he he, iya pak keberuntungan masih berpihak ke saya," jawab Rina asal.
Sedangkan di ruangan kerja milik Alex.
"Apa besok aku ikut saja ya ke rumahnya yang bada di kampung," guman Alex berfikir keras.
"Bagaimana kalau dia menolak? Ahhhh apa aku harus menempatkan mata-mata ya untuk mengawasinya di sana, hu aku takut dia berubah pikiran dan kabur dengan keluarganya," sambung Alex memikirkan Tiara sedari tadi.
Ya Alex begitu takut kalau Tiara berubah pikiran dan pergi meninggalkan dia, Alex takut Tiara kabur dan menolaknya.
Tiba-tiba senyum aneh terlintas di benak Alex saat ini.
"Ah sudahlah aku harus menyelesaikan semua ini dulu," kata Alex melirik ke arah dokumen yang sudah menumpuk di meja nya saat ini.
...----------------...
Keesokan harinya....
Seperti biasa mereka semua sudah berada di meja makan, kegiatan wajib pagi hari ini adalah sarapan bersama.
"Sayang, apa semua sudah siap tidak ada yang ketinggalan kan?" Tanya mami di sela-sela makan sambil menatap ke arah Tiara dengan lembut.
"Susah kok mi," jawab Tiara tanpa ragu.
__ADS_1
"Baju kamu kemarin jangan di bawa semua, bawalah sedikit saja kan cuma 2 hari," kata Alex menyela.
Ya Alex tahu kalau Tiara akan pergi pulang kampung untuk memberitahu kepada ibu dan ayahnya.
"Lho bukannya aku di sana 2 Minggu ya sayang, terus nanti sehari sebelum kita menikah baru aku balik ke sini," kata Tiara memprotes ucapan dari bos sekaligus calon suaminya itu.
Alex tercengang, dia tak tahu pikiran Tiara karena Tiara cuma mengirim pesan kepada nya kemarin dan bilang kalau dia akan pulang ke kampung beberapa hari, bukannya beberapa Minggu.
Ahh sungguh membayangkan wanita itu berjauhan dari nya saja sudah membuat dia sesak.
"Sudahlah nak, biarkan Tiara di sana beberapa Minggu, toh nanti kita juga menyusul tiara ke kampung nya untuk melamarnya, setelah acara lamaran nanti pasti Tiara masih kangen dengan kedua orang tuanya," kata mami mengerti perasaan Tiara saat ini.
"Iya sayang, ijinkan aku untuk di sana lebih lama. Aku sudah lama tidak pulang kampung," lirih Tiara dengan wajah sendu teringat kedua orang tua nya saat ini.
Alex menghela nafas panjang, dia tak ingin di sebut kejam karena menghalangi anak dan orang tua nya berkumpul.
"Iya tetapi kamu harus hubungi aku setiap hari, awas kalau sampai kamu lupa atau tidak mengangkat panggilan dari ku, jangan salahkan aku jika aku tiba-tiba muncul di depan mu," kata Alex mengingatkan namun justru seperti ancaman untuk Tiara.
Baik mami maupun papi mengelengkan kepalanya, melihat sifat posesif anaknya itu.
"Terimakasih..." Kata Tiara dengan tulus menatap pria tampan itu.
"Hmm.... Ingat pesanku," kata Alex mengingatkan.
"Ayo kita lanjutkan makan nya," kata mami menambahkan beberapa lauk di piring calon menantunya itu.
Entahlah mami begitu senang melihat Tiara menjadi menantunya, dia terlihat sederhana cantik alami dan dia juga rendah hati dan yang paling penting itu tidak gila harta seperti mantan kekasih Alex dulu.
15 menit berlalu...
Semua hidangan sudah tak tersisa di puring mereka semua.
Semuanya sedang berdiri di teras rumah.
"Ayo aku antar," kata Alex.
"Ya sudah, hati-hati ya nak jangan lupa hubungi mami kalau sudah sampai di kampung," pinta mami sambil memeluk Tiara dengan erat.
"Iya mi," Tiara terharu melihat betapa tulusnya wanita di depan nya itu.
"Papi tidak bisa ikut mengantar karena papi masih ada rapat penting pagi ini, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kita kalau di sana kamu mengalami kendala," kata papi Rendra mengelus rambut Tiara seperti anaknya sendiri.
"Iya Pi,"
Tiara pun akhirnya masuk ke dalam mobil Alex.
__ADS_1
Supir dengan cekatan melajukan mobilnya menuju ke arah bandara.
"Nih kamu pakai kalau di sana, terserah kamu mau beli apapun," kata Alex melemparkan ATM kepada Tiara saat ini.
"Untuk apa?" Tanya Tiara menyergit binggung.
"Aku tidak mau, aku tidak ingin merepotkan mu," lirih Tiara.
"Ck itu cuma ATM dan isinya tidak seberapa, atau kamu mau yang ini," kata Alex mengeluarkan black card yang ada di dompetnya untuk di serahkan kepada Tiara.
Tiara terbengong di buatnya.
"Kamu harus pilih salah satu kalau tidak kamu tidak boleh pulang dan uang di dalam kartu itu harus berkurang isinya kalau tidak aku akan menghukumnya," jelas Alex panjang lebar penuh ancaman.
Glekk...
Tiara tak punya pilihan lagi.
"Aku ambil ATM ini aja," kata Tiara dengan ragu-ragu.
Tiara tak pernah berfikir dalam hidupnya memegang kartu sakti itu jadi Tiara memilih ATM yang isinya tak seberapa.
"Pin nya tanggal lahir kamu dan isi di dalamnya cuma 100 juta," jelas Alex memberitahu karena Tiara tak mungkin meminta kepada Alex menurut Alex mengingat pribadi Tiara.
Mobil akhirnya berhenti di bandara. Alex pun turun untuk mengantar kepergian kekasihnya itu.
Cup
"Jangan lupa kabari aku," kata Alex tak lupa mengecup kening Tiara.
Hal itu mampu membuat wajah Tiara merona di buatnya.
Tiara hanya mengangguk setuju setelah itu dia berjalan menuju masuk ke dalam.
Tiara melambaikan tangan ke arah Alex.
Setelah tak melihat Tiara lagi, Alex mengambil ponselnya dan menekan salah satu nomor seseorang.
"Ikuti dia, jangan sampai terjadi apa-apa dengan dia kalau tidak nyawa kamu taruhannya," kata Alex dengan dingin kepada seseorang di sebrang sana.
Klik...
Panggilan terputus. Alex pun berbalik pergi karena pagi ini berkerja menumpuk di meja menunggu dirinya.
Bersambung.....
__ADS_1