
Sehari pun berlalu keesokan harinya....
Tiara sudah membereskan semua barang-barangnya yang ada di meja kerjanya dengan teliti, Tiara memilah barang apa saja yang akan dibawa dan barang yang akan dia buang nantinya.
Tiara tak ingin barangnya terlewat satu pun.
Tiara menghampiri temannya satu persatu, untuk berpamitan kepada mereka semua.
Tiara pun memeluk temannya salah satu jujur Tiara begitu enggan untuk meninggalkan kantor yang selama ini telah memberikan banyak pengalaman untuknya mulai dari kebahagiaan saat ia bertemu dengan Reno sampai penghianatan yang Reno lakukan kepadanya. Tiara juga teringat dulu bagaimana saat pertama kali nya berkenalan dengan Vera, Mutia, Mita, Bima, dan Reyhan sehingga menjadi teman akrab sampai saat ini.
"Aku pasti kangen kalian semua," lirik Tiara memeluk mereka satu persatu.
"Jangan lupa main ke sini lagi," kata Vera.
"Iya jangan lupakan kita-kita ya," kata Mita.
"Ya ayangku pergi deh," kata Bima dengan sendu.
"Baik-baik di sana, kalau ada apa-apa jangan segan untuk hubungi kita," kata Reyhan dengan bijaksana.
"Kalau kamu sudah sukses di sana jangan lupa sama aku ya," kata mutiara yang mendapat gelak tawa dari semuanya.
"Terimakasih kalian semua sudah mau menjadi teman ku selama di sini," kata Tiara sendu.
Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks ....
Semua pun menatap Tiara dengan sendu terdapat sebuah kesedihan dari tatapan mereka semua, mereka semua masih belum rela kalau Tiara pergi meninggalkan mereka.
Awalnya Vera memeluk Tiara, Mita pun ikut memeluk Vera dan Tiara. Mutia yang melihat mereka berpelukan pun ikut berpelukan.
Bima pun hendak ikut memeluk mereka semua, namun dengan cepat Reyhan menarik Bima.
"Eittss mau kemana?" Tanya Reyhan menatap Bima tajam.
"He he he he he he, ikut mereka," kata Bima dengan polosnya.
Reyhan melotot memberikan kepalan tangan ke arah Bima.
Bima pun ciut di buatnya.
__ADS_1
"Ehemmm...."
Mendengar suara deheman dari arah pintu membuat semuanya serempak menoleh.
"Eh Pak Beni," kata Reyhan dengan kikuk.
Melihat pak beni yang ada di depan pintu ruangan, membuat mereka semua pun terdiam. Suasana di dalam ruangan yang tadinya ramai dengan tawa maupun tangisan berganti menjadi senyap seketika.
"Maaf pak, ada perlu apa ya?" Tanya Bima begitu penasaran.
"Maaf nona Tiara, cepat anda harus segera ikut saya karena di panggil bos Alex jangan lupa hari ini anda ikut untuk pindah ke kantor pusat," jelas pak Beni tanpa basa-basi.
"Baik pak," jawab Tiara dengan lesu.
"Eh Pak tunggu," kata Tiara dengan tergesa-gesa memanggil Beni yang sudah beranjak pergi ke arah ruangan pak bos.
"Ada apa?" Kata Beni memutar tubuhnya untuk berbalik karena mendengar suara orang memanggilnya.
"Em itu emm.... " Tiara binggung harus berbicara apa.
"Cepat katakan karena saya tidak punya banyak waktu," kata Beni menatap Tiara dengan tajam.
"Terus nanti saya tinggal di mana pak? Kan saya tidak kenal daerah sana terus barang-barang saya masih ada di kost bagaimana?" Tanya Tiara dengan canggung.
"Nanti anda akan di kasih tempat tinggal di dekat kantor meskipun tak begitu besar namun cukup untuk anda tinggal sendiri, dan untuk barang-barang yang ada di kontrakan nanti biar pak Ujang supir kantor yang akan mengantar pulang ke kost untuk mengambil dan sekalian biar dia yang akan mengantar anda ke kantor pusat," jelas pak Beni selaku orang kepercayaan Alex.
"Em.... Maaf pak tetapi jujur saja saya boleh tidak menolak, saya belum punya pengalaman sama sekali menjadi sekertaris pak," kata Tiara memelas.
Beni di buat gelagapan, dia juga binggung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin bilang sejujurnya saat ini.
"Maaf nona, tetapi itu semua keputusan dari bos Alex jadi kalau anda ingin protes silahkan nona berbicara dengan bos alex sendiri," jawab Beni setelah itu berlalu pergi meninggalkan Tiara yang masih mematung di tempatnya saat ini.
"Ayo nona silahkan," ajak Beni saat melihat Tiara yang masih terdiam di tempatnya.
Tiara pun tersadar dari lamunannya, dia pun berlari kecil mensejajarkan langkah kaki nya untuk mengikuti langkah Beni menuju ruangan milik Alex.
Beni menghela nafas panjang, sesaat setelah sampai di depan ruangan milik Alex.
'Semoga hari ini suasana hati bos Alex sedang baik-baik saja,' batin Beni penuh harap.
__ADS_1
Tok tok tok tok tok.....
"Bos....! Nona Tiara sudah berada di sini," kata Beni saat berada di depan pintu.
"Masuk," perintah Alex.
Tiara pun masuk mengekori langkah Beni.
"Silahkan duduk nona Tiara," kata Alex penuh wibawa menatap Tiara dengan tajam.
"Baik pak," jawab Tiara dengan gugup karena tatapan Alex begitu mengintimidasi dirinya saat ini.
"Kamu kenapa tidak pergi?" Tanya Alex ke asisten kepercayaan nya itu.
"Ma-af pak bos, lupa," setelah berbicara seperti itu Beni pun berlari cepat meninggalkan ruangan Alex.
Sedangkan Tiara melotot di buatnya.
'Hadeeh kenapa juga harus di tinggal sih, apalagi sama bos seperti ini. Nanti bagaimana kalau dia ngamuk,' guman Tiara di dalam hati nya ketakutan.
"Saya tahu pasti anda bertanya-tanya, mengapa hanya anda yang saya pindah tugaskan ke kantor pusat dan menjadi sekertaris saya," kata Alex menatap Tiara tanpa berkedip.
Tiara yang di tatap sedemikian rupa pun menjadi gugup di buatnya.
"I-ya pak," jawab nya.
"Saya terpaksa menempatkan anda sebagai sekertaris saya karena saya tidak punya waktu untuk mencari sekertaris baru, entahlah kenapa mereka tidak ada yang bekerja dengan benar dan tidak bisa mengimbangi kinerja saya, saya cuma butuh sekertaris tak perlu cantik ataupun seksi yang penting otak cerdas, cekatan, tidak lambat. Masalah gaji anda jangan khawatir karena gajinya 2x lipat dari gaji anda sebelumnya kalau anda mau silahkan baca dan tanda tangan kalau anda keberatan silahkan ambil pesangon anda," kata pak Alex begitu jelas melemparkan berkas perjanjian kerja ke arah Tiara.
"Saya tidak ingin memaksa anda takutnya anda stres terlebih lagi saya dengar anda sedang patah hati," kata pak Alex tersenyum mengejek.
Tiara yang mendengar pria di depannya itu dengan terang-terangan mengejek dirinya, Tiara pun mengepalkan tangannya erat-erat.
"Maaf pak itu bukan urusan anda," kata Tiara terdengar ketus.
"Saya berbicara sejujurnya, karena saya takut anda tertekan karena harus menjadi sekertaris saya, kalau anda setuju silahkan tanda tangan saja karena saya masih banyak urusan," jawab pak Alex sesekali melihat jam di tangannya.
Tiara pun membaca kontrak kerja di depan nya satu persatu dengan teliti, dia tak ingin salah mengambil langkah. Matanya melotot saat membaca poin nomor 1.
"Maaf pak, apa ini tidak salah yang poin pertama?" Tanya Tiara dengan hati-hati.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah, itu semua sudah benar," kata Alex menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran nya.
Bersambung....