
Pria tampan berbadan kekar dengan aura kekuasaan yang sangat kental, terkekeh saat melihat pria paruh baya yang duduk gelisah di hadapannya dengan peluh yang terus berjatuhan.
Berbeda dengan gadis cantik bernetra bulat yang sedari tadi duduk diam sambil menatap seorang pria yang usianya kira-kira tiga puluh tahunan, berdiri tegap tanpa bergerak sedikit pun.
"Apa kau akan menikahiku dengan bocah SMA, Mr. Deandra?" Pertanyaan sekaligus menyindir, keluar dari mulut pria tampan yang sedari tadi menatap kedua orang di hadapannya.
Yang ditanya pun seketika gelagapan. "A–apa m–maksud anda, Tuan Zen?" Peluh semakin membanjiri wajahnya.
"Berapa usianya?" Bukannya menjawab, pria bernama Zen malah balik bertanya.
"Sembilan belas tahun, Tuan."
Zen menaikkan setengah alisnya. "Sembilan belas tahun? Ck, lelucon apa ini." Dengusan kasar terdengar. "Sam? Persiapkan semuanya."
Seperti sudah tau apa yang dimaksud tuannya, pria yang kira-kira lebih tua sedikit dari Zen menganggukan kepalanya. "Baik, Tuan."
Mata Zen beralih menatap gadis yang sedari tadi menatap Sam. "Dan kau, bersiap-siaplah. Minggu depan kita menikah."
Gadis cantik itu mengerutkan dahinya. "Menikah? Apa itu menikah?"
__ADS_1
Pertanyaan polos itu membuat Zen sedikit terkejut dalam hati.
'Sepertinya ini akan menarik,' batin Zen lalu tersenyum miring.
"Selama ini, apa yang kau ajarkan pada putrimu, Mr. Deandra?" Zen bertanya dengan nada sedikit mengejek.
"Ehm, anu–"
Zen mengangkat tangannya tanda untuk berhenti. "Sudahlah." Zen beralih menatap gadis yang belum diketahui namanya. "Kau ingin tau apa itu menikah?"
Dengan cepat gadis itu menganggukan kepalanya dengan antusias. "Eum ya, Tuan!"
Tidak sopan memang. Namun, itulah dia. Zen Bagaskara. Seorang pria berusia dua puluh delapan tahun yang diberkati wajah bak Dewa Yunani. Zen adalah pria yang suka berganti pasangan tanpa hubungan.
Zen hanya menganggap mereka mainannya saja, tidak lebih. Para wanita pun tidak keberatan dengan itu. Mereka sudah tau bagaimana sifat bajing^n Zen.
Zen pun tidak asal untuk memilih pasangan atau teman main. Ia akan menyuruh sekertaris kesayangannya untuk mengecek kesehatan tubuh mereka. Dan, yang pernah menjadi pasangan Zen pun, tidak main-main, kebanyakan dari mereka adalah wanita dewasa, sexy dan anggun.
Namun, ia tidak pernah menyangka akan menikah dengan gadis cantik yang ternyata sangat polos.
__ADS_1
Jangan salah, setelah pria paruh baya menyedihkan itu menawarkan putrinya agar ia tidak dipecat, Zen telah menyuruh Sam untuk mengecek latar belakang gadis itu.
Sam dalam sehari sudah berhasil mengumpulkan informasi detail gadis itu. Mulai dari umur, kebiasaan, yang disukai atau tidak, dan masih banyak lagi. Zen pun telah membaca detail informasi itu, mines sifat polosnya.
Zen juga telah mengetahui nama gadis itu, dan umurnya, tetapi berlagak tidak tau tentang umur sengaja untuk menyudutkan pria paruh baya itu. Tetapi, kalau nama gadis itu Zen benar-benar lupa.
Perlu diketahui, Zen menikahi gadis itu bukan karena cinta, tetapi ia hanya akan bermain-main saja. Cinta? Baginya itu hanya lelucon semata, ia tidak mempercayai hal-hal semacam itu. Pernikahan apalagi, baginya pernikahan itu tidak ada artinya dan hanya sebatas status saja.
Tidak pernah ada cinta dalam hidupnya, ia tumbuh tanpa kasih sayang. Oleh karena itu ia menjadi pribadi yang suka bersenang-senang dengan dunia malam.
Hidupnya pun seperti sayur tanpa garam, hambar.
_____
Hai! Author kembali lagi dengan cerita baru akibat nggak tau mau ngapain lagi.
Di sini gak bakalan diceritain secara detail karakter masing-masing tokoh, tapi aku mau tantang kalian buat menebak karakter mereka. Good luck!
Semoga suka, ya ....
__ADS_1