Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Time to Play


__ADS_3

Pria dengan pakaian formal, berjalan memasuki loby kantor dengan sorot mata tajam seakan-akan yang menatapnya langsung terbelah dua jika menatap lama.


Ditambah aura dingin yang mendominasi, membuat siapa saja berpikir berkali-kali untuk mendekatinya.


Sang pria sedang berada dalam kondisi badmood dan sedang tidak ingin diganggu. Namun, tentunya ia tidak akan mencampur urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.


Perlu dicatat, pekerjaan sangat penting dihidupnya, mereka tidak akan pernah terpisahkan. Ia bagaikan pencandu narkoba, akan terus menerus menggunakan barang terlarang itu seumur hidupnya.


Akan terhenti jika adanya suatu pengalihan. Jika pun teralih, itu sudah suatu keajaiban.


Begitu juga dengan sang pria, ia membutuhkan suatu pengalihan agar tidak selalu berurusan dengan berkas-berkas secara berterusan, hingga akhirnya hidupnya monoton.


Setidaknya jika adanya pengalihan, ia akan bekerja seperti orang normal.


***


"Sial! Bagaimana bisa lupa?!" Pria yang sedang duduk pada kursi kebesarannya, mendesah frustasi. Hari ini adalah hari yang paling sial dalam hidupnya.


Berkas penting yang akan digunakan sebagai bahan meeting untuk melebarkan sayap perusahaan, tertinggal di rumah akibat keterburu-buruannya.


"Kau, pergilah." Pria itu menyuruh pekerjanya yang mengingatkan berkas meeting tadi padanya, untuk pergi.

__ADS_1


"Baik, Tuan Zen," balas pekerja wanita tadi sebelum undur diri.


Setelah tertinggal Zen dan sekertaris Sam, Zen kembali mendesah kasar. "Kalau saja bukan karena gadis itu, semua akan berjalan lancar!"


Sebenarnya, Zen tidak akan terlalu berlebihan seperti ini, pembawaannya santai. Namun, entah kenapa gadis polos di rumahnya itu berhasil membuatnya kesal bukan main.


Ngomong-ngomong tentang gadis itu, Zen mempunyai suatu ide yang akan menyenangkan dalam otaknya.


Dalam sekejap, raut kesalnya tadi berubah netral dan senyum miring terukir pada sudut bibirnya. "Sam?"


"Ya, Tuan?" jawab sekertaris Sam.


"Apa menyuruhnya saja untuk membawa berkas-berkas yang tertinggal?" tanya Zen.


Zen juga terlihat ragi, tetapi ia segera membuang jauh-jauh pikirannya. "Tidak, tidak. Pasti dia sudah bisa berjalan. Anggaplah, ia sedang bertanggung jawab karena sudah membuatku kesal. Bagaimana, bukankah itu ide bagus?"


Yang ditanya pun hanya bisa pasrah dan mengangguk.


'Apakah ada seorang suami seperti ini? Mungkin hanya Tuan Zen saja. Hah, Maafkan saya, Nona," batin sekertaris Sam.


"Ponselku, Sam." Entah kenapa, ia sangat bersemangat untuk mengerjai sang gadis.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Sekertaris Sam mengeluarkan ponsel mahal tuannya dari dalam saku.


Zen mulai mencari nama kontak untuk dihubungi. Namun, yang dicari pun tak kunjung ada. Ah, dia baru ingat kalau tidak mempunyai kontak sang gadis.


"Sam? Kau punya kontak si lugu?" Zen bertanya tanpa menatap sekertaris Sam.


"Punya, Tuan," jawab sekertaris Sam dan memberikan kontak si lugu julukan dari Zen.


Setelah mempunyai kontak yang akan ia hubungi, Zen memikirkan nama untuk menyimpannya. Berpikir keras, akhirnya ia mendapati nama yang bagus dan anti-mainstream.


Sudah mendapatkan nama yang tepat, Zen segera menghubungi sang gadis.


"Halo, ini siapa?" Suara yang sangat sopan masuk ke dalam gendang telinga, terdengar.


Zen menyeringai. Bertanda permainan akan segera dimulai dari sekarang, karena yang sebelumnya sempat tertunda.


'Time to play, Honey,' batin Zen lalu menyeringai.


_____


Hai semua! Maaf lama update ya. Soalnya ada kendala sedikit. Nanti sore/malam, kalau urusan sudah beres bakal update lagi.

__ADS_1


Komen dan likenya dong, supaya semangat update, hehe. Thanks!


__ADS_2