Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Sebenarnya Kenapa?


__ADS_3

"Eumh ...." Erangan panjang terdengar. Tampaknya, seseorang yang terbaring di atas sofa akan terbangun. Badannya pegal dan kurang enak, tetapi napasnya sudah lebih teratur dibandingkan sebelumnya.


"Elena, di mana?" Seseorang itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Elena. Ya, seseorang itu adalah Elena. Gadis lugu itu terlihat mengerutkan dahi, mencerna apa yang terjadi padanya. Ia berusaha keras menggali-gali pikirannya. Namun, semakin ia mengingat, semakin pening juga kepalanya.


Ruangan tempat ia dibaringkan pun, sepi dan gelap. Hanya cahaya dari lampu kerja yang menerangi ruangan. Hatinya mulai gundah. Elena berencana akan bangkit dari sofa dan mencari pertolongan. Ia takut.


Namun, baru saja akan bangkit, badannya lemas bukan main, kepalanya pun tidak mendukung rencana, sangat pening. Terpaksa, ia kembali berbaring.


Tiba-tiba saja, isakan kecil terdengar dari bibir ranumnya. "Ayah ...." Elena menyebut ayahnya, karena jika sedang sakit ia hanya dirawat ayahnya seorang, dan jika ia terbangun menangis, hanya beliau lah yang membujuk dan menemaninya.


Tangisnya semakin keras kala tak mendapatkan jawaban dari beliau dan mengingat jika beberapa hari terakhir ini ia sudah tidak tinggal lagi bersama ayahnya.


Padahal, yang menyebabkan ia begini, adalah Anthony ayahnya. Dan yang terburuk, ia dijual oleh beliau tanpa sepengetahuan dirinya. Sungguh menyedihkan kehidupan gadis itu.


***


"Tuan Zen ... Tuan di m–mana ...." Sang gadis lugu pun masih terisak. Entah sadar atau tidak, ia mencari keberadaan suaminya. "E–Elena, takut ...."

__ADS_1


Tangisnya semakin keras kala mendengar suara sensor wajah yang sedang mendeteksi tanda pintu akan terbuka otomatis dan seseorang akan memasuki ruangan.


"Jangan sentuh, Elena!" seru gadis itu sembari menutup mata saat merasakan tangan kekar menyentuh pundaknya.


"Kau kenapa?" Suara berat yang sangat familiar dalam pendengarannya dan terdengar bingung, membuat Elena membuka kedua matanya.


Dalam hatinya ia lega mengetahui siapa sang pelaku. Dengan cepat dan menghiraukan tubuh lemas dan pening yang kembali menyerangnya, Elena segera berhambur ke dalam pelukan sang pelaku hingga mereka sedikit terjungkal ke belakang.


"Tuan Zen ... Elena takut, kenapa Tuan tinggalkan Elena sendiri ...," lirih sang gadis tersedu-sedu.


Pria itu adalah Zen. Ia belum mengeluarkan sepatah kata dan masih mencerna yang saat ini terjadi.


"Ck, apa setiap hari kau mengonsumsi pengeras suara atau semacamnya? Suaramu sangat menyakiti telingaku." Zen mendengus dengan Elena yang masih bergelayut pada pinggangnya.


Namun, sesudah ia berkata begitu, sang gadis lugu kembali terisak keras. Dan itu membuatnya bertambah bingung, kenapa gadis ini menjadi sangat cengeng?


Apa salahnya? Ia bahkan baru menyelesaikan meeting yang lumayan melelahkan dari siang dan baru kelar malam ini.


"Kau ini sebenarnya kenapa?" tanya Zen yang mulai kesal. Namun, semakin Zen bertanya, semakin juga Elena menangis.

__ADS_1


"Tuan jahat!"


Sekertaris Sam yang mengerti keadaan Nona mudanya, segera membisikan sesuatu pada Zen.


"Tuan, Nona muda memang sangat manja dan cengeng jika ia sedang sakit. Nona muda akan semakin menangis jika Tuan tidak mengerti apa yang Nona muda inginkan." Sekertaris Sam membisikan sebagian penyebab yang membuat Elena semakin menangis.


Zen memutar bola matanya malas. "Sekarang aku memang menikahi seorang bocah," ujarnya pelan. Ia telah mengerti apa yang diinginkan istrinya dan yang harus dilakukannya.


"Untung kau sedang sakit." Dengusan kasar keluar dari mulut Zen.


"Tuan ...." Sang gadis menatap Zen dengan mata berair, bibirnya melengkung siap untuk kembali mengeluarkan isakkan keras. Ternyata ia mendengar perkataan Zen, dan itu tambah membuatnya ingin menangis.


"Hell, ini apa lagi!"


_____


Halo! Maaf, ya atas keterlambatan untuk update, soalnya otak lagi mentok, dan dari tadi pagi sampai sore belum ada satu kata yang ditulis. Entah kenapa, kalau malam ide baru ngalir, makanya terbiasa update malam.


Basically I'm really sorry :)

__ADS_1


__ADS_2