Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Tidak Rela Tetapi Bangga


__ADS_3

"Bersiaplah, kita akan mengunjungi orang tuaku," ujar Zen dengan tetes-tetesan air yang berjatuhan dari rambutnya pada Elena.


Ya, Zen telah bangun duluan dan baru selesai mandi. Sedangkan Elena, ia baru saja membuka mata saat semenit sebelum Zen keluar dari kamar mandi.


Sudah dua hari, mereka terus tidur bersama. Jangan salah sangka, mereka belum pernah melakukan layaknya hubungan suami istri.


Tempo hari, saat leher Elena ada bercak merah, itu memang ulah Zen, tetapi hanya sampai di situ saja, tidak lebih. Selepas itu, sampai sekarang mereka hanya sebatas tidur bersama tanpa melakukan hal liar.


Usai mengatakan itu, Zen tanpa bicara lagi langsung berlalu ke walk in closet untuk bersiap.


Elena yang mendengar itu, masih mencerna apa yang dimaksud Zen. "Apa bertemu mama Rita sama papa Bram?" monolognya.


***


Elena telah siap dengan mini dres berwarna putih tulang yang dihiasi corak cherry berwarna kuning.


Model dress yang digunakan Elena, terbuka di bagian atas, hingga mempertontonkan bagian dada dan lehernya. Karena panjangnya hanya sampai pada pertengahan paha, kaki jenjangnya juga terekspos.

__ADS_1


Elena tidak risih dengan pakaiannya, karena ia sudah terbiasa. Lain lagi dengan Zen yang kelihatan keberatan. Sedari Elena turun ke bawa untuk sarapan, pria itu sudah mengoceh-ngoceh pada wanita itu.


Entah kenapa, pria itu keberatan. Ada sedikit tidak rela melihat kaki dan bentuk badan sang gadis terekspos. Tetapi, tidak mungkin juga ia menunjukan ketidaksukaannya secara jelas, gengsinya sangat tinggi.


Maka dari itu, ia hanya bersembunyi di balik hinaannya pada gadis itu. Entah ia bilang sang gadis tidak cocok memakai dress itu lah, jelek lah, terlihat gemuk lah, intinya berbagai hinaan sudah ia kasih pada gadis itu.


Namun, tidak dipungkiri bahwa ia cukup bangga saat gadis itu tidak menutupi bekas gigitannya. Padahal, ada banyak sekali bercak merah yang tandanya masih sangat jelas.


Seperti saat ini, ia memamerkan hasil ulahnya pada sekertaris Sam yang sedang duduk di depan mendampingi sang sopir.


'Hasil karya pelukis apanya? Nona muda juga, apa ia tidak tau apa bagaimana? Hingga lehernya tidak ia tutupi? Hah, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, Nona,' batin Sam.


"Ya, Tuan. Bercak itu terlihat seperti hasil karya pelukis profesional," jawab Sam bohong. Sebenarnya Sam ingin berkata jujur, tetapi karena yang bertanya itu tuannya, maka yang bisa ia lakukan hanya berkata bohong.


"Ck, jujurlah Sam, aku tau kau bohong." Zen berkata seraya menyeringai setelah mendengar jawaban sekertarisnya.


Sam sudah menduga Zen akan menyadari kebohongannya. Namun, ia tetap berkata demikian untuk menyenangkan Zen, sekalipun kebohongannya dapat diungkap tuannya itu.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan."


Zen hanya mengedikkan bahunya acu. Baginya hal seperti ini sudah biasa. Kemudian matanya beralih pada kaki Elena.


Plak!


"Ih, Tuan! Sakit!" jerit gadis yang menjadi korban penamparan, menatap cemberut sang pelaku. Ya, Zen menepuk keras paha Elena.


Namun, Zen malah menatap tajam balik Elena. "Siapa yang menyuruhmu menggunakan dress bodoh ini?!"


Sekertaris Sam yang mendengar keributan di belakang kembali terjadi, mendesah kasar dan hanya bisa mengatai tuannya dalam hati.


'Oh, Tuan. Kenapa kau menjadi seperti gadis remaja yang sedang datang bulan? Sedari tadi suasana hatimu berubah-ubah. Dan, kenapa sedari tadi juga Tuan menanyakan siapa yang menyuruh Nona muda menggunakan dress itu?! Hah, sabar Sam, yang kau kata-katai itu tuanmu. Tarik napas ... buang ....'


_____


Like dan komennya, ditunggu, ya ....

__ADS_1


__ADS_2