Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Beruang Besar


__ADS_3

"Baiklah, sekarang Elena makan, ya? Mau sama siapa, mommy atau Zen?" tanya Merry sembari melepaskan pelukan dari sang gadis.


"Eum ...." Sang gadis menatap Zen takut-takut.


Yang ditatap pun, menghela napas, mengerti apa yang dimaksud oleh sang gadis. Begitu juga pria dan wanita paruh baya yang tersenyum kompak menggoda sang putra.


"Ehem, baiklah kalau begitu, kami pamit dulu." Kedua pasangan suamu istri yang telah setengah abad itu berlalu.


Setelah mereka berlalu, Elena kembali menatap Zen yang berada sedikit jauh darinya, takut-takut.


Menyadari tatapan Elena, Zen mengangkat sebelah alisnya dan berjalan ke arah sang gadis yang menunduk.


"Hah." Pria itu mendesah, kemudian menatap sebentar sang gadis sebelum menggenggam tangannya dan menarik entah kemana tanpa bicara.


Elena pun yang tidak tau apa-apa, hanya diam mengikuti kemana Zen akan membawanya.


***


Sungguh, kali ini Elena tidak bisa untuk tidak tersenyum. Bagaimana tidak? Zen membawanya ke tempat yang sedari tadi ia kagumi.


"Tuan, terimakasih," ujarnya menunduk, sembari memainkan jari.


"Jika sedang bicara, jangan menunduk, tatap wajahku." Zen menyentuh dagu Elena dengan telunjuknya, lalu mengangkatnya.


"M–maaf," jawab sang gadis, menatap wajah Zen dengan mata bulatnya.


Zen meresponnya dengan deheman dan menatap ke arah lain. Demi Tuhan, wajah Elena sangat imut, rasanya ia akan menciumi seluruh wajah sang gadis tanpa berhenti.


Dan tentunya, itu tidak boleh terjadi, Elena hanya mainannya saja, tidak lebih.


Namun, ia tidak tidur dengan mainannya, tidak membantu mainannya mandi, tidak membujuk mainannya jika menangis atau sedih, dan juga, ia tidak pernah meminta maaf kepada mainannya.


Namun pada Elena, lain cerita lagi, ia malah telah melakukan semua itu pada sang gadis. Tetapi tetap saja semua itu hanya karena semata-mata ia ingin bersenang-senang. Mungkin Elena spesial. Ya, mainannya yang spesial.

__ADS_1


Lagian, tidak mungkin ia mencintai sang gadis secepat ini. Ia adalah pribadi yang susah jatuh cinta, apalagi tipenya adalah wanita anggun dan dewasa, sangat berbeda jauh dengan sang istri.


Namun, tidak ada yang tau 'kan kedepannya? Zen juga belum merencanakan akan mencintai seseorang, itu adalah hal terakhir yang akan ia lakukan pada hidupnya.


"Maaf? Aku akan memaafkanmu jika kau menghabiskan seluruh buah yang kau ambil."


Ya, Zen membawa Elena ke halaman luas rumah orang tuanya. Tepatnya ke tempat yang sedari tadi Elena kagumi.


Tempat yang ada berbagai macam pohon buah dan tempat duduk yang menjadi pelengkap di setiap bawah pohon.


"Menghabiskan semua?" Elena menatap berbagai buah yang ia ambil dibantu sekertaris Sam dengan mata melotot. "Tapi, Elena mengambil semua ini bukan hanya untuk Elena, tapi juga buat Tuan Zen dan sekertaris Sam," lanjutnya.


Zen mengedikkan bahunya acu. "Aku tidak peduli, jika kau ingin mendapat maaf dariku, habiskan semua itu, jika tidak ingin berarti tidak usah kau habiskan."


"Baiklah, akan Elena habiskan," ujarnya lesu seraya membalikan tubuhnya untuk duduk dan menghabiskan banyak buah berbagai macam.


Pria itu menyeringai, mengingat sang gadis sangat gampang dimanfaatkan. Padahal, ia hanya ingin menjahilinya dan menunggu penolakan dari sang gadis, tetapi di luar dugaan, gadis itu malah mematuhinya tanpa penolakan. Benar-benar, memang.


"Diam dan makan saja, aku akan membantumu menghabiskan semua ini. Lagian, tubuhmu akan tambah melar jika kau memakan semua ini sendirian," jelas Zen yang mulai memakan buah yang telah dikupas dan dipotong.


Ia berbohong tentang alasan ikut menghabiskan buah karena nanti tubuh sang gadis akan tambah melar jika gadis itu memakannya sendirian.


Padahal, tubuh sang gadis ideal, dan alasan kebohongannya itu hanya untuk menutupi alibinya agar tidak secara terang-terangan menunjukkan perhatiannya pada sang gadis.


Entahlah apa isi jalan pikiran pria itu. Padahal katanya tidak cinta atau sayang, tetapi perhatian. Mungkin karena rasa kasihan. Pria itu tidak bisa ditebak memang.


***


Mereka, Elena dan Zen, menghabiskan semua buah dengan bersenda gurau. Keduanya tertawa lepas–tidak, mungkin hanya Elena.


Zen juga bersenang-senang, tetapi tidak sampai tertawa lepas, paling tidak tersenyum kecil dan menyeringai.


Bukannya ia tidak bisa tertawa lepas, tetapi ia canggung jika melakukan hal itu, dan saat ini bukanlah waktu yang tepat. Entah kapan itu akan terjadi.

__ADS_1


"Tuan tidak mau, sudah cukup, Elena tidak mau menjadi seperti beruang besar!" Gadis itu menjerit-jerit menolak suapan dari sang pria yang sedari tadi menjahilinya.


"Sudah-sudah, makanlah, kau tidak akan menjadi seperti beruang besar," ujar Zen.


"Benarkah?" tanya Elena ragu.


"Ya, benar. Kau tidak akan menjadi seperti beruang besar lagi, karena kau memang sudah seperti itu," goda Zen dengan seringaiannya seperti biasa.


Elena sudah tidak terlalu terkejut lagi, karena Zen memang dari tadi begitu. Namun tetap saja ia kesal.


"Tuan! Sudah cukup! Elena tidak seperti beruang besar! Elena normal!" serunya dengan bibir mengerucut.


"Itu menurutmu, tetapi menurutku kau seperti beru–"


"Cukup! Elena.normal!" Gadis itu berkata dengan penekanan dan membekap mulut Zen.


"Ya, ya, ya. Kau normal. Tetapi lepaskan dulu tanganmu, aku tidak bisa bernapas," ujar Zen sambil menarik Elena ke pangkuannya.


Entah apa yang merasuki Zen, ia mengendus-endus pada leher Elena dan melingkarkan tangannya erat pada pinggang sang gadis.


"T–Tuan seperti kucing kecil." Elena mengeluarkan suaranya walaupun terbata karena kegelian.


"Kenapa?" tanya Zen yang masih pada kegiatannya.


"Manja, ngendus-ngendus gitu," jawabnya tersenyum kecil.


"Hmm ...." Zen hanya meresponnya dengan deheman tanpa menghentikan kegiatannya.


____


Halo semua! Untuk yang kesekian kalinya aku minta maaf karena telat update. Ya, ada sedikit masalah, bukan sedikit tapi ... pokoknya ada lah. Jadi aku minta maaf jika beberapa hari kedepan akan telat update, semoga kalian sabar menunggu, ya. Dan terimakasih bagi yang masih setia di cerita ini, love u guys!


#IPTZSQUAD

__ADS_1


__ADS_2