
Sangat terpaska, Zen membantu memandikan Elena. Bukan, bukan seperti yang dipikirkan, tetapi Zen hanya menahan kaki Elena agar tidak terkena air.
Dengan posisinya yang berjongkok menahan kaki Elena di balik punggungnya dan Elena yang berada dalam bathup, Zen tidak akan dapat melihat tubuh Elena.
"Apa masih lama?" Zen mulai jengah. Kamejanya pun sudah basah hingga mencetak jelas otot-otot tangan, dada dan tubuh atasnya.
"Heum, handuk," jawab Elena sambil sesekali sesegukan.
"Handuk?" tanya Zen yang masih kurang paham karena Elena berkata setengah-setengah.
"Iya handuk. Bisa tolong Tuan Zen ambilkan?" Elena telah mengeringkan bathup, jadi handuk tidak akan basah.
"Baru sehari menyandang status sebagai istriku, kau sudah berani memerintahku, hm?" ujar Zen kesal. Namun, tak urung ia tetap mengambilkan handuk dan memberikan pada Elena yang ada di belakangnya.
"Maaf, Tuan." Suara Elena mencicit. Zen hanya meresponnya dengan tarikan napas kasar.
Gadis dengan bathrobe yang membalut tubuh indahnya, terlihat menimang-nimang untuk berkata sesuatu. "Tuan?"
"Hm, apa lagi?" desis Zen yang masih membelakangi Elena.
__ADS_1
"Elena sudah selesai," ujar sang gadis.
Zen yang mengetahuinya, langsung membalikan badan. Ia sedikit terpanah melihat Elena yang setengah tertidur di bathup dengan hanya menggunakan bathrobe sembari menatapnya dengan raut wajah lugu.
Bagaimana pun juga, ia adalah seorang pria dewasa yang akan tergoda jika melihat kondisi tubuh seorang gadis yang berisi dan hanya dibalut bathrobe. Ingat, hanya tergoda saja.
Tersadar dari keterpanaannya, Zen menaikan setengah alis dan bertanya. "Lalu?"
Sang gadis menunduk, mengerucutkan bibir dan kemudian memainkan jarinya, malah semakin terlihat menggemaskan hingga Zen rasanya ingin memakan gadis itu sekarang dan di tempat ini juga.
"Gendong," cicit Elena sembari mengangkat tangan minta dipeluk.
"Untung cantik." Zen dengan ogah-ogahan langsung menggendong Elena ala bridel style. Harum musk dan wood, mulai masuk ke dalam indra penciuman Zen saat Elena berada dalam gendongannya.
Sial!
***
"Tuan—"
__ADS_1
"Apalagi?!" Pria itu membentak. Ia sudah frustasi karena kamejanya basah dan terlambat untuk ke kantor. Walaupun ia bisa mengganti pakaiannya dan bisa ke kantor kapan saja, ia tetap tidak akan mau.
Zen adalah seseorang yang tegas, apalagi urusan kantor. Ia tidak bisa mentoleransi pegawainya yang terlambat. Namun, sekarang malah ia yang terlambat.
Refleks, sang gadis langsung berkaca-kaca. Padahal, ia hanya akan bertanya sesuatu yang penting. Ia juga tidak pernah dibentak. Maka dari itu, dadanya berdenyut tidak siap menerima bentakan.
"E–Elena hanya i–ingin bertanya u–ntuk memakai apa ... E–Elena tidak p–punya pakaian ...." Air mata mulai keluar dari sudut-sudut matanya. Ia merem^s tangan dengan bibir yang siap untuk mengeluarkan isakan.
Sial! Ia sudah salah membentak Elena. Ia baru ingat, jika gadis ini tidak pernah dibentak oleh si tua bangka.
Namun apa daya? Zen pria tampan dengan pribadi yang keras, ia tidak bisa berprilaku lembut. Bukan tidak bisa, tetapi dia tidak pernah. Maka dari itu, maaf-maaf saja jika Elena menangis setiap hari.
"Tunggu sebentar." Zen berbalik dan mengambil sesuatu dari lemari, kemudian melemparnya pada Elena yang terduduk di atas ranjang. Gelegapan Elena menggapainya.
"Pakailah dulu kaosku, aku akan menghubungi Sam untuk membawakan pakaian untukmu." Pria berkameja basah itu berkata dengan ragu.
"T–tapi, Elena tidak punya bra dan underwear ... apa Tuan Zen punya?" Pertanyaan polos itu keluar dari bibir ranum Elena.
Oke cukup. Elena memang polos dan Zen tidak akan meremehkan lagi kepolosannya. Tetapi, ini sudah keterlaluan! Bagaimana bisa ia mempunyai bra?!
__ADS_1
_____
Jangan lupa tinggalkan like dan komen selain next/lanjut, yuk!