
Suara rintikan hujan yang deras, membuat udara semakin dingin walaupun berada dalam ruangan tertutup. Orang-orang pasti akan lebih memilih menghangatkan tubuh ke dalam selimut, dibandingkan bangun dan beraktifitas.
Sama halnya dengan seorang gadis dengan masih menggunakan dress pesta, yang semakin menggulung tubuhnya di balik selimut.
Berbeda dengan seorang pria yang telah segar dan semakin tampan dalam balutan kameja putih yang membungkus erat tubuh kekarnya.
Erangan panjangan keluar dari bibir sang gadis. Perlahan, matanya terbuka dan mengerjap-ngerjap menyesuaikan penglihatannya pada cahaya lampu. Netra gadis itu mengelilingi seluruh ruangan.
Kerutan tercetak jelas di dahinya. "Di mana ini?" Sembari mengucek-ngucek mata, ia mulai menuruni ranjang dan berjalan keluar.
Tubuhnya merinding saat merasakan hembusan napas tepat di belakang lehernya. Tangan kekar merambat ke pundukanya dan hampir mengenai dada karena ukuran tangan itu cukup besar.
Kemudian, menarik ke atas kain baju berjenis Off-Shoulder atau Sabrina yang telah melorot hingga memperlihatkan bahu mulus dan separuh dada gadis itu, sampai menutupi bagian-bagian yang membangkitkan gairah sang pria.
__ADS_1
"Jangan memancingku," ujar pria itu dengan nada yang berat. Jika wanita lain mendengarnya, mungkin mereka akan menjerit kesetanan.
Gadis dengan make-up yang berserakan, membalikan badan, hingga tubuh mereka menempel. "Elena memancing, Tuan Zen? Tapi Elena 'kan tidak punya pancing, Tuan Zen juga 'kan bukan ikan, jadi bagaimana bisa?" ujarnya mendongkak 'kan kepala, menatap Zen yang menjulang tinggi sembari mengerjap-ngerjapkan mata.
Zen menggeram rendah. Namun, dalam sekejap, raut pria itu kembali netral. "Sudahlah, itu tidak penting. Lebih baik kau segera mandi, dan setelah itu temui aku."
Tampaknya, Elena tidak terima dan terus bertanya. "Tapi—, ah!"
"Akh! Sakit ...." Mata Elena berkaca-kaca, bersiap untuk menumpahkan cairan bening.
"Shit!" Zen mengumpat, lalu berjongkok menyentuh kaki Elena yang telah memerah dan mengeluarkan darah.
"Tuan! Jangan disentuh!" Hancur sudah pertahanan Elena. Air matanya pecah, lalu terisak-isak dengan keras.
__ADS_1
Zen semakin frustasi dibuatnya. Entah kenapa, ia sedikit tersentuh melihat wajah Elena yang menangis keras menahan sakit. Bagaimana pun juga, ia yang menyebabkan Elena menjadi seperti itu.
Keperdulian Zen saat ini tentu beda. Zen tidak memperdulikan para wanita, karena mereka menaruh perasaan padanya, meski ia sudah beberapakali memperingati.
Beda lagi jika ia yang memang murni menyebabkan, sudah pasti ia akan bertanggung jawab. Dan itu pun hanya seglintir orang saja yang pernah mendapat pertanggung jawabannya. Bahkan, mungkin hanya kurang dari sepuluh.
Zen juga tidak memperdulikan mereka—wanita atau pria yang bersikap baik padanya, karena ia tau jika kebanyakan dari mereka hanya seorang penjilat.
Tidak tau harus berkata apa lagi, Zen menyuruh Elena untuk mandi terlebih dahulu. "Lebih baik kau mandi sekarang. Setelah itu, aku akan— sudahlah yang terpenting kau mandi dulu."
"Tapi, kakinya tidak bisa digerakan ... kalau kena air sakit ...," cicit Elena di tengah tangisannya.
"Sialan! Sekarang aku harus apa?" Zen mendesah frustasi. Ia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini, apalagi dengan gadis lugu. Tidak pernah terbayang sedikit pun. Fiks, ini adalah pagi yang sangat merepotkan selama Zen hidup.
__ADS_1