Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Perasaan yang Terpendam


__ADS_3

"Diam! Kepalaku sakit jika kau terus menerus merengek! Kau sangat kekanakan! Dewasalah sedikit, kau sudah berusia sembilan belas tahun! Bukannya berguna sebagai seorang istri, kau malah menyusahkanku! Aku memang salah telah menikahi bocah tidak berguna sepertimu!"


Bentakan itu melenggar ke seluruh penjuru ruangan. Perkataan itu sangat menyakitkan, teruntuk bagi seorang gadis yang menunduk berlinang air mata dan meremas bagian dadanya. Sakit. Ya, itu yang ia rasakan.


Selama seumur hidupnya, ia tidak pernah dibentak hingga seperti ini. Apa lagi sang gadis sangat-sangat jarang dibentak. Dan untuk kali ini, ia benar-benar menangis sejadi-jadinya. Ia juga tidak ingin seperti ini, dia ingin seperti gadis-gadis seusianya.


Namun, ia juga juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Setiap kali mencoba untuk menjadi dewasa, selalu saja ada halangannya.


Entah itu ayahnya yang melarangnya untuk berpakaian dan bersikap dewasa, juga melarangnya untuk berinteraksi lebih dengan dunia luar, atau jika sekali ia mempunyai teman, pasti itu tidak akan berhasil. Yang ada dia dibully akan kecantikannya, atau dimanfaatkan karena kepolosannya.

__ADS_1


Intinya sang gadis tidak mempunyai waktu untuk dewasa. Jika pun ada, itu tidak akan berhasil. Dan pada akhirnya, ia hanya akan menjadi bocah lugu, gampang dimanfaatkan dan tidak berguna kalau kata Zen.


"Tap—"


"Apa? Mau mengelak?! Cih, dasar tidak tau diri!"


"Iya! Elena memang tidak tau diri! Elena juga sangat kekanakan! Dan—Elena juga hanya bocah bodoh tidak berguna! Yang bisanya hanya menyusahkan Tuan Zen saja! Puas? Tuan Zen puas?!" Seorang gadis yang ternyata Elena, balik membentak Zen.


Ia menjeda untuk menarik napas dalam. "Apa Tuan Zen tau? Elena rasanya ingin mati saja ... banyak hal di dunia ini yang Elena tidak tau ... Elena merasa terkurung di sangkar emas yang dibuat ayah. Elena kesepian, hanya Mis Lui dan Bi Lalas saja yang selalu menemani Elena."

__ADS_1


Gadis rambut hitam dengan berlinang air mata itu menatap Zen yang membeku. "Apa yang Tuan Zen katakan memang benar. Elena tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan Tuan Zen juga sekertaris Sam. Tuan Zen tenang saja, Elena sadar diri dan tidak akan mengelak."


"Jadi, kalau Tuan Zen sudah tidak membutuhkan Elena, tolong bawa Elena kembali pada ayah. Tapi kalau Tuan Zen masih menginginkan Elena, Elena akan mematuhi Tuan Zen tanpa membangkang, dan membuat diri Elena agar lebih berguna lagi." Walaupun dengan senyuman ia berkata, tapi tak ayal air matanya terus berjatuhan.


Sedangkan Zen masih membeku. Pria itu memang sudah mengetahui latar belakang Elena sampai pada akar-akarnya. Namun, mendengar sendiri dari mulut sang gadis, membuat hati Zen luluh dan ikut merasakan kesakitan yang selama ini dipendam sendirian oleh gadis lugu.


Otak sang gadis bagaikan otak bayi baru lahir, bersih, polos dan suci tanpa noda.


Dan sekarang, Zen akan menghajar habis-habisan tua bangka itu. Entah apa yang tua bangka itu pikirkan hingga mengekang putrinya untuk dewasa.

__ADS_1


____


Mohon maaf atas keterlambatannya. Jangan lupa tinggalkan like dan komen, ya!


__ADS_2