Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Keluarga Impian Elena


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Zen, Elena dan sekertaris Sam, telah memasuki pekarangan rumah tujuan mereka. Saat masih berada di dalam mobil, Zen menceritakan sedikit tentang rumah orang tuanya.


Ia bilang, di sana sangat asri dan sejuk. Dan benar apa katanya. Baru saja memasuki pekarangan rumah, mata mereka sudah disungguhu oleh banyak tanaman.


Entah itu bunga, tumbuh-tumbuhan, dan masih banyak lagi. Namun, yang menjadi pusat perhatian sang gadis yaitu; ada beberapa pohon, yang buahnya sangat banyak.


Pohon-pohon tersebut memiliki beberapa jenis buah. Yang menjadikannya menarik adalah, di bawah setiap pohon, ada ayunan tali yang menghiasi.


Elena pun sudah tidak sabar untuk menginjakan kakinya di sana. Namun ia menahannya, karena Zen sudah memperingatinya untuk bersikap sopan dan selalu menurutinya.


"Sudah sampai, Tuan," ujar sekertaris Sam ketika mereka tiba di depan rumah.


Zen dan Elena menuruni mobill, minus sekertaris Sam dan supir. Sepertinya mereka akan memarkirkan mobil terlebih dahulu. Segar dan menyenangkan. Itu yang Elena rasakan ketika keluar dari mobil.


Udara sangat segar, tanpa polusi. Dan menyenangkan ketika mendengar kicauan burung-burung yang mungkin dipelihara orang tua Zen. Suasana sangat asri, membuat Elena tidak ingin pulang.


"Zen!"


Elena terkejut kala sedang melihat-lihat sekitaran, teriakan cempreng terdengar dari arah belakang. Sehingga burung-burung yang tadinya berkicau dan bersiul di atas pohon, terbang entah kemana.

__ADS_1


"Mom! Pelankan sedikit suaramu, telingaku bisa-bisa tuli." Keluhan Zen, membuat Elena membalikan tubuhnya.


"Jangan heran Nak, Ibumu memang seperti orang udik jika melihatmu. Ia terlalu berlebihan."


Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Zen diserang habis oleh ciuman wanita paruh baya yang Elena ketahui adalah ibu mertuanya.


Bukan terkejut karena apa, tapi ia merasa lucu ketika melihat Zen yang biasanya arogan dan suka memerintah, sekarang tak berdaya di bawah kekuasaan sang ibu.


"Mom, hentikan, aku bukan anak kecil lagi ...."


"Itu menurutmu, tapi bagi mom kau tetap pria imut kecilku, ayolah jangan malu-malu seperti itu ...."


Dada Elena menghangat melihat interaksi mereka. Di sini, wajah Zen terlihat sangat ringan dibandingkan biasanya.


Walaupun raut wajahnya terlihat kesal dengan perlakuan sang ibu, tetapi tak urung ada binar kebahagiaan di matanya.Pria dan wanita paruh baya itu juga terlihat sangat menyayangi putra mereka.


Terbukti dari sorot mata keduanya yang penuh cinta saat menatap Zen, putra satu-satunya. Benar-benar keluarga hangat dan harmonis yang sangat diinginkan setiap orang. Termasuk Elena sendiri.


Seandainya ia mempunyai seorang ibu ... pasti sangat menyenangkan. Atau ... ayah yang suka bercanda dan tidak mengekang, pasti sekarang hidupnya akan sempurna.

__ADS_1


Hah, sudahlah, ia hanya bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Dan setidaknya ia harus bersyukur, karena ia masih mempunyai seorang ayah walaupun tidak seperti dalam bayangannya.


Juga, apakah ia harus bersyukur telah dipertemukan dengan Zen? Entah. Karena ini baru di awal, ia tidak tau kedepannya akan seperti apa.


"Bukankah Tuan terlihat bahagia, Nona?"


Seketika tatapan Elena pada kebahagiaan yang ada di depannya beralih pada pemilik suara di samping. "Sekertaris Sam?"


"Tuan dulunya adalah pribadi seperti Tuan besar, Nona. Suka bercanda dan hangat. Namun, semua itu berubah ketika kejadian beberapa tahun lalu." Sekertaris Sam menjelaskan sambil menatap sendu keluarga bahagia di hadapannya. Itu yang Elena tangkap, karena raut sekertaris Sam cepat sekali berubah.


"Kenapa dengan kejadian beberapa tahun lalu?" tanya Elena mengerutkan dahinya.


"Kejadian beberapa tahuh lalu, Tuan ...."


_____


Hai! Maaf, ya karena telat update:(


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya!

__ADS_1


__ADS_2