Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Tuan Jerapa


__ADS_3

"Kau." Zen mengarahkan tangannya pada seorang gadis berwajah bantal yang masih dibalut baju tidur dengan motiv sapi. Bagaimana tidak? Masih jam setengah lima pagi, maid telah membangunkannya atas suruhan Zen. "Pakaikan dasiku."


Malas-malasan, sang gadis mengambil dasi dan berjinjit untuk memakaikan pada Zen, dan untung ia biasa melakukan itu pada ayahnya. Namun, tampaknya ia kesusahan. "Tuan, bisakah Tuan menunduk sedikit? Tuan terlalu tinggi seperti jerapa, Elena tidak bisa menggapainya."


'Jerapa sialan,' batin Zen mengutuk.


Zen mendengus dan menatap miring Elena yang berada sangat dekat di depannya. "Bukan aku yang terlalu tinggi, tapi kau yang memang pendek seperti kucing montok, Sam."


Zen terkekeh geli saat mengingat kucing kesayangan sekertarisnya. Kucing betina berbulu putih itu bernama Kelly, tubuhnya berisi dan berkaki pendek.


Kelly adalah kucing paling beda dari semua kucing yang pernah Zen temui. Ia sangat anggun dan juga– genit! Ya, genit.


Bagaimana tidak? Setiap kali Zen berkunjung pada apertemen Sam, Kelly langsung saja mencari perhatian dengan meleok-leokkan tubuhnya dan sangat suka sekali menggosok-gosokkan bulunya pada kaki Zen.


Intinya kucing betina itu sangat genit menurut Zen!

__ADS_1


Namun, maksud Zen menyamakan Elena dengan Kelly, itu karena persamaan tubuhnya bukan sifat. Perlu dicatat, sifat mereka sangat berbeda jauh! Elena dengan sifat polos dan lugunya, Kelly dengan sifat anggun dan genitnya.


Tubuh mereka secara deskripsi sama. Berisi atau biasa dikatakan montok, dan pendek. Ya itu lah kesamaan mereka.


"Sekertaris Sam punya kucing?!" tanya Elena dengan mata berbinar hingga ia menarik dasi Zen dan hampir membuat pria itu tercekik.


"S–sialan, l–lepas!"


"Tuan jerapa! Astaga, maafkan Elena! Tuan tidak apa-apa 'kan?" Sang gadis gelegapan melonggarkan kaitan dasi pada leher Zen.


"Kau mau membuatku kehabisan napas?!" Pria itu membentak Elena, peluh membanjiri wajah tampannya.


Sang pria yang melihat itu, memutar netranya malas. "Ya, ya, ya, kau tidak sengaja. Sudahlah, lebih baik kau mandi dan temui aku di bawa." Zen berlalu sembari mengaitkan lagi dasinya. Sebenarnya ia bisa saja sendiri, tetapi ia hanya akan membuat Elena lebih berguna lagi.


***

__ADS_1


Elena telah segar dalam balutan sepasang kaos dan celana pendek rumahan, tapi tetap terlihat sporty. Rambut panjang dan hitam, sangat kontras dengan warnah kulitnya.


Elena menjadi sangat cantik dan super imut. Kaki jenjangnya dan lekuk tubuhnya terekspos, ditambah wajah lugu dan tatapan polos, membuat siapa saja yang melihatnya, tidak tahan untuk mengarungi dan membawanya pulang.


Sang gadis lugu pun mulai menuruni tangga untuk menemui Zen yang berada di ruang makan.


"Selamat pagi, Tuan jerapa dan sekertaris Sam!" sapa Elena yang kemudian duduk berhadapan dengan keduanya.


Yang disapa sebagai Tuan jerapa pun seketika tersedak. "Sialan! Apa maksudmu Tuan jerapa?!" tanya Zen melotot.


"Eum, Tuan 'kan tinggi seperti jerapa, dan kalau Elena panggil Tuan Zen dengan sebutan Tuan jerapa, sepertinya cocok! Hihi, lucu, imut, Elena suka!" Sang gadis terlihat kegirangan, padahal yang menjadi inti pembicaraan sedang menahan kekesalannya. "Benarkan sekertaris Sam?" lanjut Elena.


Bingung untuk menjawab apa, Sam menyetujui pendapat Nona mudanya yang sangat lugu. "Ya, Nona, saya setuju." Sebenarnya Sam dilema, disatu sisi Zen adalah tuannya, prioritasnya. Namun, disisi lain juga, ia terhibur dengan perkataan sang Nona muda, dan wajah antusias serta mata berbinar, membuat Sam tidak tega untuk merusaknya.


"Sialan, kau Sam! Sebenarnya, tuanmu siapa?!" Pada akhirnya pun, Zen tidak terima atas apa yang dilakukan sekertarisnya. Ia merasa terhianati.

__ADS_1


_____


Part favorit kalian dari cerita ini yang mana? Kalau ada, komen ya dan sertakan alasannya. Terima kasih!


__ADS_2