Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Cengeng


__ADS_3

"Yasudah. Sekarang, tugasmu adalah menyusul menantu imutku, jelaskan semua padanya bahwa kita hanya bercanda saja," ujar Merry. "Dan ingat, jangan membuatnya tambah menangis, mengerti?" lanjutnya memperingati sang putra.


Sang putra atau Zen, hanya memutar bola matanya jengah. Namun, tak urung juga ia mengiyakan perintah dari sang ibu. "Ya, ya, aku pergi dulu." Usai itu, ia langsung menaiki satu persatu anak tangga, hingga tak terlihat lagi.


Sementara di sisi lain, gadis imut dengan balutan dress mini berwarna putih, terlihat sedang meringkuk di ranjang dengan seprai bergambar salah satu karakter di dalam kartun serial Marvel tersebut.


Kamar yang ia dan Zen tempati, adalah kamar lama dari Zen. Tata kamar tersebut, tidak diubah, masih sama saat Zen remaja.


Poster-poster kartun yang Zen remaja gemari, menghiasi dinding-dinding yang berwarna abu-abu. Intinya, tidak ada perubahan dari kamar itu.


Namun, semua itu tidak berarti apa-apa lagi bagi Elena setelah ia merasa terasingkan tadi.


Adrenalin Elena, seketika berpacu cepat kala merasakan seseorang memasuki kamar.


"Ehem." Seseorang berhendam. Dan Elena sudah tau siapa pelaku itu.


"T–Tuan Zen!" seru Elena menghapus cepat-cepat air matanya lalu berdiri. Ia berusaha untuk terlihat ceria di depan Zen, walaupun masih ada sisa-sisa air mata di sekitar mata dan pipi.


"Sttt! Sudahlah, jangan menangis lagi. Kau tambah jelek." Zen mengejek sembari menghapus jejak-jejak air mata Elena.


"Tidak! Elena cantik!" seru sang gadis cemberut dengan masih sesegukkan.

__ADS_1


"Ah, cantik, ya? Menurutku tidak, coba lihat hidungmu yang memerah seperti hidung sapi, dan pipimu juga memerah seperti tomat busuk. Apa masih bisa dibilang cantik?" tanya Zen dengan nada mengejek.


Hal itu membuat Elena melengkungkan bibirnya, siap untuk kembali menangis.


"Apa? Mau menangis lagi?" tanya Zen yang membuat Elena meluncurkan setetes air mata.


"Yah, menangis beneran. Dasar cengeng." Setelah Zen selesai berbicara, langsung saja Elena mengeluarkan isakkan.


Tentu saja Zen langsung tersenyum puas dan rasanya ingin menerjang gadis itu sekarang juga.


Bagaimana tidak? Sang gadis tampak sangat menggemaskan berdiri di depan dan menatapnya dengan mata bulat berair.


Apalagi sekarang hidung dan pipi sang gadis memerah, hah! Zen harus bisa menahan hasratnya, karena ia hanya akan melakukan hal itu tanpa adanya keterpaksaan atau suka sama suka.


"Tidak menangis, ya?" Zen mengangguk-anggukkan kepala sembari berjalan mengelilingi sang gadis. "Lalu ini apa?" lanjutnya menyentuh pipi Elena yang masih basah.


Elena tersentak dan kesal saat Zen menyentuh pipinya memberitau jika ia menangis. "T–tidak! Pokoknya Elena tidak menangis!" ujarnya tetapi malah semakin deras air matanya.


Namun, tiba-tiba gelak tawa memenuhi seluruh penjuru ruangan. Zen dan Elena seketika tersentak. Mereka pun mencari sumber suara.


Dan, saat Zen menghadap ke arah pintu, lelaki itu langsung memijit dahinya.

__ADS_1


"Astaga, Sayang ... kenapa kau imut sekali, hm? Jadi anak angkat mommy, ya?"


Tentu saja sudah bisa ditebak siapa pelaku dari gelak tawa itu. Ya, siapa lagi seseorang yang sangat menggemari menantunya kalau bukan Merry ibu dari Zen.


"M–mommy?" ujar Elena mengerjap-ngerjapkan matanya yang membuat Merry semakin gemas.


"Iya, ini mommy, Sayang," jawabnya tersenyum. "Tapi, menantu imut mommy kenapa menangis, hm?" lanjutnya bertanya sembari mengusap-usap lembut pipi Elena. Padahal ia sudah tau penyebab sang gadis menangis.


Gadis imut itu yang mendengar mertuanya menanyakan kenapa ia menangis, segera menggeleng cepat. "T–tidak! E–Elena t–tidak m–menangis, Mom!" bantah sang gadis.


"Uluulu, imutnya ... tapi kenapa matamu berair, hm?" goda Merry.


"Mommy ...," lirih sang gadis dengan wajah menyedihkan, tetapi malah menambah keimutannya.


"Hehe, sudah, ya? Jangan menangis lagi, mommy hanya bercanda." Merry mendekap tubuh Elena.


Di balik dekapannya, Merry malah tertawa tanpa suara diikuti suaminya. Tentunya bersama Zen juga, yang hanya tersenyum kecil dan bisa dibilang keajaiban karena ia minim ekspresi kecuali, marah, sarkas, mengejek, dan menyeringai.


Jika sekalipun tertawa, itu hanya untuk kepada sesuatu yang remeh.


_____

__ADS_1


Halo! Mohon maaf atas keterlambatan update, soalnya ada sedikit masalah. Terimakasih yang sudah sabar menunggu!


__ADS_2