
"Sam? Apa aku keterlaluan?"
Sekertaris Sam hanya bisa menghela napas mendengar pertanyaan tuannya.
Ya, tepat hari ini sudah menginjak satu seminggu semenjak Zen bertengkar dengan Elena. Sejak saat itu juga Elena menjadi lebih pendiam. Ia menepati perkataannya untuk berusaha patuh pada Zen tanpa membantah dan juga tanpa merepotkan Zen lagi.
Gadis itu tidak pernah merengek lagi, ia berusaha keras untuk merubah sikapnya agar menjadi lebih dewasa meskipun berat. Mungkin wajahnya setiap hari berseri-seri, tetapi siapa yang tau isi hatinya.
Zen pun dibuat uring-uringan tentang itu. Ia bukannya sudah mencintai atau menyayangi Elena, tapi ia sudah terbiasa dengan sikap kekanakan Elena. Hari-harinya menjadi lebih hidup akibat kehadiran sang gadis.
Dan sekarang, gadis lugu itu mengabaikan dirinya. Bukan mengabaikan, tetapi lebih bisa dibilang menghindar, menahan perasaannya agar tidak bersikap kekanakan kepada Zen.
Hidup Zen pun menjadi seperti sedia kala, di mana hari-harinya hanya dihabiskan dengan bangun, bekerja, pergi ke club malam, tidur dan terus berulang-ulang untuk setiap harinya. Membosankan dan monoton.
Sebenarnya bisa saja begitu, karena ia sudah terbiasa. Namun, perlu ditegaskan lagi, ia lebih menyukai kehadiran Elena di sisinya.
__ADS_1
"Saya bukannya membela Nona muda, tapi menurut saya apa yang Tuan lakukan itu memang sudah kelewatan untuk gadis lugu seperti Nona muda." Sam menjawab sesuai apa yang ia pikirkan.
Mendengar jawaban dari sekertarisnya itu, membuat Zen tambah bersalah. Bagaimana pun juga, sang gadis lugu sudah menanggung banyak penderitaan di usianya yang masih belia.
Zen juga walaupun memiliku pribadi yang keras, tetapi ia masih memiliki hati untuk tidak tega melihat penderitaan Elena. Ya, meskipun diakuinya jika yang terjadi adalah kesalahannya.
Maka dari itu, ia berusaha untuk memperbaikinya. Ia tidak seperti suami yang terlewat kejam seperti di novel-novel kebanyakan.
"Hah, kau benar, Sam. Lalu sekarang aku harus apa?" Zen memijat dahinya, ia lelah. Perlu diketahui, Zen menjadi sangat terbuka dan lebih banyak menunjukan ekspresinya, jika hanya bersama sekertaris Sam.
Sekertaris Sam terlihat berpikir untuk memperbaiki hubungan keduanya. "Nona muda tidak seperti gadis kebanyakan jika dibujuk hanya diberi barang mahal. Nona muda berbeda, pemikirannya masih seperti kekanakan."
Zen terlihat tidak puas dengan jawaban sekertarisnya. "Ya, kalau itu aku tau! Tapi masalahnya, bagaimana agar ia memaafkanku?!"
Padahal sebelum menikahi sang gadis, pria itu berencana untuk membuatnya menangis setiap hari, tetapi rencananya melenceng akibat ia tidak sengaja melepaskan emosinya.
__ADS_1
Ia ingin membuat sang gadis menangis karena permainannya, bukan dengan emosi.
"Seperti yang Tuan tau, Nona muda masih seperti anak kecil. Jadi, menurut Tuan, apa yang dibutuhkan untuk membujuk anak kecil?"
Zen terlihat memikirkan apa yang sekertarisnya sarankan. "Aku memang belum mempunyai anak, tapi, apakah dengan permen? Cokelat? Atau ... barang kesukaannya? Bagaimana menurutmu?"
"Maaf, saya juga tidak terlalu tau, Tuan. Saya belum berpengalaman." Sebenarnya, ia tau apa yang harus dilakukan agar Nona mudanya kembali seperti yang biasa. Namun, ia menginginkan tuannya berusaha sendiri.
"Shit! Jika ingin membantu jangan setengah-setengah! Sudahlah, aku pusing!"
'Maafkan saya Tuan, tidak bisa membantu. Saya ingin Tuan lebih banyak beraktifitas selain bekerja dan pergi ke club malam agar hidup Tuan tidak monoton,' batinnya berharap.
_____
Halo semua! Saran dong, judul buat part ini, soalnya aku rasa judul ini kurang pas. Ditunggu, ya ....
__ADS_1