
Rembulan telah menunjukkan sinarnya, bintang-bintang pun begitu indah menghiasi langit malam. Benar-benar malam yang indah.
Namun, tidak dengan seorang gadis yang mengerucutkan bibirnya di depan kaca kamar mandi, bersiap untuk mengeluarkan isakkan.
Gadis itu terkejut saat ia bangun, ia berada di kamar Zen dengan tampilan acak-acakkan dan tanpa keberadaan sang pria.
Namun, yang lebih mengejutkan, saat ia pergi ke kamar mandi ingin sikat gigi di depan kaca, lehernya dipenuhi oleh banyak sekali bercak-bercak merah seperti digigit sesuatu, tetapi tidak membengkak.
Hal itu tentu saja membuat ia ketakutan. Seperti saat ini, ia sudah bersiap untuk menangis.
"Tuan!" Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan berderai air mata dan mencari keberadaan sang tuan. Ia menduga bahwa yang dicarinya sedang berada di ruang makan. Ya, tentu saja itu benar. Pria itu sedang duduk santai bersama sekertarisnya.
Langsung saja gadis itu menghampiri keduanya. "Tuan!" panggilnya. Aku
Yang dipanggil pun mengangkat sebela alis bingung. "Kau kenapa?"
"Leher Elena merah! Seperti digigit binatang! Tuan, bagaimana ini?!" lapor gadis itu atau Elena histeris, seraya menyingkap kerah bajunya menunjukkan beberapa bercak merah yang menghiasi leher jenjangnya.
"Ck, jadi kau menuduhku sebagai hewan? Tenang saja, kau tidak akan mati hanya karena gigitanku," jelas Zen santai.
__ADS_1
"J–jadi, Tuan yang menggigit leher Elena sampai merah? Apa tidak akan menimbulkan penyakit?"
Zen seketika, tersedak minumanqwnya. "Shit! Kau pikir aku anjing, yang jika menggigitmu kau akan terkena penyakit? Sialan, yang benar saja!"
"Ya– ya maaf! E–Elena 'kan tidak tau," cicit gadis itu menunduk.
Zen melihat itu hanya menghembuskan napas. Ia sudah mulai beradaptasi dengan sifat sang gadis. Maka dari itu, sudah jarang iwa memarahinya.
"Sudahlah, sekarang kau mandi dan turun untuk sarapan," titah Zen yang langsung diangguki Elena.
***
Mengganti siaran televisi secara acak, menjadi hal yang saat ini Elena lakukan. Sedari tadi, tidak ada siaran yang cocok untuknya. Semua membosankan. Setelah hampir mati kebosanan, Elena memutuskan untuk meminjam ponsel Zen.
"Tuan, bisakah Elena meminjam ponsel, Tuan? Elena bosan," tanya gadis itu dengan raut wajah cemberut.
"Hm, ambil saja," jawab Zen tanpa memandang Elena.
Tanpa menunggu lama lagi, gadis itu segera mengambil ponsel Zen berlogo apel digigit yang terletak di meja, dan langsung memainkannya. Dan ternyata, ponsel Zen, tidak ada kata sandi atau pola untuk membukanya.
__ADS_1
Di dalam ponsel tersebut, hanya ada beberapa aplikasi. Di antaranya adalah, aplikasi dengan logo hijau, zoom dan beberapa aplikasi yang tidak Elena mengerti.
Bahkan di galeri, satu pun foto tidak ada. Sangat monoton seperti pemiliknya. Elena mendownload beberapa aplikasi permainan. Ponsel Zen yang monoton pun sekarang dihiasi oleh beberapa aplikasi berwarna-warni.
Tak terasa, jarum jam telah berhenti pada angka dua. Yang artinya sudah sudah empat jam Elena menemani Zen bekerja.
Saat itu juga pekerjaan Zen telah selesai. Ia merenggangkan badannya dan mulai membereskan barang-barang yang ia pakai tadi untuk bekerja.
Selesai itu, Zen menoleh pada Elena yang telah tertidur di sofa dengan ponsel Zen yang berada pada tangannya. Melihat itu, ia tersenyum dan mengusap-usap pipi gembul sang gadis.
"Lihatlah gadis cengeng ini yang katanya ingin menemaniku bekerja, tapi apa? Ck, malah tidur duluan. Dasar gadis nakal." Zen menyeringai pada ucapan terakhirnya.
Perlahan, ia menggendong Elena dan membawa pada kamarnya. Kamar Zen. Entahlah, setelah kemarin malam tidur bersama, Zen memutuskan untuk tidak berpisah kamar lagi. Karna selama menikah, mereka pisah kamar.
_____
Halo! Mau cepet update? Ayo spam komen dan like!
Salam #IPTZSQUAD ~
__ADS_1