
Menghela napas dan mencoba untuk tetap sabar, Zen mengalungkan tangan kirinya pada pundak Elena, dan tangan kanan mengusap air matanya. "Jangan menangis lagi," ujar Zen lembut.
Sesuai yang diharapkan, sang gadis semakin menguburkan dirinya pada dekapan Zen dan berhenti menangis, walaupun masih terdengar sedikit isakkan. "Heum, T–Tuan Zen jahat! Ninggalin Elena sendiri!"
"Iya, maafkan aku." Kata maaf keluar dari bibirnya. Padahal, ia sangat jarang mengucapkan kata tersebut, jika pun ada, hanya jika ia benar-benar merasa bersalah.
"Kita pulang, hm?" lanjutnya.
Elena mengangguk-anggukan kepala, tetapi ia hanya diam memeluk Zen dan tidak mau berjalan. Zen pun yang bingung segera bertanya. "Kenapa?"
"Tidak mau!" Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak mau kenapa?" tanya Zen.
"Elena tidak mau berjalan!" seru Elena tanpa memandang Zen.
Zen mulai tersulut emosi, tetapi ia mencoba untuk tetap sabar. "Tidak mau berjalan, lalu kau mau apa?"
"Elena tidak mau berjalan ... tubuh Elena lemas, kepalanya juga pening ...."
__ADS_1
Memutar mata jengah, akhirnya Zen paham apa yang diinginkan istrinya. Tanpa bicara lagi, Zen segera menggendong Elena ala bridel style dan mulai berjalan keluar.
"Ini 'kan yang kau mau gadis cengeng?" batin Zen kesal. Dan sepertinya julukan baru tercipta.
***
"Tuan?"
"Hmm."
"Ih, Tuan?!"
"Kau kenapa lagi?!" Zen mulai jengah, pasalnya Elena sedari tadi mereka pulang, banyak permintaan. Saat ini saja, Zen ingin beristirahat, tetapi istri cengengnya terus saja mengganggu.
Zen melotot saat mendengar permintaan Elena. Apa pulang? Apa dia sudah gila? Sebenarnya boleh-boleh saja ia memulangkan Elena, tetapi ia belum puas bermain, karena selalu saja tertunda.
"Kau, dengar. Kita sudah menikah, dan sepasang suami istri itu harus tinggal bersama, dan kau sekarang istriku jadi kau harus tinggal denganku, paham?"
"Istri? Elena istri Tuan Zen?" Gadis yang sedang duduk di samping Zen yang sedang berbaring, bertanya.
__ADS_1
Zen menatap Elena dengan curiga. "Jangan bilang kau tidak tau apa itu istri," tuduhnya.
Tampaknya, sang tersangka sedang berpikir keras menggali-gali isi pikirannya. Selang beberapa menit berpikir, terlihat ia sudah menemukan jawabannya. "Ah! Kata ayah, istri itu yang membuat semua benda elektronik menyala! Dan kalau terkena sakit, benarkan Tuan?" Elena mengebu-gebu saat menjelaskannya.
Jawaban dari sang gadis pun membuat raut wajah Zen datar seketika. "Apa kau tidak sekolah? Apa ayahmu tidak pernah mengajarimu? Oh aku lupa, ayahmu sibuk menghabiskan uang untuk berjudi, dan tidak punya waktu untuk mengajarimu. Ck, pantas saja."
Sang gadis menerawang apa yang terjadi dalam kehidupannya selama ini.
"Elena hanya sekolah di rumah, dan ayah memang kadang menemani Elena belajar, hanya Mis Lui saja." Kemudian dahi Elena mengerut. "Tapi, berjudi itu apa?"
Zen mengutuk Anthony aka ayah Elena dalam hati.
'Apa tua bangka itu sudah gila? Bagaimana ia bisa mendidik putrinya hingga seperti ini? Dan apa, sekolah di rumah? Ck, harusnya pada umurnya–Elena yang sekarang, ia berinteraksi dan melakukan hal-hal yang terjadi pada remaja pada umumnya, tapi apa? Tua bangka itu malah mengekang putrinya, padahal masa remaja itu adalah masa pendewasaan. Hah, bodoh,' batinnya.
"Sudahlah, kau tidak perlu tau apa itu berjudi. Dan ingat, yang kau bilang tadi itu listri bukan istri. Intinya seorang istri harus menuruti dan melayani suaminya. Dan kau sekarang istriku, jadi kau harus?"
"Menuruti dan melayani Tuan Zen!"
"Good girl."
__ADS_1
_____
Jangan lupa tinggalkan like dan komen!