
Suasan di dalam ruangan klasik yang didominasi warna abu-abu dan putih, hening. Hanya terdengar deruh napas dan suara tangan yang sedang berkutat dengan sesuatu.
Keheningan menemani kedua insan yang beberapa hari ini saling mendiami. Tidak ada yang berani memulai percakapan duluan. Mereka diselimuti kegugupan. Entah siapa yang mulai duluan.
Padahal, masalah mereka sudah selesai, itu menurut sang gadis. Namun, berbeda dengan sang pria. Menurutnya, walaupun gadis itu telah memaafkannya, tetapi tetap saja itu tidak berarti ketika sang gadis berubah—karena perkataan menyakitkan dari sang pria tempo hari.
Ya, sang gadis mulai merubah sikapnya menjadi dewasa, agar—lebih berguna sebagai seorang istri.
Tidak ada lagi gadis lugu, cengeng dan selalu membuat pria itu kesal. Yang ada hanya gadis dewasa, pendiam dan selalu tersenyum dengan tatapan kosong, tak ada lagi binar di matanya.
Dan tentunya, perubahan drastis gadis tersebut adalah mimpi buruk bagi sang pria. Ia merasa telah merengut keceriaan dan binar mata sang gadis.
Seperti saat ini, gadis itu sedang mengaitkan dasi pada sang pria, yang menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Tentu saja sembari tersenyum dengan tatapan kosong.
"Selesai," gumam sang gadis merapikan kameja suaminya yang agak kusut. Setelah itu, ia akan berlalu pergi. Namun, kala cepat dengan tangan suaminya.
Merasakan sesuatu yang membelit tangannya, gadis itu pun membalikan tubuhnya lalu bertanya dengan lembut. "Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu kesal teramat kesal, dengan bicara formal sang gadis. Sangat berbeda, dengan gadis lugunya. "Maaf." Satu kata itu keluar dari bibir sang pria.
"Maaf? Maksud Tuan?" tanya gadis itu mengerutkan dahinya.
Pria yang dipanggil tuan itu menarik napas dalam dan ingin bicara, tapi langsung ditahannya. Sudah berulang-ulang kali ia seperti itu. Ia gengsi, tapi juga tersiksa. "Maaf. Maafkan aku, Elena." Kata maaf pun terucap. Jangan lupa, pria itu juga menyebut nama sang gadis untuk yang pertama kali.
"Tapi Tuan tidak salah, kalau pun salah, saya sudah memaafkan Tuan," ujar Elena tersenyum manis tanpa binar mata yang telah redup.
__ADS_1
Pria itu, Zen. Menatap geram Elena, ia mencengkram kedua bahu sang gadis. "Tidak, Elena. Aku tau kau belum memaafkanku! Kau berbicara formal padaku! Kau berubah menjadi dewasa karena terpaksa dan aku benci itu!"
Gadis itu terpaku, matanya berkaca-kaca siap untuk mengeluarkan cairan bening. Bukan siap, tetapi sudah keluar. "Ini bukan salah Tuan, malahan Tuan benar. Saya memang harus belajar untuk dewasa, saya juga tau diri untuk tidak menyusahkan Tuan Zen. Saya berjanji tidak akan lagi menjadi bocah bodoh yang tidak bergu—"
Deg!
Seketika itu juga perkataan Elena terhenti. Adrenalin mereka berpacu kencang. "Jangan coba-coba lagi kau berkata seperti itu, aku tidak suka. Ini untuk yang terakhir kali." Zen menyembunyikan wajahnya pada leher Elena, menghirup aroma manis dan hutan segar di sana dengan rakus.
"Tapi— argh!"
Perkataan Elena terpotong kala Zen langsung memberi tanda merah pada leher jenjang sang gadis. "Katamu, kau ingin menjadi istri yang baik dan berguna, bukan? Hanya melayani dan patuh tanpa membantahku, kau sudah menjadi istri yang baik dan berguna."
"Itu saja? Baiklah, akan saya lakukan agar menjadi istri yang baik dan berguna. Terima kasih Tuan Zen!"
"Baiklah, sekarang jangan bicara formal lagi padaku. Jangan jadi dewasa, jangan berusaha lakukan itu dengan terpaksa. Aku tau kau berubah karena perkataanku waktu itu, maafkan aku. Tetaplah jadi dirimu sendiri, gadis cengeng si tukang merengek." Zen tersenyum miring di balik leher Elena saat mengucapkan kata terakhir.
"Ih, tuh 'kan! Tuan bilang Elena gadis cengeng dan tukang merengek!"
Pria itu terkekeh saat gadis itu membentaknya. Tidak masalah, yang penting gadisnya telah kembali seperti semula. "Sudah berani membentaku, hm?"
"M–maafkan E–elena, T–Tuan," ujar sang gadis terbata.
"Hmm, kumaafkan," balas Zen, tetapi tetap pada kegiatannya.
"I–iya, tapi lepaskan d–dulu, Tuan. Geli— ahh ...!"
__ADS_1
Desahan itu membuat Zen menyeringai, dan malah semakin menghisap keras pada leher jenjang sang gadis hingga menimbulkan banyak tanda merah. "Hm? Lepaskan? Tidak. Aku akan memakanmu."
Mendengar itu, tentu membuat Elena panik seketika. Di dalam pikirannya, ia sudah membayangkan Zen akan mencincang dan memasak tubuhnya lalu melahapnya hingga habis. Memang sangat polos.
Baru membayangkan saja, sudah membuat Elena mual. "Tidak! Tidak! Elena tidak mau dimakan Tuan! Lepaskan Elena Tuan, lepaskan! Elena berjanji akan melayani dan mematuhi tanpa membantah Tuan Zen! Elena juga berjanji tidak akan merengek dan berjanji akan menjadi istri yang baik! Jadi tolong lepaskan!" jelas gadis itu panjang lebar sembari merontah-rontah. Wajahnya sudah pucat pasi.
Sang pria hanya menulihkan telinga dan tetap melanjutkan aktivitasnya. Ia tersenyum geli, ia tau isi pikiran sang gadis yang kelewat jauh, dan ia memang sudah menduganya. "Kau tidak mau kumakan?"
"Ya, ya! Elena tidak mau!"
"Em, tapi bagaimana, ya? Aku sangat ingin memakanmu, jadi dengan teramat maaf, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Hehe, nikmati saja ya ...."
"Tidak! Elena tidak mau! Lepaskan Ele— argh! Tuan!"
Namun terlambat, Zen keburu mengangkat Elena seperti karung beras, dan melemparnya ke atas ranjang.
Zen mengunci pintu, melonggarkan dasinya, lalu berjalan ke arah Elena yang meringkuk ketakutan di atas ranjang sembari menyeringai. "Are you ready, baby girl?"
Dan kita hanya bisa mendoakan agar gadis itu bisa selamat dari kebrutalan sang pria. Semoga ia baik-baik saja. Ya, seharusnya begitu.
_____
Halo! Maaf ya, atas keterlambatan updatenya, thanks fot reading!
Jangan lupa like dan komennya, ya ....
__ADS_1