
"Jaga dirimu baik-baik, jangan menyusahkan mom dan dad, mengerti?" tutur Zen pada Elena.
"Iya, Tuan. Elena tidak akan merepotkan mom juga dad," balas sang gadis.
"Baiklah." Zen terlihat berat untuk meninggalkan Elena.
Ya, Zen harus meeting di Bali sore ini juga, dan akan pulang besok pagi. Dan Elena harus ia tinggalkan bersama orang tuanya.
Entahlah apa yang pria itu khawatirkan. Ia dilema. Hatinya mengkhawatirkan sang gadis, tetapi pikirannya terus menolak.
Mungkin karena Elena setiap hari bersamanya, makanya ia sedikit khawatir untuk meninggalkannya.
Karena Zen sudah terbiasa meladeni dan memenuhi jika sang gadis sedang datang sifat cengeng atau manjanya. Mengurus gadis itu, sama saja dengan mengurus anak kecil.
Usai itu, Zen memanggil ibunya untuk berbicara empat mata. Zen terlihat begitu serius menjelaskan sesuatu yang tidak dapat Elena, Arsen–ayah Zen, dan sekertaris Sam dengar.
Merry terlihat cengengesan setelah berbicara dengan putranya. Ia segera berdiri di samping Elena dan mencubit gemas pipinya.
"Yasudah, Zen pamit dulu, mom, dad," pamitnya, lalu ia menatap Elena. "Aku pergi dulu, ingat, jangan menyusahkan kedua orang tuaku, ah orang tuamu juga," lanjutnya memperingati Elena.
"Oke!" jawabnya dengan semangat dan Zen hanya menganggukkan kepala.
Namun, baru saja pria itu akan masuk ke dalam mobil, ia merasakan tangan yang sangat ia kenali melingkar pada pinggangnya.
Sontak saja ia membalikan badan dan menemui gadis yang berat untuk ia tinggalkan menyembunyikan kepala pada dadanya.
"Kau kenapa?" tanya Zen bingung.
Sang gadis pun merenggangkan pelukannya dan terlihat berpikir keras. "Eum, tidak tau, Elena tiba-tiba saja sudah memeluk tuan. Mungkin Elena sudah terbiasa memeluk ayah kalau ayah mau keluar kota," ungkapnya lalu melepaskan tangannya dari Zen.
"Ck, yasudah. Aku akan pergi sekarang." Zen menaiki mobilnya, diikuti sekertaris Sam yang akan mengemudi.
__ADS_1
"Sayang, sekarang kita masuk, yuk," ajak Merry pada Elena dan langsung disetujui sang gadis.
***
"Aloha, ua hoʻi mai ʻo Vano!"
Elena, Merry dan Arsen, terkejut saat sedang bersantai di ruang tv, suara yang entah siapa terdengar begitu keras.
"Vano?!" panggil Merry yang membuat Arsen ikut terkejut.
"Yeah, i'm," jawabnya.
"Astaga anak ini! Baru inget pulang, iya?" Merry menjewer telinga pria yang kira-kira lebih muda dari Zen.
"A–akh, mom ... calm down," desis Vano.
"Huh!" Merry membawa Vano untuk duduk di tempat tadi mereka bersantai.
"Oh God! Mom, boneka siapa ini?!" seru Vano sembari berjalan kearah Elena yang hanya menatapnya polos.
"Hei, kau mau ikut denganku? Aku akan membelikanmu banyak permen," tawar Vano berjongkok dan memegang tangan Elena.
Sontak Elena membulatkan mata yang membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut gemas. "Benarkah?"
"Astaga, Cutie ... kenapa kau begitu imut?!" Vano mencubit gemas pipi sang gadis.
"Mom, bisakah aku membawanya pulang?" tanya Vano penuh pengharapan.
"Jangan gila, dia istri sepupumu!" celetuk Merry yang membuat Vano membulatkan mata.
"A–apa? Jadi ini istri, kak Zen?!" Vano berkata antara percaya dan tidak. "Tapi bukannya selera kak Zen ...." Pria itu menatap Elena dari ujung kaki sampai rambut.
__ADS_1
"Tidak, mom! Tidak! Aku tidak rela boneka cantikku bersama boneka chuky itu!" seru Vano dramatis.
"Heh! Jangan jelek-jelekan Zen di depan istrinya!" tegur Merry.
"Mom, apa boneka chuky itu tuan Zen?" tanya Elena yang sedari tadi diam.
Merry pun bingung akan menjawab apa. "Ehm, y–ya itu julukan untuk Z–Zen," jawab wanita paruh baya itu gugup.
Sang gadis pun mengangguk-anggukan kepala. "Eum, tapi boneka chuky itu apa?"
Pertanyaan polos itu semakin membuat Vano gemas, tetapi berbeda dengan Merry yang semakin gelegapan.
"Boneka chuky itu adalah boneka mengeri—"
"Tampan! Ya, wajah boneka chuky itu tampan," potong Merry cepat.
"Mom! Tapi—" Lagi-lagi perkataan Vano terpotong.
"Hehe, tampan 'kan Vano," ujar Merry dan menatap peringatan pada pemuda itu.
Vano yang masih bingung hanya mengiyakan saja. "Ya, tampan."
"Ah, begitu. Berarti tuan Zen tampan seperti boneka chuky?" tanya gadis itu lagi.
"Haha, ya tampan." Merry hanya bisa berdoa dalam hati agar putranya tidak mengetahui hal ini.
Namun, seketika Merry ingin mengubur suaminya hidup-hidup. Bagaimana tidak? Suaminya itu sedari tadi diam ternyata sedang merekam mereka!
_____
Aloha, ua hoʻi mai ʻo Vano! \= Halo semua, Vano kembali!
__ADS_1
Hello! I don't know for the number of times I'm sorry. The point is I'm sorry, thank you for those of you who are still faithfully waiting. Love u guys!