
"Ah, maafkan saya, Nona. Saya tidak bisa memberitau. Kecuali, jika Tuan yang menjelaskan sendiri atau menyuruh saya. Sekali lagi saya maafkan saya," sesal sekertaris Sam.
Sementara Elena yang tidak terlalu penasaran, hanya mengiyakan saja. "Iya, tidak apa-apa sekertaris Sam."
Usai itu, mereka kembali menatap keluarga yang sedang bahagia di depan. Terlihat, Zen masih berusaha menghindar dari ciuman bertubi-tubi sang ibu.
Berbeda dengan sang ayah yang hanya menatap keduanya tanpa ikut campur.
"Mom, cukup. Di sini ada Elena dan Sam, tolonglah," bujuk Zen pada ibunya.
"Apa? Ada menantu imutku? Ah, kenapa kau baru bilang? Dasar anak nakal!" omel sang ibu kemudian celingak-celinguk mencari keberadaan menantu imutnya.
"Elena menantu imut kesayangan, mommy!" seru wanita paruh baya setelah berhasil menemukan sang menantu, dan langsung menubruk tubuh mungil tetapi berisinya.
"Mo–mommy, Elena ti–tidak bisa ber–nafas," ujar Elena terbata-bata.
Zen baru akan melepaskan Elena, tetapi kalah cepat dengan sang ibu. Sang ibu segera melepaskan pelukannya dan mengusap-usap punggung Elena.
"Astaga, Sayang ... maafkan mommy, ya? Mommy terlalu bersemangat jika melihat wajah imutmu. Tapi, ada yang sakit, tidak?" tanya wanita paruh baya itu khawatir.
"Tidak, Mom. Elena baik-baik saja," jawab sang gadis tersenyum manis, berusaha menenangkan.
"Syukurlah kalau begitu. Kita masuk, yuk!" ajak ibu Zen sambil menggandeng Elena masuk ke dalam.
Sedangkan ketiga pria yang sedari tadi diam, hanya menggeleng-gelengkan kepala menatap kepergian mereka.
__ADS_1
"Dad, apa dulu kau tidak salah memilih istri?" Zen bertanya tanpa menatap sang ayah.
"Ehm, mungkin begitu." Sang ayah pun menjawab dengan lancar tanpa hambatan.
Sedangkan sekertaris Sam, hanya diam mendengar percakapan gila kedua ayah dan anak itu.
'Ayah dan anak sama saja,' batin sekertaris Sam.
***
"Elena, mau makan apa, hm?" tanya Merry selaku ibu dari Zen.
"Eum ...." Sang gadis sedang berpikir keras. Semua orang di meja makan menatapnya, menunggu jawaban dari sang gadis.
Tampaknya, ia telah menemukan jawaban. Namun, ia ragu untuk memberitaunya. "E–Elena, m–mau m–makan buah, b–boleh tidak?" Akhirnya gadis itu mengeluarkan suara walaupun ragu.
Namun, sang gadis nampaknya belum selesai dengan perkataannya. "T–tapi, b–buah yang d–di t–taman depan," lanjutnya takut-takut.
Mendengar jawaban dari sang gadis, semua yang ada di ruangan itu diam, hanya menatapnya. Diamnya semua orang, membuat sang gadis semakin takut, matanya berkaca-kaca.
"T–tidak b–boleh, ya?" Air mata gadis imut dalam balutan dress mini itu, akhirnya keluar. Ia semakin tersedu saat semuanya hanya diam menatapnya datar.
Bahkan, Merry yang tadinya sangat antusias dan lembut padanya, ikutan diam.
"T–tidak j–jadi! E–Elena t–tidak jadi m–makan buah! E–Elena mau b–bobo aja, t–tidak mau m–merepotkan m–mommy, d–daddy d–dan Tua Zen!" Kedua mata sang gadis, sendu saat mengatakan 'tidak ingin merepotkan'. Entah kenapa, hatinya sakit.
__ADS_1
Selepas itu, ia berdiri dari meja makan, dan memberikan mereka senyuman dengan berderai air mata, lalu segera berlari ke atas dengan hati yang hancur.
Mereka semua hanya dia menatap sang gadis pergi.
Duk!
Merry menyentil dahi Zen dan memarahinya. "Dasar anak nakal! Coba kau lihat, menantu imutku menangis karenamu!"
Pria yang menjadi korban penyentilan, mengadu kesakitan. Bukan karena lebay, tetapi dahinya masih memar karena dua hari lalu, saat ia dan Elena tidur bersama, ia ditendang sang gadis hingga jatuh ke lantai dan akhirnya dahi mulusnya terbentur.
"Shh ... tapi 'kan, mom menyetujui rencanaku untuk membuatnya menangis!" seru Zen kesal. Ya, mereka bertiga—Zen dan kedua orang tuanya, sepakat untuk melihat wajah super imut Elena dengan membuatnya menangis.
Dan tentu saja itu rencana dari Zen. Karena pria itu sudah tau, kalau istrinya sangat ingin makan buah di tempat yang mereka lewati tadi.
Zen tidak mau melewatkan kesempatan itu, sampai akhirnya menolak permintaan sang gadis dengan hanya diam dan menatapnya datar hingga akhirnya sang gadis menangis. Zen sudah memprediksinya.
"Em, tapi tidak apa-apa juga," kata Merry yang nampak berpikir, menerawang ke atas.
Tiba-tiba saja, rautnya menjadi penuh semangat dan menatap Zen juga suaminya. "Astaga, aku tidak bisa melupakan hidungnya yang memerah! Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, tapi— Oh my! Wajahnya memang super imut seperti anak kelinci!" serunya antusias hingga mendorong-dorong Zen di sampingnya.
"Tapi memang dad akui, istrimu memang sangat imut." Beliau bersuara tiba-tiba setelah tadi diam.
"Sudah kubilang, mom dan dad tidak akan menyesalinya," jawab Zen dengan wajah percaya diri.
Sedangkan sekertaris Sam yang sedari tadi duduk diam di kursi paling ujung meja makan, hanya bisa mengelus dadanya jika bisa. Benar-benar keluarga gila, pikirnya.
__ADS_1
_____
Halo! Maaf ya, update lama.