Istri Polos Tuan Zen

Istri Polos Tuan Zen
Tampan


__ADS_3

Zen akhirnya pulang cepat malam ini juga. Bukan karena Elena, tetapi pertemuan mereka lebih cepat selesai di luar dugaannya, karena biasanya sangat lama jika ada meeting mendadak.


Saat ini, Zen memutuskan untuk menginap pada rumah orang tuanya, karena hari sudah larut malam.


Saat ia datang, lampu-lampu di ruangan sudah padam, tandanya semua penghuni di rumah telah tidur.


Namun, saat Zen membuka pintu kamar dulunya, ia melihat gadis dengan piyama tidur bercorak beruang masih bangun dengan televisi menyala yang menayangkan kartun tikus, bebek dan lainnya atau mickey mouse.


"Elena?" panggil Zen setelah pintu ia kunci. Karena sedari ia membuka pintu, gadis itu belum menyadari kehadirannya.


"Tuan Zen?!" seru gadis itu dan langsung menubruk tubuh Zen hingga mereka sedikit terhuyung ke belakang.


Ada rasa sedikit senang di hati saat ada yang menyambut kepulangannya. Karena biasanya, hanya ruangan senyap yang menyambutnya.


Namun, Zen harus menjaga imagenya. Ia tidak mau menunjukan kebahagiannya. Egonya memang sangat tinggi.


"Hei, lepaskan. Apa sebegitu rindunya kau padaku?" tanya Zen sembari melepaskan pelukan Elena.


"Eum, ya! Elena rindu tuan ...," balas gadis itu dengan memandang Zen melas.


"Tapi tidak denganku." Zen berkata datar seraya berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal dan mengikuti langkahan kaki sang pria.


"Kau mau apa?" tanya Zen saat melihat Elena mengikutinya sampai di depan pintu kamar mandi.


Gadis itu mengerutkan dahinya bingung. "Hah?"


Zen yang sudah tau kelemotan Elena, hanya menghiraukan saja dan langsung masuk. "Sudahlah."

__ADS_1


***


"Kau." Tunjuk Zen selesai ia mandi dan berpakaian pada Elena yang sedang duduk menonton.


"Kenapa?" tanya gadis itu.


"Ambilkan air putih," ujar Zen sembari duduk di samping Elena.


Dengan patuhnya, Elena mengangguk dan segera berjalan ke arah pintu untuk ke dapur.


Setelah Elena pergi, Zen berdecak karena melihat siaran yang Elena tonton. Segera saja ia mengganti siaran dengan random sampai Elena datang membawa segelas air putih.


"Tuan, ini." Elena meletakan gelas itu ke atas meja yang menjadi pembatas antara televisi dan sofa.


"Hmm."


Jarum jam sudah mengarah ke angka satu. Tandanya hari sudah semakin larut. Namun, Elena dan Zen masih fokus ke televisi yang masih menyala.


"Hei?" panggil Zen menatap Elena.


"Tuan memanggil Elena?" jawab gadis itu balik menatap Zen.


"Siapa lagi di ruangan ini selain kau." Zen berujar malas. "Pijatkan kepalaku," pintanya kemudian langsung menidurkan kepalanya pada pangkuan Elena.


Elena yang biasa saja itu langsung menggerakkan jari-jarinya pada kepala Zen.


"Darimana kau bisa memijat?" tanya pria itu setelah merasakan lumayan nyaman dengan pijatan Elena hingga matanya terpejam.


Gadis itu terlihat berpikir, menerawang. "Eum, Elena tidak tau darimana, Elena hanya terbiasa memijat kepala ayah," ungkapnya.

__ADS_1


Pria itu tidak menanggapinya, karena sudah duluan kesal mengingat kelakuan ayah dari sang gadis.


"Ternyata benar," gumam Elena.


Zen yang mendengar itu, bertanya dengan mata yang masih tertutup. "Benar kenapa?"


"Tuan tampan," ungkap Elena dengan polosnya.


Kepercayaan diri Zen melambung tinggi setelah mendengar ungkapan tersebut.


"Kau baru sadar, heh?" tanya Zen percaya diri.


"Heum, seperti boneka chuky," tambah sang gadis yang membuat Zen membuka matanya.


"Apa kau bilang?!" Zen menatap tajam Elena yang berada di atasnya.


"Heum? Elena bilang tuan tampan seperti boneka chuky," jawab gadis itu dengan tampang lugunya.


Karena itu, Zen tau pasti ada yang tidak beres di baliknya. "Siapa yang memberitaumu aku tampan seperti chuky?" tanya Zen menatap curiga Elena.


"Mommy dan Vano. Mommy bilang, tuan Zen mirip boneka chuky, tampan," terang Elena tanpa tau bahwa pria yang dipijatnya sedang menahan geram.


_____



Ini nih, yang nanya visual Elena


Makasih ya, yang tetap stay di sini;)

__ADS_1


__ADS_2