Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Menepi


__ADS_3

Arash memenangkan balapan dengan mudah. Jika soal mengendalikan kuda besi di jalanan, tentu saja dia expert-nya.


Semua pendukung bersorak meledakkan euforia saat Arash menyentuh garis finish sendirian sementara para pembalap liar yang lain masih tertinggal di belakang.


"Arash ... Arash ... Arash ...."


Namanya dielu-elukan sebagai bintang di malam yang semakin pekat ini. Arash tetap santai dan bukan karena hadiahnya dia senang dengan kemenangan ini, tapi karena dia masih mempertahankan diri sebagai hierarki tertinggi di antara kelompok geng motor lainnya.


Kate, gadis yang disiapkan untuk menjadi bonus extra pemenang balap datang menghampiri Arash dan kawan-kawan dengan wajah sensual komplit dengan lirikan dan delikan matanya yang nakal dan memancing.


Suiiit suiiit, siulan menggoda bersahutan saat si seksi Kate semakin mendekat pada Arash yang masih duduk di tunggangannya yang gagah di antara kerumunan para anggota Thunder yang berbangga hati karena kemenangannya malam ini.


Kate membelah kerumunan itu dan berdiri tepat di samping kiri Arash.


"Congrats ya, kamu emang nggak pernah gagal bikin orang-orang terpukau!" ucap Kate lalu menyodorkan tangan berkuku lentik dengan kutek merah miliknya pada Arash.


"Thank's," tukas Arash singkat tanpa membelas jabat tangan Kate. Kate pun jadi malu dan canggung. Dia sadar, meruntuhkan hati sang Arash memang tak akan pernah mudah.


"Kamu dapat prize dan super bonus malam ini, panitia udah nyiapin sebuah kamar buat super bonusnya." Kate masih mencoba menggoda. Bukannya Arash yang tergoda, tapi kawan-kawan dan anak buah Arash lah yang tak bisa menahan lonjakan libido di diri mereka dengan gestur sensual gadis bernama lengkap Katerina itu.


"Gue udah serahkan super bonus itu ke salah satu anggota Thunder! Jadi malam ini lo akan bekerja buat si Pardit!" kata Arash dengan santainya.


Wajah Kate semakin kecewa. Ternyata Arash menolak hadiah extranya, Arash benar-benar menyerahkan bonusnya pada Pradit.


"Oke Kate, kamu milikku malam ini!" kata Pradit kegirangan. Dia tak sabar menghabiskan malam panas dengan wanita seksi itu.


"Sikat Broooo! Sikat sampe lemes!" goda anggota Thunder yang lain dan Arash benar-benar tak peduli. Arash sudah menemukan surganya sendiri walau Arash selalu memperlakukan surganya itu secara semena-mena.


'Gue harus ngasih hadiah buat istri rahasia gue!' pikir Arash, tapi Arash tak tahu kalau Nadira akan pergi ke Bandung, mungkin untuk waktu yang cukup lama.


*


*

__ADS_1


Pergi di pagi-pagi buta dengan mengendarai motor, Nadira dan Galang sampai di kota Bandung menjelang siang.


Dewi cukup kaget dengan kedatangan keduanya, dia juga cemas melihat Nadira yang tampil dengan wajah pucat penuh tekanan.


"Kok nggak bilang dulu kalian mau ke sini? Kalo tahu begini kan biar Om Ryan aja yang jemput pake mobil," sambut Dewi dengan hangat.


"Dadakan kok, Tan. Semalam Nad maksa pengen di anterin ke sini," sahut Galang dan langsung duduk di sofa karena lelah setelah berjam-jam mengendarai motornya.


"Kamu sakit, Nad? Kamu sakit kenapa? Nanti kita ke dokter ya," tanya Dewi curiga dengan keadaan Nadira.


"Nggak kok, Tan. Aku cuma lagi bosen aja, aku mau di sini 3 atau 4 hari ke depan," jawab Nadira menyangkal kecurigaan sang Tante.


"Kalo ada apa-apa tuh kamu jangan diem diem aja! Apa kamu dibully di sekolah?"


"Nggak, Tan. Nggak kayak gitu, aku cuma lagi bosen aja, butuh istirahat, nanti tolong tante konfirm ke wali kelas aku ya, aku minta izin buat absen sekolah, senin aku akan kembali ke sekolah," sangkal Nadira lagi.


Dewi mengerti, dia memang harus melakukan pendekatan yang lain untuk mengorek masalah Nadira.


"Ya udah, nanti tante telpon wali kelas kamu. Kamu mau langsung ke kamar? Atau mau langsung makan?"


"Ya udah ...." Dewi membiarkan Nadira pergi ke kamar tamu yang memang sudah biasa Nadira tempati setiap kali bermalam di rumah itu.


Nadira pergi ke lantai dua. Dewi menatap langkah Nadira dan dia sangat yakin kalau keponakannya itu sedang tidak baik-baik saja. Dewi merasa sangat bertanggung jawab atas Nadira dan Galang, dia pun merasakan kecemasan yang sama seperti kecemasan seorang ibu terhadap anaknya.


"Tan, aku nggak akan lama nih, istirahat satu atau dua jam terus aku mau langsung balik ke Jakarta," kata Galang membuyarkan lamunan Dewi.


Dewi duduk di sofa di dekat Galang.


"Nad kenapa? Apa dia cerita sesuatu ke kamu?" tanya Dewi menginterograsi.


Galang tak langsung menjawab. Galang tahu kalau Nadira mengalami guncangan setelah menjadi tawanan Arash, dan itu semua berawal dari kesalahan Galang.


"Galang, kamu itu kakaknya lho, kamu harus tahu dan aware kalau terjadi sesuatu yang buruk sama adik kamu sendiri! Tante tuh takut Nad dibully di sekolah, yang tante tahu, rata-rata korban Bully itu nggak akan speak up soal masalah yang sedang hadapi, tante justru takut itu akan langsung bikin psikisnya terganggu," kata Dewi lagi.

__ADS_1


"Hmm, aku nggak tahu, Tan. Nad nggak cerita apa-apa, dia cuma ngeluh kalo dia agak demam. Gitu aja sih, nggak cerita apa-apa lagi. Kalo ada yang Bully, biar nanti aku yang pasang badan, aku akan labrak satu persatu pembully itu!" kata Galang, tapi tidak meyakinkan.


"Bener lho, kamu adalah salah satu tameng buat Nadira, kalau bukan sama kamu, sama siapa lagi dia minta perlindungan?"


Galang agak tersindir, ada rasa bersalah juga. Penderitaan Nadira memang bersumber dari masalah yang dia buat.


"Ngomong-ngomong aku laper nih, Tan. Boleh minta makan nggak?" Dan jurus Galang untuk terlepas dari kecurigaan adalah dengan mengalihkan obrolan.


"Makan lah, mau makan di sini atau di meja makan?"


"Di meja makan aja, Tan."


"Ambil sendiri aja ya."


"Oke, Tan." Galang beranjak meninggalkan Dewi dengan hati yang masih disesaki dengan pertanyaan-pertanyaan soal kondisi Nadira saat ini.


Dewi berpikir keras, walau dia sudah tahu kalau Nadira pasti tak akan menceritakan apa pun masalahnya, karena memang seperti itu lah Nadira.


*


*


Setelah puas berpesta merayakan kemenangannyan semalam, Arash akan memakai sisa uang hadiah semalam untuk membelikan sesuatu untuk Nadira.


Arash memang merasa kalau apa yang sudah ia lakukan pada Nadira adalah hal biasa yang tak akan menimbulkan trauma pada diri Nadira, dan dia salah!


Arash heran karena dia tak bisa menghubungi Nadira, pesan yang ia kirim juga tak bisa terkirim, padahal Arash ingin menanyakan hadiah apa yang ingin Nadira inginkan. Arash telah berniat untuk membelikan sesuatu untuk istri rahasianya.


"Hell! Kenapa dia nggak bisa dihubungi? Jangan-jangan nomor gue diblok! Damn ****!" Arash uring-uringan dan dia murka.


Baru saja Arash ingin bersikap manis, tapi Nadira sudah dianggap membuat masalah baru dengan memblokir nomornya sehingga Arash tak memiliki akses untuk menghubungi Nadira lagi.


"Awas aja kalo ketemu nanti nggak akan gue kasih ampun tuh krucil!" ancam Arash kesal. Dia berencana akan ke sekolah Harapan Bangsa setelah kuliahnya selesai untuk menebar intimidasi-intimidasi andalannya lagi kepada Nadira.

__ADS_1


Hanya saja, Arash tidak tahu kalau saat ini Nadira sedang tidak ada di Jakarta. Usaha Arash untuk mencari Nadira akan menjadi sia-sia.


__ADS_2