Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Ancaman Andalan Mama


__ADS_3

Dewi dan Ryan sudah pulang. Nadira menutup pintu pagar rapat-rapat sepeninggal keduanya.


Nadira lelah. Dia melewati hari yang sangat berat hari ini. Dilempari kapur, diusir dari kelas, dibully Jenny dan yang paling buruk adalah didatangi oleh Arash.


Nadira segera pergi ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya yang lelah sambil meraba-raba ke bawah bantal untuk mencari handphone-nya.


"Nyalain jangan ya? Kalo dinyalain, pasti akan banyak telpon masuk! Apa lagi Kak Arash udah punya nomorku! Kai juga pasti bakalan nuntut penjelasan sama aku! Aaaah, mending aku nggak usah nyalain dulu deh!"


Nadira memutuskan untuk membiarkan handphone-nya tetap mati agar tak menerima gangguan dari siapa pun. Sebaiknya Nadira menikmati masa tenangnya. Sungguh ia tak tahu apa lagi yang akan terjadi di esok hari.


*


*


"Pak Aji pulang kampung, besok kamu harus anterin Mama belanja ke super market!"


"Mama kan bisa nyetir sendiri, besok aku ada kelas penting yang nggak bisa ditinggal!"


"Ya udah, mama tunggu sampai kamu pulang kuliah."


Arash tampak tak suka diminta untuk menjadi sopir dadakan oleh sang Mama, Rima.


Malam ini Arash tidak liar. Dia makan malam di rumah bersama sang mama berduaan saja di meja makan di rumahnya yang sangat Homy dan Cozy. Sementara Papanya harus bertugas di negeri Qatar sebab papanya Arash merupakan seorang Pilot di maskapai besar dari negara penghasil minyak itu.


"Habis itu aku ada latihan basket, Mah. Kayaknya nggak bisa deh." Arash masih mencoba menolak.


"Banyak alasan!"


"Maaah ...."


"Ya udah nanti Mama bilangin sama Tante Juwi kalo kamu itu pemalas dan nggak pantas dijodohin sama Vinara!" ancam Rima.


Entah kenapa, saat sang Mama menyebut nama 'Vinara', tiba-tiba Arash menjadi sedikit lebih jinak.


"Ancaman andalan mama, heh!" Lalu Arash tersenyum masam.


"Ya itu sih terserah kamu aja, 3 bulan lagi Vin akan segera pulang ke Jakarta! Nanti mama tinggal jujur aja sama Vin dan Tante Juwi kalo kamu ini masih saja membangkang dan nakal! Biar Vin berpikir ulang buat dijodohin sama kamu!" Rima begitu santai menakut-nakuti sang putra.


Entah apa yang terjadi, entah siapa Vinara, yang pasti Arash berangsur melunak setelah mendengar nama itu beberapa kali disebut oleh mamanya.


"Ya udah iya, besok aku anterin mama belanja!" Arash pasrah.

__ADS_1


"Nah gitu dong!"


"Vin beneran bakalan pulang 3 bulan lagi?" tanya Arash.


"Katanya begitu. Emangnya kamu nggak ngobrol sama Vin? Kalian masih suka saling berbalas pesan kan?"


"Udah jarang sih, mungkin dia emang benar-benar sibuk!"


"Laaah, mama masih suka chat kok sama Vin? Kamunya aja kali yang suka gengsi buat chat duluan," goda Rima.


"Nggak juga. Dia kok yang suka balasnya lama, kadang juga cuma dibaca doang, jarang balas!" jawab Arash agak kekik. Sebal karena cinta terdalamnya ternyata agak bertepuk sebelah tangan.


"Ya udah, sebelum kamu mengajukan diri sebagai calon jodohnya Vinara, sebaiknya kamu perbaiki kualitas diri kamu terlebih dulu, pelan-pelan aja, sampai kamu benar-benar pantas bersanding dengan Vin!" saran Rima.


Arash tak menjawab. Arash hanya tersenyum getir seolah dia pesimis untuk menggapai hati gadis bernama Vinara itu.


Siapakah Vinara?


"Habis makan langsung ke kamar! Malam ini nggak boleh keluyuran!" kata Rima dengan tegas.


Arash tak menjawab, yang pasti, setelah nama Vinara disebut-sebut, Arash menjadi lebih banyak diam.


Ping! Arash mendapat notifikasi pesan masuk. Arash memeriksanya dan dia mendapat pesan gambar dari Pradit di grup Thunder.


Arash tersenyum puas. Devilish smile-nya terbit lagi setelah melihat pesan gambar itu. Ya! Arash mendapat laporan kalau Kaizan dilarikan ke sebuah IGD setelah mengalami kecelakaan karena sabotase para anggota Thunder.


Mission complete! Target sudah diberi faham! Arash benar-benar puas.


*


*


Kabar kecelakaan Kaizan menghebohkan seisi sekolah. Kabar itu menjadi trending dan Nadira baru tahu sebab sejak kemarin dia memang sengaja mematikan handphone-nya sehingga tak mengetahui kabar apa-apa.


"Kita do'akan semoga Kai bisa segera pulih dan kembali belajar bersama kita semua," ucap Pak Nando, guru yang memulai kegiatan belajar di kelas Nadira dengan berdoa bersama untuk Kaizan.


Nadira sangat tak percaya. Nadira juga merasa sangat bersalah. Sementara Jenny nangis bombay di pojok kelas.


Jangan-jangan ini ulah Kak Arash dan Thunder? Pikir Nadira. Nadira langsung mencurigai Arash dan kawan-kawan.


*

__ADS_1


*


Di jam istirahat, Nadira langsung pergi ke loker lalu menyalakan ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab dan puluhan pesan masuk serentak membuat hape-nya nge-lag untuk beberapa saat.


"Ayo lah ...." Nadira sangat tak sabaran dan ingin segera menemukan nomor Arash. Kebetulan, di antara panggilan tak terjawab itu, ada terselip nomor Arash.


Nadira segera menghubungi nomor itu. Kebetulan sekali saat ini Arash sedang ada di markas Thunder. Arash sedang duduk-duduk santai sambil merokok dan minum-minum ringan dengan beberapa anggota Thunder yang sedang bolos kuliah sama seperti dirinya.


"Heh, krucil gue nelpon!" kata Arash begitu senang saat Nadira menelponnya.


"Siapa? Si Nad?" tanya Irfan.


Arash tak menjawab dan langsung mengangkat panggilan itu. Irfan, Pradit dan Jimmy langsung pasang kuping untuk menguping obrolan Arash dan mainan barunya.


"Kak!" Begitu tersambung, Nadira langsung menghentak memanggil Arash sehingga Arash terkaget.


"Berani banget kamu bentak-bentak aku kayak gitu, Nad! Awas aja kalo nanti kita ketemu!" Arash langsung mengancam.


"Kak Arash curang! Aku udah menuruti Kak Arash kemarin, tapi kenapa Kak Arash masih mencelakai Kai?!" Nadira tak peduli dengan ancaman itu dan langsung menuntut Arash dengan to the point.


"Kamu masih peduli sama bocah ingusan itu?" Arash marah.


"Dia kritis di Rumah Sakit! Aku yakin kecelakaan semalam itu ada hubungannya sama Thunder! Iya, kan?" tuduh Nadira penuh emosi sambil tengak tengok kanan kiri sebelum ada yang datang ke lorong loker room itu.


"Ngelunjak yaa kamu!" Arash tetap marah.


"Terserah! Kak Arash udah melanggar perjanjian kita kemarin! Aku sudah menghindari Kai, bahkan aku juga menghindari Ami, tapi ternyata Kak Arash masih melancarkan rencana jahat Kak Arash! Kak Arash adalah orang paling licik yang pernah aku tahu! Aku benci Kak Arash! ****!"


Nadira meledak dan tanpa diduga, dia meluapkan semua kemarahannya diakhiri dengan kata kasar yang seketika membuat Arash terbengong.


Tak ada satu pun orang yang berani merutukinya seperti itu kecuali musuh. Arash masih terbengong saat Nadira mengatainya dengan kata "****" barusan.


Suara Nadira yang lantang terdengar oleh kawan-kawan Arash sehingga mereka pun terlihat kaget tak percaya.


"Oh my god! Dia berani banget, Bro!"


"Oh woww! Sulit dipercaya, seorang Arash dikatai sama anak SMA!"


"Wah wah, nggak bisa didiemin ini, Rash!"


Tema-temannya malah semakin memanaskan hati Arash. Mata Arash menyala dan tangannya terkepal kuat pada handphonenya itu. Arash marah dan dia akan memberi pelajaran pada Nadira.

__ADS_1


__ADS_2