Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
I Will


__ADS_3

Sudah sekitar 30 menit Nadira dan rombongan tiba di rumah Dewi. Dewi dan Ryan sengaja tidak pergi ke toko sebab tahu kalau Nadira akan datang. Hanya saja Dewi tak menyangka kalau Nadira datang bersama dengan Arash dan Papanya.


Teguh memang sudah memantapkan niatnya. Dia bukan tipe orang tua yang suka ambil pusing. Mendengar kisah tentang Arash dan Nadira, dia pun merasa bertanggung jawab untuk mewujudkan niat baik Arash.


Nadira, Galang, Arash dan Teguh sendiri sudah menyampaikan maksud kedatangan mereka sehingga Dewi dan Ryan dibuat tersentak sampai tak bisa merespon apa-apa pada awalnya.


"Saya pun menyayangkan hal ini, mengingat Nadira masih sekolah dan masih sangat belia, tapi mau bagaimana lagi? Ini semua sudah terlanjur, kita bisa apa? Sebagai orang tua, saya cuma bisa mewujudkan niat baik mereka sebagai solusi terbaik untuk saat ini," kata Teguh di saat semua orang diam.


Dewi menatap lurus pada Nadira, dan jelas terlihat kalau Dewi sangat kecewa pada Nadira.


"Nad? Kenapa ini bisa terjadi?" gumamnya pelan tapi Galang bisa dengar.


"Ini salahku, Tante! Ini pure kesalahanku! Arash emang bejat, tapi ini semua nggak akan pernah terjadi kalo aku nggak berhutang sama dia! Jadi intinya, ini adalah salahku ...." akui Galang.


"Jahat kamu, Galang! Kamu emang jahat! Tante kecewa sama kamu!" Tangis Dewi pecah dan tak kuasa menahan rasa sesal.


"Sudah, Wi. Sudah ...." tenangkan Ryan.


"Tante sadar, tante juga nggak bisa mengawasi kamu setiap hari, tapi kenapa ini harus terjadi, Nad? Kenapa kamu mau diperalat sama Kakakmu, kenapa? Sekarang kamu hamil, terus gimana selanjutnya ...." Dewi mulai bersuara dan hanya bisa menangis.


"Tante nggak usah merasa cemas, aku baik-baik aja kok. Tante juga nggak usah merasa berdosa, aku melakukan ini setelah aku terikat dengan pernikahan, seperti yang selalu diwanti-wantikan ayah sama ibu ...." tenangkan Nadira. Dia tiba-tiba terlihat tegar sebab dia sudah cukup yakin pada Arash dan Teguh.


"Iya, tapi tetap aja ... Ya Allah, Nad ...."


"Maafkan aku, tante ...." ucap Nadira. Suasana pun terasa begitu mengharu biru.


"Nggak, Nad. Kamu nggak salah apa-apa, tante lah yang harusnya minta maaf sama kamu karena selama ini tante nggak merhatiin kamu."


"Nggak apa-apa kok, perhatian tante sudah lebih dari cukup. Tapi semuanya udah terjadi, tujuan utama aku datang ke sini adalah, untuk minta restu, sekarang hak asuhku ada pada tante, oleh sebab itu aku minta restu pada tante buat menikah dengan Kak Arash ... Setidaknya sampai anak ini memiliki nama yang jelas di dalam akta kelahirannya kelak ...." Nadira benar-benar tegar.


Dewi belum memberi jawaban pasti, tapi ....


*


*


2 hari kemudian ....


"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Putri Binti Arman dengan Mas Kawin tersebut dibayar tunai!"


Untuk yang kedua kalinya Arash mengucap kalimat sakral itu. Hanya saja kali ini mereka menikah secara resmi di hadapan penghulu dan di hadapan para orang tua.


Dewi dan Rima adalah dua orang yang tampak tidak bahagia dengan pernikahan ini. Baik Dewi maupun Rima sama-sama tak menyetujui pernikahan ini karena menganggap kalau Nadira terlalu mentah untuk mengemban status sebagai seorang istri di usianya yang baru saja lewat 17 Tahun.


Sementara Teguh dan Ryan tak mempermasalahkan itu. Yang terpenting adalah Arash dan Nadira sudah terikat dalam ikatan yang resmi agar kelak tak ada perdebatan soal kelahiran anak mereka.


Dan demikian lah, secara diam-diam dan tertutup, Nadira dan Arash dinikahkan di rumah Nadira yang di Jakarta, dan tak lupa, Ustadz yang dulu menikahkan keduanya juga diundang untuk menjadi saksi.


*


*


Setelah kembali resmi menjadi istri Rahasia Sang Arash, Nadira diboyong ke rumah Arash dan siap melewati hari-harinya yang baru di rumah itu.


Teguh sangat welcome, pembantu di rumah Arash juga menyambut Nadira dengan baik, kecuali Rima. Mungkin cukup sulit bagi Rima menerima takdir Arash yang pada akhirnya harus menikah secara diam-diam seperti ini dengan gadis yang terlanjur ia anggap tidak baik. Di dalam angan Rima, dirinya hanya menginginkan Vinara untuk menjadi menantunya.


"Pergilah ke kamar, sampai kamu lulus, kalian memiliki kamar masing-masing, ini untuk menjaga konsentrasi belajar kamu. Papa kira, kamu butuh ruang sendiri daripada harus satu kamar dengan Arash," kata Teguh.


Yes! Nadira senang sekali. Teguh benar-benar papa mertua idaman yang sangat mengerti keinginan Nadira tanpa harus mengutarakannya. Nadira memang belum siap satu kamar dengan Arash, itu akan mempengaruhi fokus belajarnya.


"Terima kasih, Pah ..." ucap Nadira dengan wajah cukup sumringah.


"Arash, antarkan Nad ke kamarnya," pinta Teguh pada Arash yang bete karena tak bisa satu kamar dengan Nadira.


"Kenapa nggak di kamar Arash aja sih? Nad ini bukan tamu, dia itu istrinya Arash, Pah!" protes Arash pada sang Papa.


"Jangan batasi ruang gerak Nadira! Dia sebentar lagi menghadapi ujian Nasional, dia perlu ruang yang tenang agar bisa belajar dengan baik! Ingat, Arash, Nad ini masih di bawah umur! Kamu jangan berpikir macam-macam!" tegur Teguh.

__ADS_1


Yes! Papa mertua, aku padamu! Batin Nadira sambil tersenyum puas.


Hupphh! Arash pasrah dan hanya bisa membuang nafas kasar. Arash membawakan koper milik Nadira menuju ke lantai 2 rumah di mana kamarnya dan kamar Nadira berada.


"Aku ke kamar dulu, Mah Pah ...." pamit Nadira dengan segan.


"Istirahat lah," persilakan Teguh.


"Baik, Pah. Terima kasih ...."


Sebelum pergi, Nadira melirik ke arah Rima tapi Rima sama sekali tak bicara apa-apa, tidak pula menunjukkan sikap yang hangat. Dia diam, dingin dan menunjukkan sikap tidak sukanya terhadap Nadira.


"Besok aku harus kembali bertugas, awasi anak kita, jangan sampai dia membuat Nadira tidak nyaman ada di sini," kata Teguh pada Rima setelah Nadira pergi ke lantai 2 Rumah.


"Yang anak kita itu Arash! Aku yakin kalau yang salah itu yaa anak itu dan kakaknya yang berhutang pada Arash! Sekarang siapa yang terjebak? Ya anak kita! Arash tuh udah terjebak sekarang, Mas!" Rima malah mendebat.


"Kamu bicara apa sih? Pelankan suara kamu, jangan sampai Nadira mendengarnya!" tegur Teguh.


"Biar aja dia dengar! Biar dia tahu kalau kemunculannya udah menghancurkan mimpi beberapa orang!"


"Rima! Cukup ya! Berusahalah untuk menilai secara objektif! Kita sudah tahu kronologinya! Yang salah itu Galang dan Arash! Sudah! Kita harus ikut bertanggung jawab untuk masa depannya! Kamu ini sama-sama perempuan lho, gimana kalau Nadira itu adalah anak kandung kamu? Apa kamu bisa bayangkan? Terlebih Nadira adalah anak yatim piatu!"


Rima semakin gusar. Rima merasa dipojokkan karena Teguh terus membela Nadira. Rima merasa semua orang terlalu peduli pada Nadira dan tak ada yang peduli dengan dirinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Teguh saat Rima melengos pergi begitu saja untuk menghindari perdebatan yang lebih hebat lagi dengan suaminya.


"Aku butuh waktu buat menerima ini semua! Jangan ikuti aku!" kata Rima lalu menarik kunci mobil dan entah kemana ia akan pergi.


Baiklah. Teguh mencoba mengerti, Teguh pun akan membiarkan istrinya menenangkan diri dengan caranya sendiri.


*


*


Nadira merasa cukup nyaman. Kamar barunya tak beda jauh dengan kamar lamanya. Hal yang membuat Nadira merasa lega dan senang adalah karena dirinya tidak dibiarkan satu kamar dengan Arash. Ya, walaupun sekarang status mereka sudah resmi, tapi Nadira tak bisa membayangkan bagaimana nanti Arash akan membuat konsentrasi belajarnya buyar.


'Jadi istri rahasia lagi, dan sekarang keadaannya terasa lebih baik ... Semoga ....' batin Nadira lalu membuka lebar jendela kamarnya. Mungkin itu bisa jadi salah satu spot favorit di kamar itu.


"Iih, Kak Arash ... Jaga jarak dong!" kata Nadira lalu mendorong Arash agar menjauh darinya.


"Jaga jarak? Helooo! Sekarang kita udah nggak punya jarak apa-apa lagi! You're my secret wife ... Again!" kata Arash dan malah semakin memenjara Nadira sehingga tak ada lagi jarak di antara mereka.


"Sampai kapan ini akan berlangsung? Aku ngerasa, kalau ini akan ada akhirnya ... Mama kamu, dan juga tante Dewi, nggak menginginkan pernikahan ini terjadi ...." tanya Nadira.


"Kita lihat aja ke depannya! Apakah ini akan berjalan baik? Sejauh mana pernikahan ini akan berjalan, kalo boleh minta, tentunya aku maunya nggak akan ada lagi acara pernikahan dengan perempuan lain." Kata-kata Arash lumayan menyentuh hati Nadira.


Benarkah bajingan ini sudah berubah? Secepat ini? Bukankah dulu dia menggaungkan niat untuk membuang Nadira setelah dirinya merasa puas dan bosan? Apakah prinsip itu sudah tidak ada lagi?


"Kalo Kak Arash nanti bosan, gimana?"


"Itu tugas kamu buat bikin aku nggak bosen, bisa?"


"Gimana?"


"Atau jangan-jangan kamu yang mau punya pengalaman dipinang sama lebih dari satu lelaki?" tuduh Arash lalu menatap Nadira dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Idiiih, sembarangan!"


"Ya udah."


"Ya udah apa?"


"Berusaha lah jadi istri yang baik."


"Cuma aku aja yang berusaha jadi istri yang baik?"


"Aku juga akan berusaha jadi suami yang baik buat kamu!"

__ADS_1


Dua kali hati Nadira tersentuh hari ini. Suami bajingannya sudah berangsur bersikap baik. Dimulai dengan kata-kata yang manis dan Nadira berharap kalau ini akan menjadi awal yang baik.


"Berusaha lah!" kata Nadira dan akhirnya dia akan mulai percaya kalau Arash sedang tidak main-main.


"I will!" tegas Arash.


Baru kali ini Nadira menyerahkan senyum lepasnya ke hadapan Arash dan Arash pun senang.


"By the way, anak kamu mau boba," ucap Nadira juga mulai leluasa meminta pada Arash.


"Anakku atau kamu yang mau boba, huh?" Arash jadi gemas dan hal paling dia sukai adalah mencubit hidung Nadira.


"Serius, dia maunya boba, kalo aku maunya lumpia basah!"


"Bisa aja triknya!" cibir Arash.


"Mau beliin nggak? Kalo nggak, aku mau minta Kai aja buat beliin," ancam Nadira.


"Heh, mana boleh minta-minta sama cowok lain?" Arash langsung melotot.


"Ya udah, cepet beliin. Dan satu lagi, kak Arash nggak bisa lama-lama ada di kamar ini, ini ruang privasiku, tolong ingat itu!"


"Banyak aturan!"


"Aku nggak mau kalo sampai gagal dalam ujian! Aku harus fokus! Please!"


"Boba aja sama Lumpia basah, nggak ada yang lain lagi?"


"Iya, itu aja."


"Yakin? Sekalian, biar nggak bolak balik nih!"


"Yakin."


Arash mengalah dan pergi, padahal membayangkan akan mengurung diri bersama Nadira di kamar itu dan mengulang permainan panas mereka beberapa bulan lalu, tapi Arash sadar kalau saat ini situasinya sedang tidak konsudif.


Nadira bisa mencair kalau Arash bersikap baik. Dan Arash sudah mengerti akan hal itu. Maka, untuk membuat Nadira nyaman, maka Arash pun harus memulai dengan memperbaiki dirinya.


Sepeninggal Arash Nadira menutup pintu dan segera membereskan isi kopernya ke dalam lemari yang tersedia.


"Halo kehidupan baru, selama datang dan selamat bersenang-senang ...." Nadira menyambut dirinya sendiri dan berusaha untuk berpikir positif.


Lupakan sikap judes Rima, lupakan semuanya. Setidaknya Arash sudah bersikap baik ditambah lagi dengan perhatian Teguh. Nadira yakin kalau ini akan menjadi awal yang baik untuknya.


*


*


Arash harus tetap kuliah sementara Nadira akan menjalani pemeriksaan pertamanya ke sebuah klinik yang dipilih oleh Rima.


Nadira akan bertemu dengan dr. Jasmine, seorang dokter kandungan di klinik ibu dan anak terbaik yang ada di Jakarta. Sepanjang perjalanan menuju ke klinik, hampir tak ada obrolan yang tercetus di antara keduanya. Rima menyetir sendiri dan Nadira hanya duduk di seat penumpang di samping Rima.


Dan saat tujuan semakin dekat ....


"Masa depan Arash, masa depan kamu, sudah kalian pertaruhkan di dalam pernikahan ini! Saya harap masih ada jalan lain selain ini, atau mungkin ... Nanti kita bisa mengatur rencana agar kelak kalian bisa meneruskan lagi kehidupan kalian masing-masing. Soal anak, biar saya yang urus, saya akan membesarkannya seperti membesarkan anak sendiri," ucap Rima membuat ketenangan Nadira terusik lagi.


Nadira berpikir keras dan lama kelamaan mengerti apa maksud perkataan Rima.


"Nggak peduli walaupun kalian saling mencintai, tapi Arash akan meneruskan study S2 ke luar negeri! Arash itu anak saya satu-satunya, saya nggak bisa menaruh harapan terbesar saya pada siapa pun lagi kecuali pada Arash! So, please, jangan kacaukan harapan saya terhadap Arash!" Rima semakin gamblang memojokkan Nadira.


Baru saja Nadira merasa hidupnya akan berjalan baik, tapi ternyata itu tak berlangsung lama karena perkataan Rima baru saja mengacaukannya.


"Saya dan suami saya juga akan menguliahkan kamu! Tapi kita nggak bisa selama-lamanya terikat seperti ini. Saya harap kamu ngerti apa maksud saya," lanjut Rima.


"Mama mau kami bercerai?" tanya Nadira memberanikan diri.


"Ya! Setelah anak itu lahir! Pergi dan raihlah mimpimu, anak kalian, biar saya yang besarkan."

__ADS_1


Nadira sudah sering kecewa dan sakit hati, dan sekali lagi dia merasa hancur. Tapi Nadira tak menunjukkan hal itu. Padahal baru saja kemarin dirinya dan Arash berikrar untuk mempertahkan pernikahan mereka. Tapi apa yang terjadi sekarang?


Dan akhirnya mereka sampai di klinik itu. Nadira sudah semakin sadar diri kalau dirinya memang bukan menantu yang diinginkan.


__ADS_2