
Arash pun ketiduran, tapi seperti janjinya, dia tak melakukan hal-hal nakal. Hanya memeluk dan mendekap saja.
Alarm Nadira berbunyi, alarm yang membangunkan sebelum Adzan subuh berkumandang. Nadira memang biasa bangun di jam itu untuk belajar.
Nadira malah ingin berlama-lama dan tak munafik kalau pelukan Arash terasa begitu nyaman. Ini adalah momen pertama mereka tidur bersama dalam keadaan tenang.
'Kamu menepati janji kamu, kamu nggak macam-macam ....' batin Nadira lalu menatap tangan Arash yang tetap berjaga melingkar di perut Nadira. Tidak ada acara grapa *****, benar-benar tidak ada.
Nadira mengabaikan jam belajarnya dan malah ingin berlama-lama dalam pelukan Arash sampai akhirnya kumandang adzan subuh bergema. Nadira pun hendak bangkit tapi Arash malah mengeratkan pelukannya seolah Nadira adalah guling yang biasa ia dekap di setiap malam-malamnya.
"Kak ...." bangunkan Nadira.
Arash terusik dan dia pun baru sadar kalau ternyata dia kebablasan dan ketiduran di kamar Nadira.
"Lepasin, aku mau ambil wudhu!" kata Nadira lalu menyingkirkan tangan Arash yang mulai longgar dari perutnya.
"Ini udah subuh?" Arash menggeliat sambil menguap karena tak biasa bangun subuh seperti ini.
"Iya. Ayo bangun! Ambil wudhu, kita sholat bareng!" ajak Nadira.
"Nggak ah," tolak Arash malah kembali menarik selimut dan melanjutkan tidurnya.
Nadira curiga kalau Arash tak pernah sholat subuh. Memang sulit memprediksi seorang berandal seperti Arash, apakah ingat atau lalai akan ibadah wajibnya.
"Kak, ayook!" paksa Nadira.
"Nggak, masih ngantuk ah!"
"Masa mau jadi orangtua masih kayak gini sih? Apa yang bisa dicontoh sama anak kita nanti? Ayoook!" Nadira menarik selimut dan mengusik kenyamanan Arash.
"Nad, please lah ...."
"Nggak mau tahu! Pokoknya harus ikut aku sholat!"
"Nad ...."
"Cepetan!" Dengan segenap kekuatan, Nadira menarik tangan Arash sehingga Arash tak bisa mengelak dan ikut bangun.
Dan itu lah, subuh itu menjadi salah satu sejarah baru. Arash yang seringkali melupakan kewajibannya, akhirnya mau melaksanakan sholat bahkan dipaksa mengimami walau dengan bacaan yang alakadarnya.
Dua rakaat dengan durasi paling singkat sudah dilaksanakan dan sungguh Nadira ingin protes setelah sholat mereka selesai.
"Kak Araaash, iih ... Bacaan apa tadi? Masa bacaan ayat pendeknya cuma separoh separoh!" protes Nadira kesal.
__ADS_1
"Yaa emang hafalnya cuma separoh," jawab Arash dengan entengnya.
"Ya udah, mulai hari ini Kak Arash harus belajar ngaji lagi!"
"Yaela, Nad."
"Minimal kamu bisa ngimamin aku! Nggak perlu jadi imam orang banyak di Masjid, aku tahu, terlalu naif mengharapkan suami yang soleh karena aku juga jauh dari kata baik, tapi yaa seenggaknya kita bisa menjadi baik bersama-sama!"
Arash menatap Nadira yang masih berbalut mukena, ada dimensi lain yang dia lihat. Arash kira Nadira orang yang cuek akan ibadah wajibnya, ternyata Nadira masih ingat sholat dan tak sungkan untuk menasehati Arash juga.
"Malah bengong sih? Kak Arash dengar kata-kataku nggak?"
"Iya denger baweeel!" Arash bangun dari duduknya lalu melepas sarungnya dan melipatnya dengan sembarang.
"Bandel!" gerutu Nadira lalu dia membereskannya sampai rapi.
*
*
Nadira kembali ke sekolah. Nadira berharap tak akan ada satupun orang yang curiga kalau saat ini dirinya sudah resmi diperistri oleh Arash. Kalau saja pihak sekolah tahu Nadira hamil dan telah menikah, bukan tidak mungkin kalau Nadira akan diberi peringatan bahkan drop out tanpa kompromi lagi.
"Hai, Nad? Apa kabar? Lama banget lho kamu absen sekolah!"
"Sakit apaan, Nad? Muka kamu masih keliatan pucet lho!"
Teman-teman kelas langsung menyapa dan menghampiri bangku Nadira. Nadira hanya menjawab pertanyaan itu alakadarnya saja.
"Semoga hari ini aku nggak mual, semoga hari ini aku nggak pusing!" harap Nadira di dalam hati. Jika itu terjadi, pasti itu akan mengundang kecurigaan teman-temannya.
*
*
Karena jam kuliahnya masih beberapa jam lagi, setelah mengantar Nadira ke sekolah Arash menepi ke markas the Thunder untuk membunuh waktu. Kebetulan Irfan dan Pradit sedang di sana.
"Anak-anak Moongray lagi sweeping, nyari oknum geng motor yang ngebacok salah satu anggotanya beberapa malam lalu! Kemaren ada anak Thunder yang terjaring dan dikeroyok sampe bonyok! Pokoknya kita semua harus waspada!" Irfan memberi informasi.
"Laah, cari dulu itu oknum dari kelompok mana! Sialan, moongray kayaknya sengaja nyari ribut!" gerutu Arash langsung nyahut.
"Mereka dibacking sama oknum aparat, Rash! Yang kena bacok itu anaknya perwira polisi, kalo urusannya udah bawa-bawa aparat, gue ngeri juga sih!" tambah Irfan.
"Taik banget moongray!" rutuk Pradit sambil asyik menyisil kuaci, salah satu cemilan favoritnya.
__ADS_1
"Jadi kita mesti gentar?" tanya Arash kesal.
"Ya waspada aja, Rash! Menurut gue buat sementara ini, sebelum oknum yang mereka cari benar-benar ketangkap, sebaiknya kita nggak pake atribut apa-apa dulu! Cari aman aja dulu lah," usul Irfan.
"Gua setuju sih! Kalo kita lagi jalan sendiri-sendiri terus kena sweeping, kita dihajar terus diseret ke kantor polisi, gak sanggup gue bayanginnya!"
"Cemen lu!" ejek Arash.
"Bayangin aja, gimana kalo misalnya lo boncengan sama Vin atau sama si Nad, terus lo dihajar sama mereka, gimana nasib boncengan lu, Rash? Kalo cuma dicolek colek doang sih its okay, nah kalo sampai dilecehkan atau bahkan dirave, lo sanggup liatnya?"
"Gue pecahin kepalanya kalo itu sampai terjadi!" tegas Arash. Dia tak akan membiarkan siapa pun menyentuh Nadira.
"Lo udah balikan lagi sama si Nad?" tanya Irfan. Tak ada satupun yang tahu kalau Arash memang sudah comeback dengan Nadira dalam ikatan pernikahan yang sah.
"Roman-romannya sih iya. Magnet bocil SMA emang sulit buat ditolak! Hahay!" goda Pradit.
"Banyak bacot lo, ayo cabut ke kampus!" ajak Arash pada Pradit.
"Gue nggak ikut kelas Pak Gayus deh, gue masuk kelas kedua aja entar," kata Pradit yang sudah berniat untuk bolos.
"Gue cabut ya!" Pamit Arash pada Irfan dan Pradit. Arash memberi tos pada satu persatu dari keduanya.
"Tiati di jalan, Bro!"
Arash beranjak dan akan pergi ke kampus. Dia sudah berjanji tak akan bolos hari ini.
"Dit, kok gue ngerasa belakangan ini si Arash jadi agak jinak ya? Udah lama dia nggak party party sama kita semua! Dia juga udah lama nggak turun buat balapan," curigai Irfan.
"Iya, belakangan dia sering pergi-pergi sama si Nadira. Kayaknya tuh bocah emang sukses bikin si Arash gamon."
"Terus, kalo si Arash balikan sama si Nad, gimana nasib si Vin?"
"Mana gue tempe? Mungkin si Nad cuma selingan aja selama si Vin di London! Beuuh, emang ya, kalo brandal populer mah bebas! Yang atu nggak ada, masih ada cadangan yang nggak kalah bohay!"
"Si Arash nggak doyan yang bohay-bohay! Dia sukanya yang manis-manis imut-imut kayak si Nad sama si Vin."
"Iya sih. Tapi si Nad tuh, walaupun mungil, tapi dia beneran ada isinya!"
"Lo jangan mikir aneh-aneh! Mau gue bilangin sama si Arash? Kalo dia tahu lo terus merhatiin si Nad, bisa habis lo digantung di pohon toge sama si Arash!"
"Jangan lah! Cuma merhatiin doang kan nggak sambil nyolek-nyolek."
Irfan hanya geleng-geleng kepala. Pradit memang seperti itu.
__ADS_1
Tapi yang pasti, Arash memang mulai sedikit lebih jinak. Dia sudah mengurangi kegiatannya dengan The Thunder. Dia lebih banyak menyerahkan waktunya untuk istri rahasianya.