Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Terbelenggu Dilema


__ADS_3

Vinara adalah teman kecil Arash. Saat ini dia sedang mengenyam pendidikan di luar negeri. Dia sangat cantik, memiliki postur tubuh sempurna seperti yang diidamkan para gadis, tinggi semampai dan ramping, kulit mulus dan wajah yang presisi.


Vinara menantikan Arash mengangkat telponnya, tapi tak jua diangkat. Dia terlihat kesal dan cemas.


"Kok nggak mau angkat sih, Rash?" gumamnya dan nyaris saja dia menyerah untuk menelpon Arash.


Sementara itu, Arash memang sedang memperbaiki hubungan dengan istri kecil rahasianya. Arash memilih untuk mengabaikan Vinara demi Nadira, hati Arash memang sedang condong pada Nadira saat ini sebab Nadira telah memberikan pengalaman kenikmatan pada Arash.


"Aku pulang, byee ...." Kali ini Nadira benar-benar pamit, dia melepaskan jemarinya dari genggaman Arash lalu melambaikan tangan menarik langkah menuju ke pintu.


"Besok ke sini lagi jangan lupa!" ingatkan Arash.


"Iya," jawab Nadira dan dia sudah meraih pintu, Nadira pergi tanpa drama apa pun lagi.


Tapi Nadira tak langsung pergi, dia menahan langkah di depan pintu, Nadira diam-diam memikirkan sosok Vinara yang kedapatan beberapa kali menelpon pada Arash.


"Siapa ya? Kok jadi penasaran banget, jangan-jangan itu pacarnya Kak Arash, atau mantan terindahnya atau ... Crushnya Kak Arash?" Nadira hanya menebak-nebak dan perasaannya kembali tak menentu.


Aaah, sudahlah! Nadira tak boleh membuang waktu. Dia lelah dan ingin segera pulang. Setidaknya, mulai hari ini dan kedepannya, Nadira sudah mendapat jaminan kalau Arash tak akan semena-mena lagi terhadapnya.


Nadira terus berjalan, dia sudah turun ke lantai bawah gedung dengan lift dan di depan gedung utama itu, Nadira malah bertemu dengan Kaizan yang baru saja keluar dari RS, Kaizan sedang bersama dengan keluarganya, mungkin Kaizan baru diperbolehkan pulang setelah hampir 1 minggu dirawat pasca kecelakaan itu.


"Kai?" Nadira mempercepat langkah sebelum Kaizan masuk ke dalam mobil ayahnya.


"Kai!" panggil Nadira dan Kai yang baru akan masuk ke dalam mobil menoleh. Kaizan cukup kaget melihat kemunculan Nadira dari dalam gedung Rumah Sakit.


"Nad?"


Nadira sudah sampai di dekat Kai, kebetulan ayah dan bundanya Kaizan masih di luar mobil dan ikut memperhatikan pada Nadira.


"Om ... Tante ...." Nadira memberi salam pada ayah bundanya Kaizan. Keduanya tersenyum melihat sosok Nadira.


"Ini siapa? Teman sekolahnya Kai ya?" tanya Dini, bundanya Kaizan dengan hangat.


"Iya, Bun. Ini yang namanya Nadira, orang yang suka ngilang tiba-tiba," sahut Kaizan agak kekik.


"Oh, ini toh yang namanya Nadira?"


"Kamu kemana aja, Nad? Telpon, chat, nggak ada satu pun yang kamu respon!" protes Kai. Dia pasti kesal karena Nadira semakin menjaga jarak dengannya.


"Maaf, Kai ...."

__ADS_1


"Terus kamu datang buat apa? Mau nengokin aku?"


Nadira diam tak menjawab. Tentu saja bukan itu jawabannya. Nadira datang untuk menengok Arash, bukan Kai.


"Kok malah diomelin sih, Kai? Katanya kangen, tapi malah diketusin kayak gitu," goda Dini pada putra kesayangannya. Nadira senang dengan sikap Dini, Nadira merasa kalau Kaizan memiliki bunda yang lembut dan hangat.


"Alhamdulillah kalo kamu udah pulih, sampai ketemu nanti di sekolah ya," ucap Nadira dan tak ingin berlama-lama di sana.


"Gitu aja?" tanya Kai masih sinis.


"Kai ...." tegur sang Bunda.


Kai mengabaikan Nadira lalu masuk ke dalam mobil karena masih kesal. Kai merasa dipermainkan oleh Nadira.


"Kami pulang ya, Nad. Kamu pulangnya naik apa? Mau sekalian ikut ke mobil kami? Biar kami antar kamu ke rumah kamu sekalian," tanya Dini.


"Nggak usah, Tante. Saya ke sini sama Kakak saya, dia nungguin di parkiran," tukas Nadira.


"Oh begitu? Ya udah, hati-hati di jalan ya."


"Iya, Tan. Terima kasih."


Huphhh, Nadira mengembuskan nafas dengan kasar. Sejak mengenal dan berurusan dengan Arash, Nadira mengalami banyak kendala sampai dia terpaksa harus mengabaikan Kaizan.


Setelah mobil keluarga Kaizan benar-benar pergi, Nadira juga melanjutkan langkah menuju ke parkiran untuk pulang.


*


*


Sepeninggal Nadira, Arash merasa bersalah pada Vinara.


'Sorry, Vin ...' ucapnya dalam hati sambil memandangi poto profil Vinara.


Kriiing, dan setelah jeda cukup lama, Vinara kembali menelpon membuat Arash tergugah dan akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Ihhh, Arash! Kenapa baru diangkat sih? Kamu bikin aku kesal! Nyebelin banget!" Vinara langsung mengomel.


"Sorry, Vin."


"Why? Ketiduran? Atau lagi di toilet?"

__ADS_1


"Ketiduran." Jawaban Arash penuh dusta.


Mungkin saja Arash tak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadi someone special-nya Vinara, tapi Arash juga sedang berusaha memulai hubungan yang baik dengan Nadira.


Bagaimana pun juga, Vinara adalah mimpi besar Arash, hanya saja, sejak ada Nadira, perhatian Arash agak teralihkan dari gadis 20 Tahunan itu.


"Tadinya aku mau pulang pas liburan, tapi begitu aku tahu kamu mengalami kecelakaan, aku akan pulang minggu ini, Rash! Semoga kamu segera sembuh biar bisa jemput aku di Airport ya," kabari Vinara.


Arash agak tersentak. What? Vinara akan pulang? Minggu ini?


"Halo? Rash? Duuh, kok diam aja? Jangan-jangan ketiduran lagi nih," tegur Vinara karena tak mendengar suara Arash untuk beberapa saat.


"Mmm, pulang minggu ini?"


"Iya. Aku ambil libur 1 minggu demi bisa pulang ke Jakarta. Aku tuh kangen banget kebut-kebutan sama kamu, kangen juga sama masakan mama kamu!"


Ini adalah kali pertama Arash tidak terlalu senang mendengar rencana kepulangan Vinara. Masalahnya sudah jelas, karena Arash baru saja menjadikan Nadira sebagai kekasih hati. Walaupun mudah saja bagi seorang Arash untuk memiliki segudang perempuan, tapi Nadira dan Vinara memiliki peran yang sama pentingnya di dalam hidup Arash pada periode ini.


"Rash?"


"Iya, Vin."


"Ada apa sih? Kok aku ngerasa kamu nggak antusias?"


"No, aku senang denger kamu akan pulang."


"Aku nggak merasakannya, aku nggak merasakan antusias kamu yang seperti biasanya ...." keluh Vinara.


"Maybe karena aku masih lemas ...." dalih Arash.


"Hm, baiklah, aku terima alasan itu. See you, cepat sembuh, kembali lah jadi Arash yang kuat dan dominan! Aku kangen sama kamu, Rash ...." ungkap Vinara.


Arash semakin dilema. Kenapa Vinara berubah menjadi perhatian dan terbuka seperti ini di saat Arash telah membuka pintu hati untuk yang lain. Padahal biasanya Vinara sangat cuek pada Arash.


"Hey Arash, kok diam terus sih? Kamu nggak balas kata-kata kangen aku?" desak Vinara.


"Ya, i miss you too."


"Oke. Sampai jumpa di Jakarta, bye!"


Vinara sudah pamit dan sudah menutup obrolan. Arash masih terbelenggu oleh dilema dan dia tak tahu bagaimana dia menghadapi 2 perempuan yang saat ini telah menguasai seisi hatinya.

__ADS_1


__ADS_2