Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Status Yang Jelas


__ADS_3

Arash menjadi dilema. Di dalam hidupnya, jarang sekali Arash merasakan dilema seperti sekarang ini.


Jujur saja, Arash menantikan interaksi dengan Vinara, tapi dia juga tak ingin melewatkan Nadira begitu saja.


"Kok gak diangkat?" tanya Nadira heran sebab Arash kelihatan sangat ragu untuk mengangkat panggilan dari Vinara itu.


Lama kelamaan, Nadira pun merasa curiga kalau sosok 'Vinara' adalah someone special bagi Arash. Ada setitik rasa kecewa muncul di hatinya. Di saat Nadira ingin menerima Arash, Nadira malah disuguhi dengan kemunculan nama Vinara.


"Ya udah, aku keluar dulu, silakan angkat telponnya," ucap Nadira lalu dia hendak pergi, tapi cepat-cepat Arash meraih tangan Nadira dengan tangan kirinya.


"Jangan kemana-mana!" ujar Arash benar-benar tak ingin Nadira pergi lagi.


"Aku takut ganggu."


"Ganggu gimana? Orang kamu tuh udah aku cari selama berhari-hari ini! Semua luka yang aku dapatkan ini juga gara-gara hilang fokus karena kebanyakan mikirin kamu!" akui Arash dengan nada agak kekik.


Pengakuan Arash perlahan menghapuskan rasa curiga dan rasa ragu di hati Nadira. Walaupun Arash pernah memaksa Nadira untuk melayani, tapi itu semua dilakukan atas kesadaran bersama sebab Nadira telah menyiapkan dirinya untuk menebus hutang kakaknya kala itu.


Hal yang cukup mengejutkan, Arash benar-benar mengabaikan panggilan telpon dari Vinara dan fokus pada Nadira. Arash menarik Nadira agar berdiri lebih dekat dengan dirinya.


"Suaminya lagi luka begini malah pergi-pergi, bukannya dijagain!" omel Arash dan kata-katanya menimbulkan getaran di hati Nadira. Mungkinkah perlahan Nadira mulai menerima hubungannya dengan Arash?


"Jadi ... Hubungan kita ini kayak gimana? Kak Arash masih nganggap aku sebagai tawanan? Kalo kayak gitu, aku nggak mau lagi, lagian kan ... Urusan hutang Kak Galang udah selesai di malam pertama kamu melakukannya," tuntut Nadira. Tanpa banyak basa-basi lagi Nadira langsung to the point ke topik utama pembicaraan.


"Kamu tuh baru datang! Baru datang udah ngobrolin yang berat-berat!"


"Aku butuh kepastian! Aku ini perempuan, perempuan yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang sama orang tuaku! Perlakukan aku dengan baik, kalau Kak Arash mau aku ... Jadikan aku pacar Kak Arash, perlakukan aku sebagai pacar, jangan sebagai tawanan!" Nadira makin berani mengungkapkan unek-unek di hatinya.


Arash takjub. Ternyata Nadira yang belakangan ini memang sudah banyak berubah. Lebih tegas dan lebih lugas. Arash diam, belum menjawab apa-apa.


"Aku akui, kak Arash ini tampan, gagah, menarik tapi cara Kak Arash memperlakukan aku membuat aku memandang Kak Arash sebagai seorang Devil! Seorang bajingan! Tapi sialnya, kak Arash adalah orang pertama yang merenggut kesucianku! Mungkin, kalo Kak Arash mau menjadikan aku sebagai pacar, aku bisa terima! Perminataanku tuh jelas, aku nggak mau jadi tawanan lagi!"


Arash malah tersenyum. Tapi senyumannya adalah senyuman yang simpul, bukan senyum miring atau senyum sinis atau senyum seringai yang biasa dia sunggingkan selama ini.


"Gemes banget yang protes pengen dijadiin pacar," goda Arash lalu mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Nadira seolah menegaskan kalau Arash tak ingin Nadira pergi.


"Aku serius! Kalo nggak mau juga nggak apa-apa! Tapi, lepasin aku, jangan tawan aku lagi, biarin aku bebas menjalani hidupku tanpa tekanan dari Kak Arash lagi!" tegas Nadira.

__ADS_1


"Kamu lupa? Kamu tuh udah dari sekedar pacar, kamu minta dihalalin, udah aku jabanin! Walaupun rahasia, tapi kita ini udah menikah, dodol! Kita udah terikat, di mata agama, hubungan kita ini sah!" sahut Arash.


"Iya, tapi sikap Kak Arash nggak mencerminkan sebagai suami yang baik!" protes Nadira.


"Ya udah iya, mulai sekarang aku nggak akan galak-galak lagi!"


Nadira menatap Arash dengan lekat, Nadira mencoba mendalami kesungguhan Arash lewat sorot matanya. Sayangnya, Nadira tak bisa membaca itu dengan jelas. Apa lagi ....


Kriiiing, Vinara kembali menelpon, menimbulkan lagi setitik keraguan di hati Nadira. Arash kebingungan lagi.


"Kenapa nggak diangkat aja sih?" tanya Nadira.


"Nanti aja," jawab Arash dan kembali mengabaikan Vinara.


"Siapa tahu penting ...."


"Penting, tapi lebih penting kamu!" goda Arash, Nadira mulai merasakan serangan baper secara bertubi-tubi karena hari ini Nadira menemukan sisi lain dari sang Arash.


"Hmm, ya udah, jadi ... Sekarang hubungan kita tuh apa? Biar jelas!"


Nadira pikir itu masuk akal. Lagi pula Nadira juga belum siap kalau stastusnya sebagai istri diketahui oleh pihak sekolah dan teman-teman di sekolah. Itu bisa jadi masalah besar, bisa-bisa Nadira drop out dari sekolah.


"Ngerti nggak, krucil?" tanya Arash sambil mencubit hidung Nadira.


"Tapi janji jangan kasar-kasar lagi," pinta Nadira.


"Iya, asal kamunya jangan nakal, jangan bikin aku kesal!"


"Ya udah ...."


"Senyum dulu dong, jangan manyun terus!"


Nadira terpaksa menyunggingkan senyum. Senyumannya memang tidak lepas, tapi Nadira cukup lega karena dirinya sudah mendapat kepastian dari Arash. Setidaknya, Nadira memiliki jaminan kalau dirinya akan sedikit lebih dihargai oleh Arash mulai hari ini.


Arash juga merasakan bahagia yang sama. Hatinya berbunga walau ia tak mau mengakui hal itu. Senyuman Nadira adalah booster terbaik yang membuat semua luka tiba-tiba terasa semakin reda sakitnya.


"Aku pulang dulu ya, badanku pegal-pegal, badanku juga bau matahari. Besok, sepulang sekolah aku akan ke sini lagi," pamit Nadira.

__ADS_1


"Lho ... Kok pulang?" protes Arash tak rela Nadira pergi secepat itu.


"Aku cape, badanku pegal-pegal, pengen istirahat dulu."


"Ya udah, rebahan di sofa tunggu aja, jangan pergi dulu, baru juga ketemu!"


"Please ... Aku juga mau mandi, banyak tugas sekolah yang harus dikejar. Yaaah, aku pulang dulu ...."


Arash sudah janji tak akan terlalu dominan pada Nadira. Walau tak rela, Arash harus membiarkan istrinya pergi.


"Tapi besok sepulang sekolah, ke sini lagi ya ..." pinta Arash.


"Oke. Oh iya, by the way, kak Arash sendirian aja? Nggak ada yang jagain?"


"Barusan mama di sini, dia mau pulang dulu. Anak-anak Thunder janji mau pada ke sini, tapi beberapa masih kuliah."


"Oh gitu ya? Terus, kalo misalnya besok aku ketemu sama Mamanya Kak Arash gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana, sekalian kenalan biar calon mantu sama calon mertua saling kenal!" goda Arash lagi. Nadira makin salah tingkah karena baper.


"Ya udah aku pulang ya ...." pamit Nadira sekali lagi.


"Pulangnya naik apa? Ojol?"


"Ditungguin sama Kak Galang kok."


"Oh, kiss dulu sebelum pergi!" pinta Arash.


"Iih, Kak Arash ...."


"Just one kiss!" Arash menarik pinggang Nadira agar lebih dekat kepadanya.


Kalau hanya kiss, Nadira pun tak keberatan. Secara norma agama, di antara Arash dan Nadira memang tak ada batasan apa pun lagi.


Arash memagut bibir Nadira dan melancarkan sebuah french kiss yang lembut hingga hati mereka mulai bertaut satu sama lain. Nadira hanya berharap, kalau ini akan jadi awal yang baik untuk dirinya.


Kriiing! Dan untuk yang kesekian kalinya, Vinara kembali menghubungi sehingga membuat Nadira melepaskan ciuman itu ....

__ADS_1


__ADS_2