
Nadira diam saja. Walaupun Arka adalah lelaki yang menarik, tapi Nadira tak lantas baper dengan kata-kata Arka.
"Halo? Kok senyap, bahkan kita belum tahu nama satu sama lain 'kan?" kata Arka.
"Urusan kita sebatas urusan mobil kemarin, Kak. Kalau mau cepat selesai, kakak tinggal bilang aja berapa uang yang harus aku bayar," kata Nadira.
Jawaban Nadira membuat Arka kecewa, ternyata Nadira memang tak mudah untuk dimodusi.
'Mahal banget nih cewek! Tapi bikin gue makin penasaran,' batin Arka.
"Kak?" sapa Nadira karena Arka diam untuk waktu yang cukup lama.
"Urusan mobil, saya anggap selesai, kamu nggak usah ganti rugi apa pun," kata Arka, hal itu membuat Nadira heran sekaligus kaget.
"Lho?"
"Saya udah memaafkan perkara mobil saya yang baret," kata Arka lagi menegaskan.
"Aku mau tanggung jawab kok, Kak. Aku akan menebus kesalahanku kemarin."
"Tapi, Kak ...."
"Udah ya. Urusan kita selesai sesuai keinginan kamu."
Arka menutup obrolan dan hal itu menyisakan rasa bersalah di hati Nadira.
"Iih, kok gini? Apa dia marah? Atau aku yang terlalu judes? Perasaan biasa aja deh, aku kan cuma nggak mau ketemu, aaah ... Kok aku jadi nggak enak gini ya?"
Karena terdorong rasa bersalah itu, Nadira berinisiatif untuk menelpon balik pada Arka. Nadira ingin meminta maaf, agar urusan mobil kemarin tidak menjadi hutang.
Arka yang saat itu sedang menyetir menuju ke rumah kosnya, mulai tersenyum puas saat nomor Nadira menelpon balik padanya.
Pada akhirnya ....
Nadira memberikan alamat rumah dan 15 menit kemudian Arka sudah sampai di depan gerbang. Seorang gadis manis menunggu dan menyambut.
Ya! Pada akhirnya Nadira mempersilakan Arka untuk bertemu dan datang ke rumah tantenya.
"Silakan masuk," persilakan Nadira saat Arka turun dari mobilnya.
"Arka," ucap Arka malah memperkenalkan diri terlebih dahulu sembari menyodorkan tangan.
"Nadira," balas Nadira dan membalas uluran tangan Arka.
Arka merasakan sengatan itu. Wajah cantik nan jelita itu telah mengalihkan dunianya.
"Oh, Nadira ya?"
"Ya, silakan, tapi kita duduknya di teras aja ya, soalnya lagi nggak ada siapa-siapa di rumah," kata Nadira.
"Oke."
Nadira mengajak Arka untuk masuk tapi hanya duduk di kursi di teras rumah. Sudah ada segelas minuman dan beberapa toples cemilan yang tersaji yang sudah Nadira siapkan sejak tadi.
"Aku masih merasa berhutang sama kamu, Kak. Kalo kakak tetap mau nuntut aku buat bayar ganti rugi, nggak apa-apa kok, aku akan tetap bayar." Nadira memulai obrolan.
"Nggak usah. Santai aja."
"Tapi kakak ridho kan?"
__ADS_1
"Iya, saya ikhlas kok."
"Ya udah kalo begitu. Kalo udah clear kayak gini kan, aku jadi nggak perlu cemas lagi, aku bisa pulang ke Jakarta dengan tenang."
Arka terkejut. Kok pulang ke Jakarta?
"Pulang ke Jakarta? Lho, kamu bukan orang sini asli?"
"Rumahku dan sekolahku emang di Jakarta."
"Oh, kebetulan saya juga aslinya dari Jakarta, cuma lagi kuliah di sini," kata Arka merasa semakin nyambung ngobrol dengan Nadira.
"Oh ...." Tapi Nadira menanggapinya biasa saja.
"Kebetulan banget ya."
"Begitu lah ...."
Dan obrolan mereka tak jauh dari basa-basi dan sesi perkenalan saja. Sampai waktu kunjung Arka selesai pun, mereka hanya berbasa-basi seperti itu.
*
*
Arash sudah sadar, tapi tubuhnya tak bisa bergerak bebas karena mengalami luka di sana sini. Lengan kanannya terluka parah karena bergesekan dengan aspal dan terseret sampai puluhan meter jauhnya. Kaki kanannya juga, hanya saja tak ada patah tulang dan luka dalam lainnya.
Bagian kepala juga tak mengalami luka parah sebab masih terlindungi helm mahalnya. Tapi walaupun begitu, pergerakan Arash masih sangat terbatas.
"Rash, ini handphone lo, tadi gue intip, dari beberapa pesan yang masuk ada pesan nyempil dari si Nadira," kata Irfan lalu menyerahkan handphone milik Arash.
Arash yang terkulai lemah langsung tertohok dan serasa mendapat power dadakan.
"Serius? Jangan nyeneng-nyenengin gue lu!"
Ckckck, anggota Thunder yang sedang berjaga di ruangan itu hanya cekikikan menyaksikan betapa Arash sudah semakin terkena gejala bucin pada gadis penebus hutang itu.
Arash merebut handphone itu dengan tangan kirinya, dia langsung memeriksa pesan dari Nadira.
[Maafkan aku, Kak. Tolong jangan meninggal dulu, kita belum saling maaf-maafan]
Arash tersenyum. Senyumannya seolah berkata 'Finally i found you, my krucil.'
"Eaaaaak, mesam mesem dia!"
"Suiit suiit, bisa ngecharge lagi nih kayaknya!"
"Asoy geboyy!"
Semua anggota Thunder menggoda ketua mereka. Wajah Arash berubah murka lagi. Dia benci kalau momen salah tingkahnya diketahui oleh teman-temannya.
"Keluar lo pada!" perintah Arash dan bersiap untuk melakukan video call dengan Nadira.
"Waah, kayaknya mau vcs nih," goda Pradit lagi.
"Keluaar!" seru Arash lebih tegas lagi.
"Iya iya, kita keluar nih!"
Tak ingin Arash semakin naik pitam, akhirnya Jimmy, Pradit dan Irfan mengalah untuk pergi dari ruangan itu untuk meninggalkan Arash.
__ADS_1
Saat semua orang pergi, baru lah Arash memencet tombol ikon video call pada nomor Nadira.
Nadira yang sedang mengemasi barang-barangnya sampai kaget saat nomor Arash menelpon.
"Duuh, ini nomor Kak Arash ... Ini beneran Kak Arash? Atau ... Jangan-jangan ada kabar buruk tentang Kak Arash?" Perasaan Nadira jadi tak menentu. Berbagai spekulasi berkecamuk di dalam benaknya.
Video call pertama terlewat, Arash tak patah arang, dia melakukannya sekali lagi.
"Angkat jangan ya ...." Nadira masih meragu sampai panggilan kedua juga lewat.
Beberapa detik kemudian voice note masuk
[Hey, angkat!]
Suara Arash tiba-tiba menggetarkan hati Nadira. Ternyata itu memang Arash, Nadira bersyukur karena ternyata suaminya baik-baik saja.
[Hey! Jangan bikin aku makin murka, cepetan angkat!] lanjut Arash. Suaranya yang dalam dan rendah agak mengeram, membuat Nadira gemetar lagi. Tapi Nadira memberanikan diri untuk membalas dengan voice note.
[Nggak mau! Kalo mau marah-marah, kalo mau galak-galak, mending aku ngumpet aja selamanya dari kamu!]
Arash begitu kegirangan saat Nadira membalas. Dan begitu ia mendengar pesan suara itu, Arash kembali senyum-senyum sendiri. Akhirnya, setelah berhari-hari, Arash kembali merasakan kehadiran istri rahasianya lagi. Bahkan Arash memutar pesan suara itu sampai 3 kali.
[Tapi aku bersyukur Kak Arash baik-baik saja] Nadira melanjutkan, hati Arash semakin berbunga-bunga.
Tak tahan ingin segera bertatap muka, Arash kembali melakukan video call berharap kali ini Nadira mau mengangkatnya.
Tanpa disangka, Nadira mengangkat panggilan Video itu tapi yang tampak di layar handphone Arash hanya sebuah bantal kosong, bukan wajah Nadira.
"Hey!" Arash dongkol lagi.
"Nah kaan, masih galak! Nggak mau lah, biar aku blokir lagi nomor Kak Arash!" peringatkan Nadira masih bersembunyi dari balik kamera handphonenya.
"Ya udah iya, sini mana muka kamu!" pinta Arash agak melunak.
"Nggak mau, janji dulu nggak akan marah-marah!" Nadira memberi syarat.
Arash membuang nafas kasar. Masa harus kalah dengan perintah anak SMA? Tapi kerinduan makin menggebu di dalam dada.
"Kok berani ngatur-ngatur gitu sih? Ya terserah aku aja, marah-marah kek! Mau ngatain kasar kek!"
"Ya udah, bye!"
"Eh eh, jangan!"
"Kak Arash pikir, Kak Arash bisa menindas aku terus menerus?! No Way! Nggak akan lagi! Kalo Kak Arash masih mau bersikap semena-mena sama aku, ya udah, biar aku bongkar aja rahasia kamu sama semua orang!" ancam Nadira. Menepi selama beberapa hari membuatnya merasa sedikit lebih berani menghadapi Arash.
"Ya udah iyaa." Tapi akhirnya Arash mengalah.
"Ya udah iya, apa?"
"Nggak akan marah-marah lagi."
"Janji?"
"Hmm."
"Janji?"
"Iya janji, ya udah mana muka kamu!"
__ADS_1
Nadira mencoba percaya pada Arash. Akhirnya Nadira pun mengalah dan setor muka pada suami rahasianya.
Dan saat wajah Nadira muncul di layar handphone, seketika semua luka di tubuh Arash serasa tidak sakit sama sekali.