Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Give Me A Chance


__ADS_3

Pertanyaan Arash membuat Nadira terbungkam. Begitu juga dengan Galang. Kakak beradik itu kaget kenapa Arash bisa menduga kalau Nadira hamil padahal Nadira baru tahu kehamilannya sejak beberapa hari lalu, dan juga mereka menyimpan rahasia itu rapat-rapat.


"Kok diem? Kok nggak jawab?" tekan Arash semakin dalam menatap Nadira.


Nadira dan Galang masih diam.


"Kalo diam aja, berarti iya, nggak perlu dijawab lagi," kata Arash langsung menyimpulkan. Arash malah semakin terlihat sinis dan mengusik ketenangan Nadira lagi.


"Rash, please ... Jangan sebarin aib ini, please ... Gue sama adek gue masih merahasiakan ini," pinta Galang dengan suara yang pelan.


"Nah kaan? Ternyata emang nggak salah lagi."


"Kak, pesenin dulu nasgornya, biar aku yang ngadepin orang ini!" kata Nadira lalu menatap benci pada Arash.


"Tapi, Nad ...."


"Pesenin! Sesuai pesananku tadi!" tegas Nadira.


"Ya udah."


Galang mengalah lalu masuk ke warung tenda nasi goreng seafood itu. Galang memang masuk ke dalam tapi matanya tetap mengawasi khawatir Arash akan melakukan hal-hal kasar pada adiknya.


"Kenapa sih masih aja ngerecokin hidup orang? Jangan-jangan kamu ini masih belum move on yaa dari aku?" tanya Nadira menyindir Arash.


"Heh, pede banget!" cibir Arash.


"Ya terus kenapa? Urusan kita udah selesai! Se-le-sai! Jelas?! Apa lagi?" Nadira pantang terlihat lemah, masih dengan sikap yang judes dan ketus, Nadira bicara pada Arash.


Mungkin itu juga salah satu yang membuat Arash selalu penasaran dan gagal move on dari sosok Nadira. Selama ini Arash selalu dikejar-kejar, tapi saat ini hatinya lah yang meronta ingin mengejar menaklukan hati Nadira, hanya saja Arash gengsi tak mau mengakui, dan inginnya Arash, Nadira lah yang mengemis untuk balikan dengannya.


"Udah ya! Jangan ngikutin lagi! Jangan ganggu aku lagi!" tegas Nadira lalu setelah puas, Nadira hendak pergi masuk menyusul Galang ke dalam warung tenda itu.


"Kamu nggak jawab pertanyaannya! Kamu nggak jawab 'enggak' atau 'iya', kenapa?" Tapi Arash belum selesai.


"Nggak wajib aku jawab kan? Kan kita nggak ada urusan lagi ...."


"Heh, bisa gak sopan dikit kalo bicara sama aku?" protes Arash lalu mencengkram lengan Nadira kuat-kuat, tindakannya itu sangat mengintimidasi.


"Sorry ya, aku akan sopan pada siapa pun yang mau menghargai aku! Dan dari pertama kita kenal, kamu nggak pernah menghargai aku!"


"Emangnya kamu siapa minta aku buat menghargai kamu?" Arash tambah kesal dan mengencangkan cengkraman tangannya.


"Terus kamu siapa sampai-sampai aku harus sopan dan tunduk sama kamu?"


Galang sangat cemas, Galang tetap mengawasi walau tak berani mengganggu karena lebih takut kalau Arash akan berbuat onar di sana. Galang percaya kalau Nadira bisa menghadapi Arash sendirian.


'Duuh, Nad ... Bilang aja kenapa sih? Ngalah aja gitu kan biar urusan kita kelar, susah banget sih dibilangin! Kayaknya kamu emang nggak tahu siapa si Arash! Nggak tahu gimana kalo dia udah ngamuk dan murka!' Galang harap-harap cemas.


"Kalo bukan cewek, udah aku bikin kamu babak belur!" ancam Arash.


"Silakan! Silakan lakukan saja, Pecundang!"


"Nad Nad ...." Merasa situasi sudah benar-benar tak kondusif, Galang segera menghampiri kembali lalu mengamankan adiknya dari Arash yang segera lepas kendali.


"Lo akan membayar sikap pongah adek lo ini, ****!" ancam Arash pada Galang saat ini.


"Sorry, Rash, Sorry! Tolong ngerti, adek gue lagi nggak stabil! Dia lagi ngalamin emosi yang naik turun," bela Galang, jujur saja, daripada Nadira, Galang malah lebih takut dan lebih segan pada Arash.


"Apa peduli gue! Lo akan membayarnya, A*ji*g!"


"Sebenarnya lo harus peduli sebab adek gue lagi ngandung anak lo!"


Nadira panik dan seketika marah pada Galang karena menganggap Galang ceroboh. Arash kaget, walau Arash sudah pernah menduganya. Ternyata memang benar dugaannya, benar juga sangkaan Jimmy kalau Nadira memang sudah hamil saat ini.


"Kak! Apa-apaan sih?! Punya mulut kok nggak bisa dijaga ya!" protes Nadira dan sungguh Nadira marah sekali pada Kakaknya saat ini.


"Sorry, Nad! Tapi dia emang perlu tahu! Ini bukan masalah kecil, ini bukan masalah yang bisa kamu hadapi sendiri!" Galang menghadap pada Nadira.


"Terus kalo dia tahu? Ada solusinya? Dia mau tanggung jawab? Nggak kan? Yang ada dia bakalan bikin semuanya makin kacau! Yang ada dia bakalan mempermalukan aku! Dia bakalan sebarin ini dan bikin aku drop out dari sekolah! Kenapa Kak Galang nggak mikir sampe sana? Kenapa?" Nadira sangat emosi lalu menyalahkan Galang Habis-habisan.


Jadilah beberapa orang melihat kejadian itu, tapi sebelum ada yang merekam, Galang segera memeluk Nadira agar Nadira diam dan tak bicara apa-apa lagi.


"Udah udah, maafin Kakak Nad, maafin Kakak! Jangan bicara lagi!" ucap Galang penuh sesal.


Galang melakukan itu di hadapan Arash yang akhirnya tahu dan melihat sendiri betapa Nadira begitu emosional.


Arash melihat Nadira menangis kesal sekaligus ketakutan di pelukan Galang dan entah kenapa, ada titik di dalam hatinya yang tiba-tiba tersentuh.

__ADS_1


"Nggak akan dimaafkan! Nggak akan! Udah jelas kalo ini berawal dari kecerobohanmu, Kak! Kakak emang sama keparatnya sama dia!" Nadira menangis histeris lagi.


"Kita pulang ya, kita makan di rumah aja, Kakak anterin kamu pulang dulu, baru nanti Kakak balik lagi ke sini," ajak Galang agar Nadira tak mengamuk di sana.


Galang mengendorkan pelukannya lalu menyeka air mata adiknya. Melihat itu, Arash semakin merasa tersentil, selama ini Arash juga sering menyakiti Nadira. Ternyata, walaupun Galang adalah seorang keparat, kini Galang sudah sadar dan terlihat begitu protectif pada adiknya.


Galang menoleh pada Arash yang diam seribu bahasa setelah mengetahui fakta kehamilan Nadira.


"Rash, gue mohon, lepaskan kami malam ini, adek gue lagi nggak baik-baik aja, gue mohon, mengerti lah ...." Galang memohon.


Arash diam saja. Satu, Dua, Tiga detik Arash diam dan masih menatap fokus pada Nadira. Melihat Nadira menangis seperti itu, Arash pun tak melanjutkan intimidasinya.


"Rash ...."


Arash tak bicara apa-apa, Arash kembali berjalan ke arah motorsport-nya lalu memakai kembali helm-nya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata apa pun.


Nadira semakin merasa kalau Arash memang brengsek dan jelas kalau Arash tak peduli dengan kehamilannya. Tapi setidaknya Nadira lega karena Arash sudah pergi.


'Dasar brengsek! Brengsek!' rutuk Nadira dalam hati, dan untuk kesekian kalinya Nadira membenci Arash.


"Nasi gorengnya dibungkus aja ya," kata Galang penuh rasa bersalah.


"Udah nggak nafsu!" tegas Nadira sebal.


"Jangan dong! Tetep harus makan, nasgornya lagi dibikinin kok, bentar Kakak bayar dulu."


Nadira sudah tak peduli lagi, sekarang dia hanya berharap kalau Arash akan berbelas kasih agar tak sampai menyebarkan kehamilan Nadira pada siapa pun terutama ke lingkungan sekolah Nadira. Itu lah yang sedang Nadira harapkan saat ini.


*


*


Nadira pikir Arash tak peduli?


Nyatanya itu salah. Sepanjang malam sampai di penghujungnya Arash tak bisa tidur dan memikirkan apa yang telah terjadi tadi.


Sebenarnya lo harus peduli sebab adek gue lagi ngandung anak lo!


Pernyataan Galang terus berputar di kepala Arash dan mungkin dia salah sudah menuduh Nadira pernah tidur dengan Arka. Sudah jelas kalau yang mengalami couvade syndrome-nya adalah Arash sendiri, sudah barang pasti kalau anak yang dikandung oleh Nadira adalah anaknya.


Selain itu, Arash juga terus mengingat bagaimana tadi Nadira dan Galang berdebat. Sementara Arash tahu sekali kalau Nadira adalah seorang yatim piatu yang diperdaya oleh Kakaknya, terutama oleh dirinya.


Di dalam temaram, di dalam dinginnya malam, Arash merenungkan perbuatannya. Dan apa yang akan mungkin Arash lakukan setelah ini?


*


*


Galang pergi kuliah. Dan hari ini Nadira masih belum bisa ke sekolah.


Hari-harinya dihiasi dengan rasa sakit, getir dan gelisah. Nadira hanya guling kanan, guling kiri, bolak balik ke kamar mandi untuk muntah dan itu terus terjadi sepanjang hari sepanjang minggu ini.


Gruuuung! Nadira mendengar suara mesin motor agak bising seperti baru saja berhenti di depan rumah. Nadira hanya menebak-nebak, mungkin itu Galang yang tak jadi pergi kuliah. Tak mungkin Kaizar, sebab Kaizar dan Ami sudah berencana akan datang menjenguk nanti siang sepulang sekolah.


Nadira mengabaikannya sampai dia mendengar suara bel rumah.


Lho? Siapa? Kalau Galang kan tak mungkin memencet bel?


Tak sempat melihat dari jendela kamar, Nadira malah langsung saja pergi beranjak dengan langkah yang sempoyongan menuju ke pintu depan. Saat berjalan di tangga, Nadira berjalan dengan hati-hati.


Ting tong! Bel berbunyi lagi.


"Siapa ya?" pikir Nadira dan hanya bertanya-tanya. Dan setelah sampai di dekat pintu, Nadira langsung membukakan pintu itu tanpa melihat dulu siapa yang datang lewat jendela rumah. Padahal jelas terlihat kalau sebuah motorsport milik Arash terparkir di depan rumah.


Saat pintu terbuka, baru lah Nadira menyesal telah membukakannya.


Arash! Ya, Arash lah yang datang.


"Nad ...." Tapi herannya, Arash tidak datang dengan wajah mengancam. Tapi tetap saja, Nadira menyesal setelah membukakan pintu untuk Arash.


"Please ... Please, Kak. Please jangan ganggu aku lagi ...." Nadira memohon dan malah menangis begitu saja. Komplikasi rasa benci, kesal, takut, resah dan gelisah langsung melemahkannya detik itu juga.


Tentu lah Arash semakin merasa bersalah, melihat tubuh Nadira yang ringkih, wajah yang pucat dan kecemasan yang terpampamg nyata di depan mata, Arash juga menekan ego dan keangkuhannya.


"Aku datang baik-baik, Please juga, kasih waktu aku buat bicara," kata Arash.


"Bicara apa lagi? Cuma mau ngasih tahu kalau kamu akan mempermalukan aku di hadapan orang-orang?" tuduh Nadira.

__ADS_1


"No! Bukan itu."


"Terus?"


"Biarkan aku masuk, sumpah! Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu! Sumpah!" Bahkan Arash bersumpah.


Nadira memindai kesungguhan pada gestur Arash saat ini. Nadira akui kalau Arash membawa vibe yang berbeda. Sejak pintu dibukakan, Arash memang terlihat lebih tenang, tidak seperti biasanya.


"Aku boleh masuk, kan? Kita harus bicara banyak soal kehamilan kamu itu!" kata Arash lagi.


Soal kehamilan? Mau apa? Paling-paling Arash akan meminta Nadira untuk menggugurkannya! Pikir Nadira lagi, pikiran Nadira sangat negative terhadap Arash.


Tapi, karena Arash sudah terlanjur tahu, Nadira pun akhirnya mempersilakan Arash untuk masuk dan Nadira tetap membiarkan pintu rumah terbuka, Arash pun tak protes dan tak keberatan.


Nadira duduk di sofa single sementara Arash di sofa memanjang dan Arash duduk merapat ke dekat Nadira.


"Aku tuh cape urusan sama kamu! Oke, aku akui kamu itu dominan! Kamu sangat disegani orang-orang! Maaf kalau sikapku selama ini sangat buruk, hubungan dan perkenalan di antara kita sangat tidak sehat! Disadari atau nggak, hubungan yang pernah terjalin di antara kita adalah sebuah toxic relationship! Sangat toxic! Setiap saat kamu marah, setiap saat aku ketakutan! So, just let it go!"


Arash mempersilakan Nadira untuk mulai bicara. Mungkin baru kali ini Arash melihat Nadira mengungkapkan unek-uneknya.


"Kamu benci sama aku?" tanya Arash dengan sorot mata yang menatap lurus tepat pada mata Nadira.


"Jujur aja, iya!" akui Nadira.


"Itu sama artinya dengan kamu nggak akan pernah ngasih kesempatan lagi buat bajingan ini?"


Nadira tak mengerti apa maksud Arash. Kesempatan? Kesempatan apa yang Arash maksud.


"Kamu hamil anakku, iya begitu kan?" tanya Arash masih terfokus pada Nadira, lalu sesekali matanya turun ke arah perut Nadira.


"To the point aja! Aku udah bilang apa yang aku mau, kamu udah dengar barusan kan? Terus apa yang kamu mau? Kamu mau apa lagi sekarang?" tuntut Nadira.


"Ya udah jawab dulu, jadi bener kamu hamil anakku?"


"Iya! Emangnya anak siapa lagi? Seumur hidup, cuma kamu yang menyentuh setiap inci yang ada pada tubuhku!" tegas Nadira dengan sebuah penekanan.


"Bagus lah!"


"Bagus apanya? Terus sekarang apa? Kamu mau nyuruh aku buat gugurin?" tuduh Nadira lagi.


"Kamu ada niat buat gugurin?"


"Sempat, tapi aku nggak mau! Aku takut," akui Nadira lalu menunduk, kedua tangannya menangkup menutupi perutnya yang rata, walau rata, di dalamnya telah tumbuh bakal janin yang kelak akan lahir dan memanggilnya mama di masa depan.


"Ya udah, ngapain digugurin, anak itu nggak berdosa! Lagian itu bukan anak di luar nikah, kan?"


Nadira mengangkat wajahnya lagi lalu balik menatap Arash. Nadira masih belum bisa menebak apa maksud kedatangan Arash.


"Jadi tujuan kamu datang tuh buat apa sih?"


"Aku datang buat bertanggung jawab!"


Nadira agak terhenyak dan rasa tak percaya dengan jawaban Arash barusan.


'Nggak, Nad! Tahan dulu, jangan-jangan itu cuma jebakan!' bisik salah satu sisi hati Nadira. Nadira tak ingin percaya begitu saja.


"Nad ...." Arash meraih tangan Nadira lalu menautkan jari-jarinya ke jari-jari Nadira, Nadira malah tambah terlonjak kaget. Arash bersikap tenang tak seperti biasanya.


"Beri aku kesempatan sekali lagi!" ucap Arash kemudian.


"Apa ini upaya buat balas dendam lagi? Kamu nyoba buat ngebujuk aja kemudian nanti kamu akan menyiksa batinku lagi?" ragukan Nadira.


"Huh, susah sih kalo pikirannya negatif terus!" Arash mendengus kesal.


"Jujur aja, sulit buat berpikir positif tentang kamu!" akui Nadira. Arash hanya tersenyum miring.


"Jujur banget!" cibir Arash ketus.


"Aku tuh nggak tahu, kesempatan yang kamu maksud itu apa? Kesempatan kayak gimana aku nggak ngerti ...." Nadira perlahan melepaskan tautan tangannya dari tangan Arash, tapi Arash mengeratkannya lagi.


"Aku akan tanggung jawab dan bawa kamu ke hadapan orang tuaku!"


"Terus?"


"Kita jujur soal pernikahan rahasia yang pernah kita lakukan waktu itu!"


"What?" Nadira lagi-lagi terkejut dengan rencana-rencana Arash.

__ADS_1


"Dan aku akan bilang kalau saat ini kamu sedang mengandung anakku!"


"WHAT?"


__ADS_2