Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Gadis Yang Paling Dihormati


__ADS_3

"Aku talak kamu, selesai!"


Kalimat itu berputar terngiang-ngiang di kepala Nadira. Di dalam angkot dia tak bisa berhenti menangis sehingga beberapa penumpang lain memperhatikan dan berbisik-bisik tapi Nadira sungguh tak peduli soal itu.


Nadira sakit hati! Hatinya terasa tercabik. Bukan karena dia mencintai Arash, bukan! Tapi, dia sakit hati dengan kata-kata Arash yang mengarah seolah Nadira sudah tak berharga lagi.


'Baru saja aku mau menerima kamu, tapi sayangnya kamu nggak mampu menjawab keraguanku, kamu nggak mampu meyakinkan aku! Oke, Fix! Kamu memang bajingan, Kak!' batin Nadira sambil sesenggukan di dalam angkot.


Bagaimana dengan Arash?


Nyatanya Arash juga sedang mengalami pergulatan batin yang hebat. Arash tak tahu, perasaan terdalamnya akan ia berikan untuk siapa? Untuk Vinara atau untuk Nadira?


Vinara adalah perempuan yang sangat Arash hormati, sementara Nadira sejak awal sudah ia jadikan pelampiasan belaka.


'Sialan! Kenapa gue harus galau karena anak SMA?! Cewek modelan dia kan berserakan, ngapain gue buang-buang waktu ngejar-ngejar dia terus?! Nggak guna! Itu sama aja menjatuhkan harga diri gue sendiri!' pikir Arash. Egonya memang masih lebih tinggi dari pada nuraninya.


Begitu lah, sejak hari itu, Arash dan Nadira sepakat untuk memutuskan hubungan juga memutuskan semua akses komunikasi.


*


*


Arka kebingungan. Arka sudah tak bisa menghubungi Nadira lagi dan Arka tak bisa mengetahui keberadaan Nadira.


Arka baru saja keluar dari gerbang tol dan mulai bingung tak memiliki tujuan.


Siapa orang yang menjawab telponnya tadi? Kenapa suara lelaki dan berkata kasar? Arka benar-benar tak mengerti. Jangan-jangan pacarnya, Nad? Pikir Arka. Tapi sungguh, Arka pun jadi tak tenang.


*


*


Hari-hari sudah berlalu. Sudah sekitar 5 Hari sejak terakhir Nadira ditalak oleh Arash. Selama 5 hari itu tak ada tanda-tanda Arash akan mengusik kehidupan Nadira lagi. Tak ada chat teror, bahkan batang hidung Arash pun sudah tak pernah terlihat lagi oleh mata Nadira.


Setiap kali Nadira melewati gerbang sekolah, beberapa saat dia menyapu pandangannya ke sekitar mencari keberadaan Arash yang biasanya stand by dan mengawasi bagai CCTV, tapi momen seperti itu sudah tidak ada lagi sekarang.


Ada rasa syukur di hati Nadira, tapi entah kenapa, ada rasa hampa juga yang tiba-tiba menelusup liar di dalam hati Nadira.


'Kenapa? Harusnya kan aku senang, sekarang aku sudah bukan tawanan lagi ....' batin Nadira dan malah bengong melamun di dekat gerbang di antara lalu lalang siswa lain.

__ADS_1


"Nad!" Kaizan muncul mengerem tepat di hadapan Nadira. Nadira hanya menoleh dengan tatapan mata yang hampa.


"Ayo naik!" ajak Kai mengisyaratkan Nadira untuk naik ke tunggangannya.


"Aku lagi nungguin Ami, tadi dia ketinggalan sesuatu di loker, kita mau nge-Mall dulu," jawab Nadira menolak. Kai terlihat kecewa.


"Sampai kapan kamu mau kayak gini, Nad?"


"Kita cukup berteman aja, Kai. Itu jawaban yang udah aku sampaikan ke kamu berulang kali, tolong juga hargai pertemananku sama Ami. Kalo aku pulang sama kamu, apa pantas aku ninggalin Ami pulang naik angkot sendiri?" tegas Nadira.


"Setelah kenal ketua The Thunder, sudah terlalu banyak yang berubah dari kamu, Nad! Sekarang standar kamu naik? Mau yang berandal-berandal kayak dia?" Nada bicara Kai begitu sinis.


"Itu nggak ada hubungannya, nggak usah nyinggung-nyinggung lagi soal itu!" tegas Nadira kesal.


"Hai," sapa Jenny yang tiba-tiba muncul di antara perdebatan kecil Nadira dan Kaizan.


"Ya udah, kalo si Nad nggak mau, kamu anterin aku aja ya, Kai ...." Tanpa tahu malu, Jenny naik begitu saja ke jok belakang motor Kaizan. Jenny memanfaatkan hubungan yang sedang renggang di antara Nadira dan Kai.


Kaizan yang terlanjur dongkol pun tak menolak dan menarik handle gasnya tak peduli walau Jenny sudah lancang mengambil tempat yang inginnya ditempati oleh Nadira.


"Byeee, barang bekas pake ketua geng motor ...." pamit Jenny mengesalkan sambil melambaikan tangan pada Nadira. Kalimat yang ia ucapkan membuat siapa pun yang mendengar langsung menoleh pada Nadira.


"Kabarnya begitu. Ngeri yaa, mentang-mentang udah nggak punya ortu, berasa hidupnya jadi bebas banget!"


"Udah pada tahu kok kalo si Nad itu mainannya Arash Bmantara, ketua The Thunder!"


Isu dan rumor bertebaran membuat Nadira jadi bahan gunjingan. Tapi sungguh Nadira tak ingin peduli dengan itu. Mengklarifikasi pun sudah tak ada guna karena orang-orang terlanjur memandang salah pada Nadira.


"Terserah! Terserah kalian aja, aku nggak peduli!" gumam Nadira.


"Kuy, Nad! Kita cabs sekarang?" Tak lama Ami pun muncul dan mengajak Nadira untuk pergi.


"Kita naik angkot aja?"


"Iya, angkot aja lah, kita kan mesti hemat-hemat biar bisa tetep beli perintilan make up tanpa minta-minta uang extra lagi ke orang tua!" jawab Ami.


"Ya udah ayo!"


Nadira benar-benar bersikap Masa bodoh. Walaupun digunjing dan dituduh yang tidak-tidak, dia tetap santai dan tak peduli.

__ADS_1


*


*


Sejak 3 hari yang lalu Arash sudah pulang dari Rumah Sakit. Walau dianjurkan untuk bedrest, tapi dia merasa sudah kuat untuk berkendara lagi.


Seperti hari ini, dia menyetir mobil untuk pergi ke Bandara. Vinara sudah sampai di Jakarta, dan Arash sendiri lah yang akan menjemputnya.


Itu dia! Vinara Sarasvati, gadis blasteran dengan wajah menawan dan body goals yang dimimpikan oleh banyak gadis sebayanya. Vinara adalah satu-satunya gadis yang Arash hormati, tapi entah kenapa, pertemuan kali ini, Arash tak terlalu antusias.


"Hey Arash Bmantara, kamu nggak berubah yaa, aura kamu tuh emang Swagy banget!" sapa Vinara yang sedang berjalan mendekat pada Arash sambil menggeret koper besarnya.


"Apa kabar, Vin?" sapa Arash lalu memberi pelukan begitu Vinara sampai di hadapannya.


"Aku lega banget karena tampaknya kamu baik-baik aja! Sebelum pesawat landing, aku masih terkekang rasa cemas, pengen mastiin kalo kamu memang benar-benar baik-baik saja!" jawab Vinara lalu agak mengeratkan pelukannya.


"Aku baik-baik aja kok, pasti mama yang terlalu heboh ngabarin soal kecelakaan itu 'kan?" Arash melepaskan dekapan lalu menatap Vinara dengan tatapan yang lembut.


"Iya sih, tante Rima bilang kalo kamu kecelakaan di jalan raya, aku udah over thinking banget! Tapi kemudian aku ingat, seorang Arash nggak mungkin lemah cuma karena baret-baret di tangan dan kaki!"


"Ya, cuma luka luar aja kok, bahkan bekas lukanya udah hilang. Jadi nggak perlu cemas lagi."


Vinara juga menatap Arash. Mereka saling bertatap. Antara tatapan Arash pada Vinara dan tatapan Arash terhadap Nadira memang ada yang berbeda.


"Mama sama Papa udah nunggu, kita langsung ke rumahku aja," kata Arash lalu merebut koper dari pegangan Vinara.


"Oke. Eh tapi, ada sesuatu yang penting yang aku lupa nggak bawa dari Apart-ku di London," kata Vinara lalu terlihat agak gusar.


"Apa?" tanya Arash.


"Pouch make up aku," jawab Vinara begitu manja dengan wajah memelas.


"Ya ampun, cuma pouch make up," kata Arash lalu geleng-geleng kepala.


"Tapi itu penting banget buatku, Rash! Pokoknya sebelum ke rumah kamu, aku mau minta diantar dulu buat beli perintilan make up!" tegas Vinara.


"Ya udah," sahut Arash dan dia tak keberatan. Arash seolah tak keberatan dengan apapun permintaan Vinara.


Siang ini, Nadira dan Ami juga berencana pergi untuk membeli peralatan make up mereka. Jika semesta mengizinkan, bukan tak mungkin kalau hari ini Nadira dan Vinara akan dipertemukan.

__ADS_1


__ADS_2