Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Reaksi Mama Papa Arash


__ADS_3

"WHAT?"


Mengakui pernikahan siri dan mengatakan kalau saat ini Nadira telah hamil pada kedua orang tua Arash? Nyaris saja Nadira terkena serangan jantung saking terkejutnya. Sikap Arash saat ini sangat kontradiktif dengan sikap Arash sebelum-sebelumnya.


"Kenapa sih reaksinya gitu banget? Emang se-mengherankan itu kalau aku yang bajingan ini mencoba untuk jadi lelaki yang bertanggung jawab buat korbannya? Huh?" Arash agak tersinggung dengan reaksi Nadira yang ia anggap berlebihan.


"Sebentar dulu, kamu bilang tadi kamu akan bongkar soal pernikahan rahasia kita?" Nadira merekap pernyataan Arash barusan.


"Ya! Ini buat negasin aja kalau hubungan kita adalah hubungan yang halal, maybe itu bukan masalah besar pas kemudian mereka tahu kamu hamil," dalih Arash.


"Dan kamu akan bilang kalo kamu udah menghamili aku?" tanya Nadira lagi.


"Ya! Emang kenapa sih heran begitu?"


"Tujuannya?"


"Ya tanggung jawab lah!" jawab Arash ketus.


Nadira masih percaya tak percaya. Bagaimana bisa Arash berubah secepat ini? Rasanya sulit sekali untuk percaya begitu saja.


Apakah Arash masih menyimpan dendam dan menjadikan tindakan 'tanggung jawab' itu sebagai ajang balas dendam? Mungkin saja nanti Arash menjadikan Nadira media untuk menyalurkan jiwa berandalnya. Merasa Nadira telah menghancurkan masa depannya Arash, maka Arash pun akan benar-benar menghancurkan masa depan Nadira seperti yang pernah Arash katakan waktu itu.


"Belum sarapan ya?" tanya Arash saat Nadira diam dan hanya bengong lama tak merespon.


"Iya, emang kenapa?"


"Pantesan lemot!" ejek Arash.


"Kamu nggak tahu gimana beratnya melewati fase ini! Nggak ada nafsu makan sama sekali, lemas, lunglai, pusing tujuh keliling, mual, muntah! Dengan mudahnya kamu ngatain aku lemot! Kamu tahu nggak ini gara-gara apa? Ya gara-gara kamu sembarangan nitip benih di rahimku!" Nadira marah besar lalu mengomeli Arash.


"Kamu pikir kamu aja yang ngalamin ini? Aku juga! Seminggu yang lalu aku juga frustasi karena sakit kayak orang ngidam! Ya karena ini, oke, aku akui kalo syndrome itu buat negasin kalau anak yang kamu kandung itu adalah anakku, makanya aku datang pagi ini buat bertanggung jawab! Ngerti?" Arash balas mengomel.


Nadira malah ingin tertawa jadinya membayangkan Arash yang baddest mengalami morning sickness juga. Apakah itu benar? Nadira benar-benar merasa terhibur membayangkannya.


"Malah cekikikan ...."


"Serius? Serius kamu ngalamin ngidam kayak gini juga?"


"Nggak usah diingetin! Sumpah, nggak mau mau lagi sakit kayak gitu!"


Nadira masih tersenyum setengah tertawa, membayangkan Arash mengalami seperti yang ia alami lumayan membuat urat-urat syaraf sedikit lemas jadi tidak terlalu tegang lagi.


"Jadi gimana? Jangan ngajak muter-muter dulu dengan ngasih pertanyaan ini itu! Pada intinya, aku akan bertanggung jawab! Aku akan menikahi kamu, biar kelak anak itu tahu siapa papanya!"


Perlahan-lahan, hati Nadira sedikit terbeli dengan kata-kata Arash. Nadira akui kalau tak ada lagi yang mungkin ia mintai pertanggung jawaban kecuali Arash. Kalau bukan Arash memangnya siapa lagi? Pikir Nadira.


"Tapi aku masih mau sekolah, ujiang cuma tinggal 3 bulanan lagi, seenggaknya aku punya ijazah SMA kalau suatu hari nanti aku mau melanjutkan ke jenjang kuliah ...." ucap Nadira penuh harap.


"Ya udah, sekolah aja.3 bulan masih bisa disembunyikan kan? Kita akan merahasiakan ini dari siapapun lagi kecuali keluarga!"


"Jadi ... Aku akan jadi istri rahasia kamu lagi?"


"Ya kalo nggak mau rahasia, orang-orang boleh tahu dan bukan nggak mungkin kalo kamu akan drop out dari sekolah!"


"Ya sih ...."


Jadi Istri Rahasi Sang Badboy lagi? Tapi Nadira memang tak memiliki pilihan lain selain menerima tanggung jawab Arash. Sekarang yang Nadira hadapi adalah orang tua Arash dan juga dunianya! Nadira merasa kalau Arash tak main-main dan akan mungkin untuk dikendalikan.


"Emang kalo ngomong sama orang sakit tuh kayak gini ya? Lama ngambil keputusan!" gerutu Arash mulai tak sabaran.


"Marah-marah terus!"


"Ya kamunya emang kayak sengaja mancing pengen dimarahin!"


"Itu karena aku nggak percaya 100% sama kamu."


Arash tersenyum muak karena merasa dipermainkan. Ingin marah, tapi dia ingat lagi dengan tujuan utamanya datang pada Nadira pagi ini.


"Kak Vinara?" tanya Nadira seolah mengingatkan Arash pada nasib Vinara.


"Gimana dengan Kak Vinara? Apa dia nggak jadi pertimbangan kamu? Apa kamu membayangkan gimana shock-nya dia andai tahu apa yang terjadi pada kita ini?"


"Kami emang deket, tapi nggak jadian. Tolong hargai tujuanku sekarang, Nad. Aku ini lagi berusaha menebus kesalahku sama kamu, bisa nggak kamu kesampingkan yang lainnya?"


"Sialnya emang nggak ada lagi yang bisa aku mintai tanggung jawab selain kamu!"


"Ya udah, tunggu apa lagi?"


Ini keputusan yang harus Nadira ambil. Setelah bicara cukup panjang lebar dengan Arash, tampaknya Nadira sudah tahu harus memutuskan apa.


"Oke. Aku terima pertanggung jawaban kamu."


Arash tersenyum lega. Akhirnya niat baiknya bersambut baik, Arash pun merasa sedikit berarti di mata Nadira.


"Ya udah. Bersiaplah, kita akan ke rumahku sekarang!" putuskan Arash.


"Sekarang?"

__ADS_1


"Ya. Mumpung Papa masih di sini, lusa dia akan berangkat lagi ke Qatar!"


Nadira malah jadi deg-degan dan tak menduga kalau prosesnya akan secepat ini.


"Ayolah, lebih cepat lebih baik, kan?"


Nadira berpikir ulang. Baiklah, daripada nanti Arash berubah pikiran lagi, sebaiknya Nadira ikuti saja dulu alurnya. Walaupun Arash ada salah satu yang menorehkan setitik trauma di hidup Nadira, tapi niat baik Arash sudah cukup untuk menghapuskan luka trauma itu secara perlahan.


*


*


Teguh sedang menikmati pagi menjelang siang dengan secangkir kopi di teras rumah bersama dengan Rima. Mereka bercengkrama sambil berbicang santai merancang masa depan untuk Arash nanti.


Tapi obrolan mereka buyar saat Arash datang masuk melewati gerbang rumah dengan seorang gadis remaja yang terlihat ringkih dan sakit.


"Arash datang sama siapa?" tanya Teguh pada Rima.


Wajah Rima agak berubah begitu mengetahui itu Nadira. Rima masih ingat kalau Nadira adalah anak SMA yang pernah Arash perkenalkan sebagai pacar saat di Rumah Sakit.


Rima sulit menerima sosok Nadira karena Rima terlanjur berharap kalau yang akan jadi jodohnya Arash adalah Vinara.


"Hmm, aku gugup," bisik Nadira pada Arash. Nadira sangat gugup.


"Santai aja, mereka baik kok," jawab Arash lalu menggandeng tangan Nadira sambil berjalan ke hadapan Teguh dan Rima.


"Kok kamu udah pulang lagi? Kamu nggak jadi ke kampus?" tanya Teguh.


"Nggak, Pah. Maaf. Tapi ada urusan yang lebih penting yang harus aku selesaikan," jawab Arash cukup lugas.


Teguh memperhatikan Nadira yang hanya menunduk segan. Nadira sampai kebingungan bagaimana cara memulai untuk berkenalan dengan kedua orang tua Arash.


"Oh iya, ini Nad, Nadira ...." Dan Arash lah yang memperkenalkan Nadira pada teguh pada akhirnya.


"Halo, Om ... Saya Nadira ...." Nadira pun memperkenalkan diri tapi masih belum berani memperlihatkan wajahnya.


"Teman kuliah Arash?" tanya Teguh.


"Bu-bukan, Om ...."


"Arash, kamu bolos kuliah dan kamu juga ngajak dia bolos sekolah? Itu urusan penting kamu?" tanya Rima dengan dingin dan sinis.


"Ada pembicaraan penting yang mau kami bicarakan. Apa kami bisa minta waktu Mama sama Papa," kata Arash.


"Pembicaraan soal apa nih? Papa jadi penasaran," kata Teguh tak curiga apa-apa.


Tapi Rima malah sudah menduga kalau ada yang tidak beres yang terjadi pada putranya.


"Ya udah, ayo masuk ke dalam." setujui Teguh.


"Ayo, Nad ...."


Arash dan Nadira berjalan lebih dulu dan sungguh Nadira tak bisa tenang. Perasaannya sangat tidak menentu. Tapi Nadira merasa tenang dengan genggaman tangan Arash, Lewat genggaman tangan itu Nadira sedikit yakin kalau Arash sedang bersungguh-sungguh.


Rumah Arash sangat nyaman dan hangat, tapi tetap tak mampu membuat Nadira merasa nyaman. Dia tetap gelisah. Dia membayangkan kalau kedua orang tua Arash akan mengamuk dan menuduh yang tidak-tidak padanya.


Mereka ber-4 sudah duduk bersama di ruang tamu. Hanya Nadira seorang yang merasa gugup, Nadira pun menyerahkan semuanya pada Arash.


"Nadira, apa kamu sakit? Kok kamu pucat begitu?" tanya Teguh menyadarinya.


"I-iya, Om."


"Sakit kenapa? Kenapa kamu malah mau dibawa motor-motoran sama Arash kalau kamu sedang sakit? Harusnya kamu istirahat di rumah."


"I-iya, Om ...."


"Ini karena ada yang mau kami sampaikan, ini penting, makanya aku paksa Nad buat datang ke sini, menghadap pada Mama dan Papa," kata Arash.


"Langsung aja ke inti pembicaraan, nggak usah banyak basa-basi lagi, Arash!" kata Rima tegas.


"Papa setuju sih, habis itu kamu antar lagi Nadira pulang karena kondisinya keliatan lemah sekali," sahut Teguh.


"Nadira ini bukan sakit demam atau sakit apa pun yang ada obatnya, Pah."


"Lho, terus sakit kenapa?" Teguh ikut cemas.


"Nad lagi ngidam, dia lagi hamil anaknya Arash!"


Nadira memejam mata dan tak ingin melihat reaksi Rima dan Teguh. Arash memang benar-benar to the point, dan Arash mengungkapkannya tanpa ragu sedikit pun. Nadira akui kalau dalam urusan ini Arash begitu lugas dan gentle.


Bagaimana dengan reaksi Rima dan Teguh? Tentulah keduanya terkejut walaupun Rima sudah curiga sejak awal.


"Tapi Papa sama Mama nggak usah cemas soal status anak ini, calon cucu kalian ini bukan anak haram kok karena sebelumnya kami berdua udah pernah nikah siri ...." akui Arash lagi.


Barulah kali ini Rima terkaget. Apa lagi Teguh. Teguh sampai speechless dan belum bisa memberi tanggapan.


"Apa maksudnya, Arash? Siapa yang menikah siri?" tanya Rima.

__ADS_1


"Aku sama Nad," jawab Arash dengan santainya.


"Kalian ini gila? Kamu ini masih kuliah, dan Kamu Nadira! Kamu ini pelajar! Apa yang ada di pikiran kamu? Kenapa kalian berpikir untuk melakukan hal itu tanpa sepengetahuan kami?" Rima mulai menunjukkan respon dan responnya agak buruk.


"Kami nggak gila, Mah. Justru mama harus lega karena anak mama ini nggak pernah melakukan hubungan intim di luar ikatan pernikahan."


"Ya tapi tetap aja kalian ini nggak menghargai kami sebagai orang tua! Bagaimana dengan orang tuamu, Nadira? Apa mereka sudah tahu?" Pertanyaan Rima terasa seperti sebuah tekanan untuk Nadira sehingga Nadira tak bisa menjawab dengan mudah.


"Nad ini anak yatim piatu, Mah. Orang tuanya udah meninggal," jawab Arash.


"Oh pantes aja! Pantas aja kamu sampai berpikir buat melakukan tindakan amoral ini! Ternyata emang karena nggak ada yang membimbing hidup kamu!"


"Mah!"


Entah kenapa hati Nadira nyelekit sakit dengan perkataan Rima.


"Nggak ada yang berbuat amoral, Mah! Kami menikah kok!"


"Ya tapi pernikahan kalian ini ilegal!"


"Nggak juga! Kami dinikahkan oleh ustadz, ada saksinya juga, secara agama hubungan kami sah!"


"Tapi pikiran kalian untuk menikah itu adalah keputusan yang sangat bodoh! Mama nggak mau, mama nggak siap punya cucu! Ini nggak fair! Kita selesaikan aja dengan aborsi!"


Rima dan Arash sedikit berdebat. Dan kata-kata Rima semakin menyakitkan hati Nadira.


"Rima, apa yang kamu bicarakan? Tenanglah, jangan emosi berlebihan kayak gini," tenangkan Teguh. Beda dengan Rima, Teguh malah bersikap lebih tenang.


"Nggak bisa, Mas. Kalau hubungan mereka dibiarkan, bagaimana dengan masa depan Arash?"


"Kamu pikirkan juga bagaimana dengan masa depan Nadira! Jangan egois! Mereka melakukannya suka sama suka kok! Kenapa kamu berlaku tidak adil pada yang selain anak kita?"


"Mas ..."


"Hargai lah kejujuran mereka! Tenang lah, masalah nggak akan selesai hanya dengan saling menyalahkan."


Hati Nadira terobati dengan sikap bijak Teguh. Nyaris saja Nadira putus asa, tapi ternyata Teguh tak seburuk yang ia kira.


"Hh, Arash ... Kamu benar-benar bikin mama kecewa ...." Rima melemah lalu menangis kesal.


"Maaf, Mah ...." ucap Arash.


Teguh memperhatikan pada kedua anak muda yang duduk di hadapannya saat ini. Teguh shock dan kecewa, tapi Teguh masih bisa berpikir objektif, Teguh pun membayangkan bagaimana perasaan dan kondisi mental Nadira saat ini.


"Kamu masih sekolah?" tanya Teguh pada Nadira.


"Masih, Om," jawab Nadira pelan dan dengan suara gemetar.


"Setelah kamu tahu kamu hamil, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu mau melanjutkan sekolah kamu?"


"Saat ini saya kelas 12, sekitar 3 bulan lagi ujian, saya rasa saya masih bisa menyelesaikan sekolah saya sampai lulus ...."


"Bersama janin yang ada di rahim kamu?"


Nadira hanya mengangguk pelan. Sulit untuk bicara dengan tenang rasanya.


"Terus, sekarang kamu maunya gimana? Kamu mau Arash menikahi kamu secara resmi?"


Nadira melirik ke arah Arash dan ingin Arash saja yang menjawab pertanyaan itu.


"Nadira nggak nuntut apa-apa, Pah. Aku yang bersikeras mau bertanggung jawab." Arash lah yang menjawab.


Teguh menatap bangga pada Arash. Walau salah, Arash masih bisa bersikap gentle, itu adalah nilai plus Arash di mata Teguh saat ini.


"Mama nggak siap! Mama belum siap menerima ini ...." kata Rima menyela lagi, sepertinya Rima memang akan sulit untuk ditaklukan.


"Jadi mau kamu apa, sayang?" tanya Teguh yang juga mencoba mengerti keadaan istrinya.


"Ya aku mau anak itu digugurin aja! Kasih jaminan keselamatan dan juga kasih jaminan pendidikan buat dia selanjutnya! Selesai!"


Nadira hopeless. Tapi dia pasrah, tak ada keberanian untuk membantah Rima.


"Mama benar-benar nggak berperasaan ya? Mama ini seorang mama lho, aku kira mama bisa lebih ngerti dari pada yang lainnya ...." sayangkan Arash.


"Diam kamu, Arash! Mama kecewa sama kamu!"


"Tapi papa rasa kita harus ikut bertanggung jawab, Rima. Niat Arash sudah baik, harusnya kita mendukung niat Arash, kita juga harus melindungi Nadira agar ia bisa menyelesaikan sekolahnya."


"Apa maksud kamu, Mas? Kamu mau nerima kebodohan mereka?"


"Perbaiki kata-katamu, Rima."


"Nggak bisa! Aku kecewa sama mereka!"


"Tapi Arash itu anak kita! Dan Nadira sedang mengandung anaknya Arash!"


"Jadi?"

__ADS_1


"Ya udah mau gimana lagi? Ya kita terima semuanya!"


Kalau Teguh yang bicara, Rima pun tak bisa banyak membantah. Mungkin pada akhirnya Rima harus menerima kenyataan kalau dia akan segera memiliki cucu dari rahim gadis yang tidak diharapkan olehnya.


__ADS_2