Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Siapa Vinara?


__ADS_3

Seraut wajah yang berkeliaran di batas khayal itu akhirnya nampak dan membayar sebagian rindu yang telah Arash rasakan selama berhari-hari.


Alisnya, matanya, hidungnya dan bibirnya yang juicy adalah lukisan indah yang tak dapat Arash temukan di tempat mana pun. Lukisan itu hanya ada pada diri Nadira.


"He he." Nadira malah menahan tawa tapi suara tawanya lolos begitu saja membuat Arash tersadar dari rasa terpukaunya.


"Ngapain ketawa?" tanyanya dengan wajah kesal.


"Kalau kepala Kak Arash dibebat juga, kak Arash udah kayak mumi beneran deh, wkwk," jawab Nadira dan masih menertawakan.


"Sialaan! Malah ngatain!" rutuk Arash gemas.


Nadira segera mengalihkan lagi ke kamera belakang sehingga Arash kehilangan wajah Nadira lagi.


"Hey!" Arash tambah kesal.


"Nggak mau lah! Kak Arashnya masih galak, masih ngatain aku 'sialan'," protes Nadira.


Arash tersenyum kecut. Dia tak menyangka kalau Nadira benar-benar melakukan protes dan perlawanan.


"Makin banyak protes ya?! Kamu pikir kamu siapa?" Arash meledak lagi, dia memang sulit untuk dikendalikan.


"Terus, kamu pikir kamu siapa? Ternyata kamu emang nggak berubah! Tadinya aku mau memaafkan kamu atas semua kesemena-menaan kamu! Aku pikir kecelakaan ini akan membuat kamu berubah, setidaknya lebih menghargai orang, termasuk aku! Ternyata benturan di kepala emang kurang keras yaa? Atau emang kepala kamu terlalu keras?" omel Nadira sepuasnya.


Arash terbengong. Seumur-umur, selain oleh mamanya, Arash tak pernah diomeli seperti itu.


"Siapa pun nanti yang jadi masa depan kamu, siapa pun nanti yang jadi istri Kak Arash, pasti akan menuntut untuk dihargai! Belajar lah untuk menghargai orang lain, terutama perempuan! Sehebat-hebatnya kamu, kamu itu lahir dari rahim perempuan! Bukan dari batu!" Nadira lanjut mengomel.


Entah kenapa, setelah mengeluarkan semua unek-uneknya, hati Nadira terasa sangat plong. Benar-benar plong.


Nadira menatap wajah Arash yang masih terdiam dan terbengong setelah disemprot dengan omelan oleh istri rahasianya.


"Maaf kalo aku nggak sopan, tapi mengingatkan itu bukan soal dari yang lebih tua ke orang yang lebih muda! Siapa pun bisa menasehati, termasuk aku, apa lagi aku ini adalah orang yang telah kamu halalkan! Kalo mau murka juga silakan aja sih, terserah! Yang penting aku udah ngasih tahu yang baik!" Nadira menyudahi ceramahnya dengan kata maaf.


Untuk waktu yang cukup lama, Arash tertegun. Dia mengingat setiap kata yang Nadira ucapkan barusan.


"Nad ..." panggil Arash, tapi kali ini suaranya pelan dan lembut, tidak seperti biasanya.


"Ya ...." tukas Nadira.


"Cepat pulang, i need you now." Raut wajah Arash juga berubah memelas. Tak ada urat muka yang mengencang, tak ada pelototan mata yang berapi-api, secara tiba-tiba Arash jadi sedikit lebih soft setelah diomeli.

__ADS_1


"Butuh buat apa? Buat ditindas? Buat dijadikan budak nafsu aja?"


"Nad!"


"Aku balik nanya deh sama Kak Arash! Jawab dengan jujur, sebenarnya apa artinya aku di hidup Kak Arash saat ini? Apa benar-benar sebatas penebus hutang? Sebatas pemuas nafsu?" Pertanyaan Nadira agak menuntut. Nadira ingin kejelasan.


"Itu nggak bisa diobrolin di telpon kayak gini. Pulang lah, biar kita bicarakan baik-baik, face to face!" jawab Arash yang makin melunak lama kelamaan.


"Kalo aku temui Kak Arash ke Rumah Sakit, apa kak Arash akan memanfaat itu buat menjebak aku di dalam ruangan dan melakukan kehendak sesuka hati Kak Arash?"


"Nad! Nih lihat! Tangan sama kakiku luka parah! Nggak bisa gerak bebas! Nah liat! Liat nih!" Arash agak ngegas lalu memperlihatkan tangan dan kakinya yang terbalut perban.


"Ya udah, besok, aku akan langsung ke RS begitu aku sampai di Jakarta," putuskan Nadira.


Barulah Arash merasa puas. Mungkin Arash pikir, kalau sikap Arash melunak, maka lama kelamaan Nadira juga akan jinak dengan sendirinya.


*


*


Hari itu tiba ....


"Kamu yakin, Nad? Si Arash lagi memburu kamu lho, kok kamu malah mau nyamperin dia sih? Kamu tuh kayak sengaja mengumpankan diri ke kandang harimau tau nggak?" tanya Galang yang mencemaskan adiknya.


"Jangan banyak ngomong! Kak Galang tunggu sini aja, jagain tas aku!" jawab Nadira dengan yakin, dia membuka helmnya dan meninggalkan tas besarnya di moror Galang.


"Nad!"


Nadira tak mempedulikan Galang lagi, Nadira terus berjalan menuju ke gedung utama untuk mencari nomor ruangan Arash.


Saat Nadira menunggu di depan pintu lift, dia mencoba yakin dan siap untuk menemui Arash. Nadira ingin memastikan apa statusnya saat ini. Nadira tak ingin digantung-gantung.


Saat pintu lift terbuka, secara kebetulan ada Rima-mamanya Arash yang baru keluar dari dalam lift sehingga sempat berpapasan dengan Nadira, hanya saja mereka memang tak saling mengenal. Rima memang selalu bergantian jaga dengan kawan-kawan Arash. Dari sore, malam sampai pagi hari, teman-teman Arash lah yang akan berjaga.


Dan saat sampai di lantai dan ruangan yang dituju, Nadira memulai dengan mengela nafas dan mengembuskannya pelan-pelan, Nadira melakukannya berulang beberapa kali.


Cktt, pintu terbuka, Nadira kaget tapi yang keluar adalah seorang suster.


"Eh, duh, bikin kaget aja," kata suster itu yang juga kaget saat mendapati Nadira berdiri tepat di depan pintu ruang perawatan Arash.


"Maaf, Sus."

__ADS_1


"Iya, nggak apa-apa."


"Tapi, ini ruangannya Kak Arash, kan? Pasien korban kecelakaan 2 hari yang lalu," tanya Nadira untuk memastikan.


"Iya, betul."


"Oh, terima kasih, Sus."


"Sama-sama." Suster itu pergi dan setelah sudah yakin, Nadira pun masuk ke dalam ruangan sang Arash sambil memejamkan mata pada awalnya sembari berharap di dalam ruangan sana tidak ada siapa-siapa kecuali Arash.


"Nad?" sapa Arash yang hampir percaya tak percaya kalau Nadira benar-benar datang ke RS untuk menemui dirinya. Sejak berangkat dari Bandung 3 jam yang lalu, Nadira memang belum membalas pesan Arash satu pun.


Nadira membuka mata dan menatap Arash yang duduk setengah terbaring di atas brankar dengan luka-luka yang masih dibebat perban di kaki dan tangannya.


"Ngapain diam di sana?! Sini mendekat!" kata Arash tak sabaran ingin bertatap muka dari jarak dekat dengan Nadira.


Saat dirasa situasinyanya cukup kondusif, Nadira pun berjalan mendekat dengan hati yang masih terasa berdebar. Nadira mencoba percaya kalau Arash tak akan berbuat kurang ajar lagi.


Saat sudah sampai di samping kanan brankar Arash ....


"Ternyata lukanya emang separah ini?" gumam Nadira dan memperhatikan tangan dan kaki yang luka itu.


Sementara itu, mata Arash fokus tertuju pada Nadira, pada wajah yang ia rindukan selama ini.


"Sini, deketin!" pinta Arash lalu mencoba meraih tangan Nadira agar semakin dekat dengannya.


"Nggak mau ah, di sini aja," tolak Nadira.


Arash ingin marah tapi dia sudah janji dia tak akan bersikap kejam dan semena-mena lagi pada Nadira.


'Tahan, Arash, tahan! Jangan sampai dia kabur lagi!' Satu sisi hati Arash berbisik. Arash pun mencoba untuk tetap tenang.


Kriiiing, tapi sebuah dering telpon mengganggu, kebetulan ponsel Arash sedang ada di sebelah kanan, tergeletak begitu saja sehingga dengan mudah Nadira bisa melihat nama yang muncul di layar handphone Arash.


Vinara!


"Vinara, siapa? Teman kampus Kak Arash?"


Vinara? Arash pun cukup kaget saat tahu kalau yang menelpon adalah Vinara, sementara di dekatnya juga sedang ada Nadira. Di antara Vinara dan Nadira, memiliki arti yang nyaris sama di hidup Arash. Vinara adalah perempuan yang dia inginkan untuk menjadi masa depannya, sementara Nadira adalah perempuan yang pelan-pelan membuatnya nyaman.


Apakah Arash akan mengangkat telpon dari Vinara di hadapan Nadira?

__ADS_1


__ADS_2