Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Complicated


__ADS_3

Sepeninggal Rima, Nadira masih berpikir keras dan merasa kalau dirinya tak begitu diinginkan. Selanjutnya Nadira juga jadi ingat pada nama 'Vinara' yang kemarin beberapa kali mencoba menelpon Arash. Akumulasi itu membuat Nadira meragukan Arash lagi.


"Aku pulang aja yaa," ucap Nadira sembari membereskan box nasi padang yang sudah habis itu.


"Ke sini cuma mau nyuapin aja?" tanya Arash dengan nada menyindir.


"Nggak enak lama-lama di sini, malu sama mama kamu apalagi bentar lagi papa kamu juga akan datang ke sini," jawab Nadira sama sekali tak bersemangat.


"Ya biarin aja, malah bagus kan, biar sekalian papa juga tahu kalo kamu itu pacarnya aku."


Nadira menatap Arash dan masih mencari-cari apakah Arash serius dengan hubungan ini atau tidak.


"Kak ...."


"Ya? Kenapa, sayang?" sahut Arash lalu menyimak Nadira dengan seksama.


"Apa hubungan kita ini serius? Maksudku, apa suatu hari nanti kita akan putus kalo kamu sudah merasa bosan?" tanya Nadira dengan sangat serius.


Arash belum menjawab karena dirinya juga tidak tahu. Arash belum bisa memastikan apakah perasaannya kepada Nadira adalah nafsu atau memang rasa yang lebih dari itu.


"Jujur saja aku nggak yakin, aku juga ngerasa kalau orang yang nelpon kamu kemarin adalah orang yang lagi dekat sama kamu. Iya kan? Jujur aja kak, sebelum kita melangkah semakin jauh, biar aku fokus pada kehidupanku, biar aku berusaha memulihkan apa yang sudah kamu robek, walaupun itu nggak akan pernah bisa kembali utuh!" Nadira benar-benar bicara sangat serius.


Arash tak mengerti kenapa Nadira mencurigai dirinya. Tapi pertanyaan Nadira itu terasa mendesak.


"Kamu ngomong apa sih? Kamu tuh dibaikin malah jadi makin banyak nuntut ya?" Ujungnya Arash juga merasa terdesak dengan pertanyaan Nadira.


"Aku cuma nuntut kejujuran aja kok! Vinara itu siapa? Pacar kak Arash, kan? Kalo iya juga nggak apa-apa, aku nggak akan marah kok! Kalo emang iya ya udah aku aja yang mundur, but please ... Lepasin kekangan kamu, please ...."


Acara suap-suapan yang awalnya terasa santai dan manis malah berubah jadi serius. Nadira tak bisa memendam keraguannya, apa lagi dia baru saja pulih dari rasa benci dan rasa tak percaya terhadap Arash.

__ADS_1


"Belum apa-apa kamu tuh udah pesimis terus! Kita baru sehari jadian lho, tapi kamu terlalu banyak ragu, terlalu banyak protes!"


"Ya aku nggak mau aja semuanya terlanjur! Kalo emang masa depanku tetap digantung begini! Ya udah, mending dari sekarang aja kita selesaikan semuanya!"


Nadira dan Arash malah berdebat. Awal hubungan mereka memang sudah diwarnai dengan ketidakpercayaan dan kecurigaan.


Walaupun Nadira hanya seorang anak SMA yang umurnya baru 17 Tahun, tapi Nadira sangat memikirkan bagaimana nasib kedepannya. Kalau Arash terlalu puas memanfaatkan pernikahan siri mereka untuk menyalurkan hasrat, bagaimana kalau nanti ujung-ujungnya Arash menceraikan Nadira? Bagaimana kalau nanti ujung-ujungnya Arash meninggalkan Nadira? Itu lah yang benar-benar Nadira pikirkan saat ini.


"Aku tahu siapa kamu, Kak. Kamu itu bukan orang sembarangan, kamu itu ketua geng motor yang bisa melakukan apa saja, tapi walaupun aku lemah, aku nggak mau jadi budak kekuasaan kamu, dengan ini aku mohon dengan sangat, kalo Kak Arash cuma mau melampiaskan nafsu aja ke aku, mending kita udahan aja!"


Lama-lama Arash jengah. Arash merasa sedang berusaha jadi lelaki yang lembut untuk Nadira, tapi Nadira masih saja meragukan. Karena kesalahfahaman itu, baik Nadira dan Arash, jadi sama-sama kehilangan kepercayaan.


Kriiiiing ....


Dan lagi, nama Vinara muncul lagi di layar handphone Arash yang disimpan di atas nakas sehingga Nadira bisa melihatnya. Perasaan yang tidak menentu semakin menguatkan keraguan Nadira.


"Baru sehari jadian kamu udah rewel begini! Apa masalahnya? Kita tinggal jalani aja kan? Kamu udah aku nikahi, harusnya kamu nurut aja, nggak perlu banyak protes lagi! Kamu itu udah nggak ada harganya, Nad! Harga diri kamu udah dijual senilai 20 juta sama Kakak kamu!"


Kata-kata Arash barusan terasa menusuk hati Nadira. Rasanya sakit sekali.


"Jadi itu? Aku nggak ada nilai apa-apa di mata kamu, itu sebab kamu berbuat semena-mena ke aku?"


Nadira dan Arash lanjut berdebat diselingi dengan dering telpon yang masih berbunyi.


"Kamu tuh bikin semuanya jadi complicated! Apa susahnya kita jalani aja dulu, nikmati semuanya!"


"Tapi aku mau semuanya menjadi pasti! Kamu adalah orang yang membeli harga diriku! Aku nggak mau di saat nanti aku benar-benar menginginkan kamu, kamu malah membuang aku sesuka hati kamu! Aku nggak mau kayak gitu!"


"Turunin nada bicara kamu!" kecam Arash lalu mencengkram kuat lengan Nadira.

__ADS_1


Kriiiing, kini dering telpon malah saling bersahutan. Ponsel di tangan Nadira juga berdering, entah siapa yang menelpon, Nadira belum melihatnya.


Arash melepaskan cengkraman tangan dari lengan Nadira dan beralih merebut ponsel Nadira dari genggaman Nadira.


Nadira sendiri tak tahu siapa yang menelpon, yang pasti saat Arash melihat nama yang tertera, wajah Arash menjadi merah padam.


"Ini siapa?" Arash menunjukkan pada Nadira.


Sialnya, yang menelpon Nadira adalah Arka. Sekarang keduanya saling serang dan saling mencurigai.


Sebelum Nadira sempat menjawab, Arash lebih dulu mengangkat panggilan itu. Jujur saja Nadira jadi takut walau dia tak memiliki hubungan apa-apa dengan Arka.


Arash tak bicara dan menunggu Arka yang menyapa lebih dulu.


"Halo, Nad? Kamu di mana? Masih di sekolah, kah? Kebetulan saya baru sampai di Jakarta, kalo nggak keberatan, saya mau jemput kamu ke sekolah dan antar kamu pulang ke rumah kamu ...."


Kata-kata Arka menguatkan prasangka Arash. Hari ini adalah hari yang penuh dengan prasangka buruk. Belum juga hubungan mereka kuat dan utuh, mereka malah saling mencurigai dan sudah pasti hubungan mereka yang baru berjalan 24 jam tak akan lagi bisa diselamatkan.


"Nad? Halo?"


"Share lokasi lo, Anj*n*! Tunggu gue di sana!"


Arash menutup obrolan itu dengan sebuah kalimat kasar penuh ancaman. Sudah pasti Arka kaget dengan itu, tapi Nadira tak tahu bagaimana keadaan Arka saat ini.


Arash mengirimkan nomor Arka dari handphone Nadira ke nomor miliknya dan Nadira tak tahu apa yang akan Arash lakukan. Apakah nasibnya akan sama seperti halnya Kaizan?


"Aku talak kamu! Selesai!"


Air mata Nadira luruh. Kalimat Arash membuat dirinya merasa sangat tidak berarti. Tapi mungkin itu bisa jadi awal kebebasan Nadira dari penjara sang Arash.

__ADS_1


__ADS_2