
Nadira menegakkan dirinya, dia tak ingin terlihat lemah di hadapan Arash. Dengan penuh percaya diri Nadira berdiri di samping Arka dan menyingkirkan semua keraguan yang tadi sempat menyerang dirinya.
"Hey, kayaknya kita pernah ketemu deh?" sapa Vinara, Vinara pun ikut terkejut dengan kemunculan Nadira.
"Iya, Kak. Kita pernah ketemu di Watsons," jawab Nadira dengan tenang.
"Waah, dunia ini tiba-tiba serasa sempit banget ya? Ternyata kamu ade-ade-annya Arka?" Vinara berusaha hangat, walau dalam hati dia meradang sebab Vinara curiga kalau Nadira adalah sosok yang ada di pikiran Arash selama ini.
"Iya, emang kebetulan banget ya," tukas Nadira sambil tersenyum.
Ah, senyuman itu! Bahkan Arash jarang menerima senyum manis seperti itu saat Nadira masih menjadi istri rahasianya.
'Kenapa dia nggak pernah senyum semanis itu pas lagi sama gue? Apa dia benar-benar nggak pernah bahagia setiap ada di dekat gue? Sialan!' Arash hanya bisa marah-marah di dalam hati, andai saja terlihat, saat ini kepala Arash sudah berasap saking gusarnya.
"Dunia emang sesempit itu ya?" canda Arka.
"Iya, Ar. Sekitar seminggu yang lalu kami sempat ketemu. Oh iya, by the way, kita belum kenalan, aku Vinara," kata Vinara lalu menyodorkan tangan pada Nadira sehingga Nadira menyambut.
"Nadira."
Vinara lanjut menyalami Ami, "Vinara ...."
"Ami," jawab Ami yang lebih banyak diam dan sembunyi di balik tubuh jangkung Arka karena Ami merasakan atmosfer panas yang terpancar dari diri Arash.
"Kami masuk duluan ya, Kak. Eh, ada debu di pundak Kak Arka ...." Nadira iseng meminta izin lalu mengusap kerah kemeja Arka membuat adegan manis seolah Nadira sudah cukup lama berhubungan dengan Arka.
"Oh realy? Thanks, Nad ...." sahut Arka kesenangan.
Tujuan Nadira adalah untuk menunjukkan pada Arash kalau Nadira sudah move on dan merasa lebih baik tanpa Arash.
Arash mengepal tangan dan hatinya begitu menggebu-gebu ingin merebut kembali Nadira, tapi Arash masih mampu kontrol sebab di sana ada Vinara dan Arka.
"Udah bersih. Ya udah, kami masuk duluan ya," pamit Nadira kali ini benar-benar beranjak dari sana.
"Oke," tukas Arka dengan senyum manis semanis gula.
"Ayo, Mi." Nadira dan Ami pergi meninggalkan Arash dalam keadaan meradang bersama dengan Vinara dan Arka.
__ADS_1
"She's so cute," puji Vinara mengakui pesona Nadira.
"Ya, she is!" tukas Arka dengan wajah berbunga-bunga.
"Nggak takut dikira pedofil?" goda Vinara.
"Ya nggak lah, aku kan belum tua-tua amat, Vin! Ha ha," sahut Arka lalu tertawa garing.
"Ya kali kamu memanfaatkan kepolosan dia."
"Nggak berani aku, Vin. Dia anak orang, nggak mungkin aku manfaatin, dia anak baik-baik kok."
Arash tersenyum licik dan merasa kalau dirinya lah yang jauh lebih dulu memanfaatkan Nadira. Bahkan Arash sudah mencurahkan hasratnya beberapa kali pada gadis berseragam SMA itu.
"Ya udah kita masuk sekarang, yuk ...." ajak Vinara.
"Oke. Aku jalan lebih dulu ya, takut kehilangan jejak mereka," pamit Arka berjalan lebih cepat untuk menyusul Ami dan Nadira.
"Oke."
Hampir saja Arash mencegah Arka dan menegaskan kalau tak boleh ada satupun lelaki lain yang boleh memiliki Nadira. Memang se-egois itu lah Arash. Dia tak ingin Nadira dimiliki orang lain, tapi dirinya sendiri tak mampu meyakinkan dan membuat Nadira merasa berarti.
"Kamu juga tertarik sama anak SMA itu?" sindir Vinara.
"Kita nggak bisa lama-lama di sini, anak-anak Thunder nungguin di markas soalnya ada agenda pertemuan penting hari ini," tukas Arash.
"The Thunder emang selalu jadi prioritas kamu ya? Padahal ini hari terakhirku di Jakarta lho," keluh Vinara dengan wajah cemberut.
"Besok kan kita ketemu lagi, aku yang akan antar kamu ke Bandara," kata Arash tidak memuaskan Vinara.
"Kok aku ngerasa ada sesuatu di antara kamu dan Nadira, benar kan? Kamu sudah mengenali gadis SMA itu? Iya, kan?" curigai Vinara lebih intens lagi.
"Apaan sih, Vin? Ayo lah, waktu kita tuh nggak banyak!" ajak Arash lalu menggandeng tangan Vinara, tapi Vinara terlanjur mencurigai Arash.
"Jadi ... Apa hubungan kita sekarang? Selama aku ada di sini, kamu nggak bicara apa-apa soal hubungan ini! Tante Rima bilang, kamu begitu antusias dengan rencana perjodohan di antara kita, tapi lihat sekarang! Sepertinya kamu sudah kehilangan antusiasme itu, or maybe ... Mama kamu bohong soal itu," protes Vinara.
Ketidak yakinan Vinara mendorongnya untuk bicara serius di area parkir itu.
__ADS_1
"Vin, Please ... Its not a right place, and its not a right time! Mana bisa kita membahas masalah yang serius di halaman parkir begini, come on ...." Arash menghindar lalu tersenyum miring menanggapinya.
"Baiklah." Vinara pasrah lalu memulai langkah lebih dulu meninggalkan Arash yang masih ada di ambang dilema. Sejak kehadiran Nadira, Arash menjadi tak mampu menentukan perasaannya.
Di dalam toko buku, Nadira berharap tak berhadapan dengan Arash dan Vinara lagi. Nadira cepat-cepat mencari buku yang dibutuhkan.
"Serius, Nad! Hatiku masih gemetar dan tanganku juga masih tremor, apa kamu lihat gimana cara Kak Arash natap ke arah kamu tadi?" Sesekali Ami mengoceh mengungkapkan perasaannya yang tidak bisa tenang.
"Pssttt, ada Kak Arka di belakang rak ini, please deh, Mi! Kontrol deh rasa panik kamu," bisik Nadira pelan-pelan.
"Yaa habisnya ...."
"Aku udah dapat buku yang kita butuhkan! Kita ke kasir dan kita pulang, kalo Kak Arka nawarin traktir makan, kita harus tolak! Pokoknya aku mau langsung pulang!" Nadira mewanti-wanti pada Ami agar ikut skenarionya.
"Jajan boba sama toppoki aja gitu, masa ditolak kalo Kak Arka nawarin jajan?"
"Iih, Amiii ...."
"Ya udah ya udah ...."
Nadira pergi mencari Arka dan Arka berada di lorong sebelahnya, Nadira mendekat pada Arka dan mata Arash diam-diam selalu mengawasi walau Arash melakukannya dengan senyap.
"Kak, kami udah selesai. Kami mau bayar dan kami tunggu di halaman parkir aja ya," kata Nadira.
"Udah selesai? Nggak ada yang mau dibeli lagi?" tanya Arka.
"Nggak ada, Kak."
"Ya udah, sini, biar saya yang bayar." Arka hendak mengambil alih buku-buku di tangan Nadira.
"Nggak usah, Kak. Kami akan bayar sendiri." Tapi Nadira menolak.
"Ayolah, Nad. Nggak usah sungkan, sini," paksa Arka, Nadira pun tak bisa menolak lagi. Sementara Ami merasa sangat senang.
"Yes, lumayan kan Nad dibayarin ...." iseng Ami.
Terhalang oleh beberapa rak, Nadira menyadari kehadiran Arash yang tetap mengawasi dalam diamnya. Nadira menatap ke arah Arash beberapa detik. Lewat tatapan matanya itu Nadira seolah ingin menegaskan kalau Nadira baik-baik saja setelah berpisah dengan Arash.
__ADS_1
'Lihat aku, bajingan! Aku baik-baik saja tanpa kamu!' umpat Nadira di dalam hati lalu dia berpaling dan mengikuti langkah Arka.
Cara Nadira berpaling dan mengabaikan Arash sungguh sangat menyakitkan. Tapi Arash harus merelakan, apa lagi Vinara semakin mendesak kejelasan status pada dirinya!