Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Couvade Syndrome


__ADS_3

"Akan ada 2 karya tulis yang terpilih dan mepresentasikannya di depan kelas minggu depan, putusannya akan saya umumkan hari jumat nanti ya," kata Pak Haryono, guru Bahasa yang baru saja menerima setoran tugas dari para muridnya.


"Baik, Pak." Seluruh kelas menyahut, kecuali Nadira karena sungguh tiba-tiba dia merasa lemas siang ini.


"Pelajaran hari ini sudah cukup, selamat istirahat, selamat siang!" pamit Pak Haryono lalu beranjak dari kelas.


Seluruh kelas merasa senang bisa segera menikmati waktu istirahat, tapi tidak dengan Nadira yang mendapatkan serangan serupa serangan morning sickness secara tiba-tiba.


'Kenapa ya? Perutku mual, kepala pening berat, aah nggak enak banget ....' Nadira meremas perutnya dan sungguh dia merasa sangat tidak nyaman.


"Eh, ayang Kaizan ...." seru Jenny dari sudut kelas. Dia menyapa Kai yang tiba-tiba muncul di ambang kelas.


Nadira mengangkat wajahnya dan di sana memang ada Kaizan yang juga sedang melihat ke arahnya sehingga Kai bisa melihat betapa pucatnya wajah Nadira saat ini.


"Kamu kenapa, Nad?" Kaizan menyapa lalu menghampiri ke bangku Nadira sehingga membuat Jenny meradang karena jealous.


"Kayaknya maag-ku kambuh," jawab Nadira ngasal.


"Pasti tadi pagi nggak sempat sarapan."


Nadira hanya mengangguk pelan. Tak banyak yang bisa ia lakukan saat ini, serangan mual dan pusing semakin mendera bertubi-tubi.


"Kuat jalan ke kantin?" tanya Kaizan penuh perhatian, walaupun kabarnya Kaizan sudah balikan dengan Jenny, tapi saat ini Kaizan mencurahkan perhatiannya pada Nadira.


"Aku di sini aja, kalo nggak keberatan, tolong panggilin Ami ke sini," pinta Nadira lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam tak ingin Kaizan leluasa melihat rasa sakitnya.


"Hebat banget ya kamu, Kai! Di depan mataku kamu sok perhatian gitu sama cewek lain!" protes Jenny dan dia merajuk.


"Kamu nggak lihat? Nad lagi sakit, lah kamu teman sekelasnya nggak peka dan nggak peduli," sahut Kai dengan nada ketus.


"Diih, ngapain harus peduli, ayolah kita ke kantin, abaikan aja dia!" ajak Jenny sama sekali tak memiliki rasa simpati pada Nadira.

__ADS_1


Kaizan kesal dan hanya geleng-geleng kepala. Jenny memang kekasihnya, tapi hati Kaizan masih menyayangi Nadira.


"Udah, kamu pergi aja, Kai ...." kata Nadira pelan.


"Nanti aku beliin roti sama minum ya, kamu nggak usah kemana-mana, habis itu kita ke UKS," kata Kai masih penuh perhatian.


Nadira tak tahu lagi, dia hanya mengangguk tak peduli walau Jenny menatapnya penuh benci. Kaizan pergi dengan Jenny dan teman-teman sekelas Nadira juga mulai pergi satu persatu dari kelas sehingga hanya meninggalkan Nadira sendiri.


'Ya Tuhan, apakah ini pertanda? Tolong jangan berikan aku anugrah untuk saat ini, aku belum siap untuk menerimanya, tolong ampuni aku dan beri aku kesempatan sekali lagi ....' Nadira hanya bisa berdoa di dalam hati.


Nadira tidak menyangkal kalau saat ini dia mencurigai dirinya sudah hamil. Telat datang bulan dan gejala morning sickness sudah cukup membuat Nadira sadar kalau dirinya memang sedang hamil.


*


*


Itu tidak hanya terjadi pada Nadira, pagi ini Arash bahkan mengalami hal yang sama. Dia masih berkutat di atas kasur karena mengalami gejala mual muntah yang hebat sampai membuat dirinya yang superior menjadi kepayahan.


"Aaahh, sial! Siaaaal!"


Ckttt, pintu kamar terbuka dan yang datang adalaha Rima dengan nampan berisi sarapan, segelas air dan obat.


"Kaan? Apa mama bilang! Mama tuh yakin kalo ini dampak mabuk-mabukan! Mabuk aja terus! Kalo udah begini, apa kamu masih bisa sok gagah, huh?" omel Rima lalu membukakan tirai di kamar putranya sehingga Arash semakin tak nyaman karena sinar matahari membuatnya silau sekaligus membuatnya tambah pening.


"Aku lagi sakit, Mah. Bisa nggak bagian ngomelnya diskip dulu?" protes Arash.


"Get up! Pergi ke kamar mandi, cuci muka dan makan lah! Jangan kolokan kayak gitu!"


"Maah ...."


"Apa? Kamu tuh bandel susah dibilangin! Mama tahu kalo di luar sana kamu hampir tiap hari minum, ini baru segini lho Tuhan negur kamu! Kalo sampai keracunan beneran gimana coba? Apa kamu nggak pernah lihat kasus orang-orang keracunan setelah pesta miras?" Rima terus mengomel sambil meletakkan nampan itu di meja belajar Arash.

__ADS_1


"Itu miras oplosan! Aku mana ada minum oplosan begitu?" sanggah Arash.


"Sama aja! Tobat kamu, Rash! Kamu udah dewasa, udah baligh! Kalo kamu nakal terus, mama juga ikut berdosa, kalo kamu belum bisa berhenti, seenggaknya kurang-kurangin lah kegiatan geng motor kamu," nasehati Rima secara pararel.


Arash kehabisan tenaga untuk membantah. Rasa mual tiba-tiba naik lagi sampai ke tenggorokan sehingga dia pergi setengah berlari menuju kamar mandinya lalu muntah-muntah lagi di toiletnya.


Rima pun semakin cemas. Walaupun Rima adalah Mama yang suka ngomel dan kadang bersikap cuek, tapi tentu saja dia seperti ibu pada umumnya yang mengkhawatirkan keadaan anaknya.


Tak lama, Teguh datang dan masuk ke dalam kamar Arash. Mendapati istrinya hanya duduk di tepi kasur sambil menyaksikan Arash muntah-muntah di kamar mandi.


"Kita langsung ke dokter aja ya," kata Teguh ikut cemas dengan kondisi Arash.


"Nggak nggak! Nggak usah ke dokter!" sahut Arash dari kamar mandi.


"Papa takut kamu keracunan, sebelum lebih parah, kamu perlu cepat-cepat buat detoksifikasi, Rash."


"Nggak! Aku cuma butuh rehat aja, maybe seharian full," jawab Arash lalu berjalan lemas kembali ke kasur untuk meringkuk menikmati kesakitannya.


"Lihatlah, Mas! Begini lah anakmu! Susah diatur! Susah dibilangin, ngeyel aja bisanya," kata Rima dengan kekik.


"Mah, please ... Omelan mama malah bikin aku makin bad tau nggak?" protes Arash lagi dan lagi.


"Ya udah kamu bangun, cuci muka dan sarapan lah, paksakan walaupun cuma 2 suap," kata Teguh lebih perhatian daripada Rima.


"Orang lagi mual disuruh makan, ya nggak bisa lah Pah!"


"Nah kan? Begitu lah Arash, Mas." Rima masih bersikap apatis. Tapi di dalam hati dia sangat mencemaskan Arash.


"Jadi yang benar-benar kamu rasain sekarang gimana? Apa sama kayak masuk angin? Atau Maag?" tanya Teguh lalu berjalan lebih dekat pada tempat tidur Arash.


"Kayak masuk angin, tapi lebih berat! Kalo Maag, nggak tahu, aku belum pernah kena maag!" jawab Arash dan wajahnya sudah pucat pasi bagai mayat hidup.

__ADS_1


Teguh dan Rima saling berpandang, mereka tak tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi pada Arash. Apakah benar hanya sekedar masuk angin?


Keduanya tak tahu kalau Arash sedang mengalami couvade syndrome atas kehamilan gadis SMA yang telah digagahinya beberapa kali dalam sebuah pernikahan siri rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir anak-anak The Thunder saja.


__ADS_2