
Hari ini Nadira kembali ke sekolah. Banyak teman yang merindukan kehadirannya, terlebih Ami. Tapi tak sedikit juga yang tetap nyinyir, tapi Nadira tak peduli pada mereka yang nyinyir.
Jam pelajaran sudah habis, Nadira dan Ami bertemu di koridor dan mereka berjalan bersama. Mereka pergi ke lorong loker room untuk mengambil ponsel mereka sebelum pergi keluar gerbang sekolah.
"Yang lain mau pada nengokin ke rumah Kai, masa kamu nggak sih, Nad?" tanya Ami. Dia agak protes karena Nadira tak bisa ikut menyambangi rumah Kaizan bersama teman-teman yang lain.
"Nggak bisa, Mi. Aku titip salam aja yaa," kata Nadira. Nadira sudah terlanjur janji untuk menjaga Arash di Rumah sakit.
"Apa sih yang kamu sembunyikan dari aku, Nad? Kenapa kamu nggak cerita sejak awal soal Kak Arash, kenapa pas di warung pak Dharma kamu seolah nggak kenal sama Kak Arash padahal kalian udah jadian! Apa sih yang sebenarnya kamu sembunyiin? Jadi kamu udah nggak nganggap aku lagi? Gitu?" protes Ami. Ami memang belum diberi tahu detail hubungan Nadira dengan Arash. Nadira hanya bilang kalau dirinya dan Arash sedang dekat, itu saja.
"Mungkin nanti, Mi. Aku lagi nyari waktu yang pas buat cerita," kata Nadira dan sesampainya di loker miliknya, Nadira segera mengambil ponsel miliknya.
"Kapan? Nggak asyik ah kamu mah main rahasia-rahasiaan," keluh Ami.
Saat Nadira periksa, Arash sudah bawel tak sabaran. Arash terus menelpon dan mengiriminya pesan sampai belasan kali.
"Mi, aku duluan ya," pamit Nadira begitu saja.
"Eh, Nad?"
Ami ditinggal sendiri. Ami semakin gemas saja karena tetap tak berhasil mengorek informasi tentang Nadira dan Arash.
"Ada apa sih, Nad? Jangan-jangan hubungan kamu sama ketua Thunder itu udah sangat jauh! Duuh, jangan sampai deh, Nad! Kamu harus ingat kalau kamu nggak harus menyerahkan segalanya ke dia walaupun Kak Arash adalah cowok yang super duper keren! Duh, kok aku curiga yaa ...." gumam Ami dan dia menyaksikan Nadira pergi menjauh dari pandangannya.
Ami curiga kalau Nadira sudah menyerahkan segalanya pada Arash. Dan kecurigaannya itu adalah benar walaupun Ami tak tahu kalau hubungan Nadira dan Arash juga lebih dari sekedar berpacaran.
*
*
Nadira menepati janji. Saat menelpon tadi, Arash pesan nasi padang, Nadira pun membelikannya. Mungkin saja Arash jemu dengan menu Rumah Sakit yang terasa hambar dan boring.
Dan kali ini, di ruangan Arash sedang ada Rima. Nadira deg-degan tak karuan, sementara Rima memandang agak dingin terhadap Nadira.
"Ini Nadira, Mah. Pacar aku," kata Arash memperkenalkan dengan bangga. Nadira malah canggung dan segan.
"Oh," tanggapi Rima. Rima tak terlalu bersikap hangat pada Nadira.
__ADS_1
"Siang, tante ...." sapa Nadira lalu memberi salam hormat pada Rima.
Rima benar-benar meragukan Nadira. Saat ini yang Rima pikirkan adalah Vinara. Rima benar-benar tak mengerti kenapa Arash tiba-tiba memperkenalkan anak SMA sebagai pacarnya. Padahal Rima dan mamanya Vinara sudah memiliki rencana untuk menjodohkan Arash dan Vinara.
'Duuh, kok mamanya Kak Arash kayaknya kurang welcome ya ke aku?' batin Nadira menjadi semakin canggung.
"Nad, kamu beliin pesanan aku kan?"
"Ini, Kak."
"Buka dan suapin!" pinta Arash sangat manja. Nadira malah malu dengan Rima, tapi Rima masih bersikap dingin, terlebih Rima memandang Nadira sebagai gadis SMA nakal yang mencoba menggoda putranya.
"Mana boleh kamu makan itu, Rash? Makan lah makanan yang ada di tray!" tegur Rima.
"Ogah ah, nggak ada rasanya, nggak ada gurih-gurihnya!" tolak Arash.
Kriiing, ponsel Rima berdering, "Mama angkat telpon dulu," kata Rima lalu pergi ke luar ruangan meninggalkan Arash dan Nadira berdua saja di sana.
"Kok malah diam? Ayo bukain, terus suapin!" ingatkan Arash karena Nadira malah banyak diam.
"Malu ah, Kak Arash makan sendiri aja," tolak Nadira tapi dia membukakan kotak nasi padang itu, sudah dilengkapi dengan sendok di dalamnya.
"Iya iya ...." Tapi akhirnya Nadira pasrah dan bersedia untuk menyuapi Arash.
"Nggak pake sambel kan?"
"Nggak, sesuai pesanan kok, lauknya ayam pop pake kuah gulai tanpa daun singkong dan tanpa sambel!"
"Good."
Nadira menyendok nasi itu lalu menyuapi Arash dengan wajah cemberut karena perasaannya memang sedang tidak menentu, terlebih karena sikap Rima yang dingin dan judes terhadapnya.
"Kamu udah makan?" tanya Arash.
"Belum, cuma sempat jajan aja di kantin sekolah tadi."
"Ya udah, sekalian kamu makan juga, satu suap buat aku, satu suap buat kamu!" anjurkan Arash.
__ADS_1
"Nggak ah, nanti Kak Arash nggak akan kenyang."
"Aku makan dikit kok, itu kan nasinya kamu pilih yang porsi kuli."
"Udah, Kak Arash aja makan dulu sampai kenyang. Aaaa ...." Nadira menyendok suapan kedua dan mendekatkan sendok itu pada Arash.
"Nggak, sekarang giliran kamu ... Makan lah!" Tapi Arash membelokkan sendok itu ke arah mulut Nadira dan mau tak mau Nadira pun memakan suapan kedua.
Arash menatap Nadira yang sedang mengunyah makanan, dalam keadaan apa pun, Nadira tetap terlihat charming dan menggemaskan.
"Kebanyakan ah," gumam Nadira yang agak kesulitan mengunyah karena suapannya terlalu besar.
"Ini pipi apa moci sih, kok gemoy banget jadi pengen gigit," goda Arash lalu mencubit pipi Nadira yang sedang mengunyah.
"Iih, Kak Arash ...." Nadira menghindar lalu dia balas dendam dengan menyuapi Arash lagi dengan suapan yang penuh sehingga Arash juga agak kesulitan untuk mengunyah.
"Hey, rahangku masih sakit! Nggak kira-kira nyuapin kayak suapan tukang beca!" gerutu Arash.
Melihat Arash menggerutu, kali ini Nadira malah terkekeh menertawakan. Karena Nadira memang lapar, Nadira juga selang seling menyuapi dirinya sendiri dengan suapan kecil sehingga bisa lebih menikmati makanan mereka.
"Diih, makannya sok imut banget kayak putri keraton aja!" cibir Arash. Kelakar kelakar kecil itu perlahan telah menciptakan situasi yang lebih manis di antara Arash dan Nadira.
Kenangan buruk Nadira bersama Arash perlahan pudar di benak Nadira. Nadira hanya bisa berharap kalau tak akan ada lagi lelaki yang akan menyentuhnya selain Arash. Nadira sangat berharap kalau Arash akan semakin serius agar kelak dia tak perlu mencari lelaki lain lagi yang bisa dan sudi menerima dirinya dengan apa adanya.
"Aku emang imut kok ...." sahut Nadira dan acara menyuapi bayi besar terus berlanjut.
Rima masuk kembali ke dalam ruangan dan tetap memajang mimik wajah yang dingin, apa lagi saat melihat Arash dan Nadira yang bercanda-bercanda sambil makan bersama.
"Eh ..." Nadira langsung menjaga sikap begitu melihat Rima muncul.
"Mama mau jemput papa ke Bandara, nggak apa-apa kan mama tinggal dulu?" kata Rima lalu mengambil tasnya dari sofa tunggu.
"Papa udah sampai?" tanya Arash.
"Udah."
"Oh ya udah."
__ADS_1
"Mama tinggal dulu." Pamit Rima dan tanpa basa-basi pada Nadira, Rima pergi membuat perasaan Nadira semakin tak menentu. Nadira merasa kalau Rima memang tak menyukai dirinya.